Empat Kisah Unik dan Kontroversial Jerman di Final Piala Dunia

Rudi Voeller, Andreas Brehme, Juergen Kohler, Bodo Illgner and Juergen Klinsmann of Germany celebrate their defeat of Argentina in the 1990 FIFA World Cup Final on 8 July 1990 at the Olimpico Stadium in Rome, Italy. The match resulted in a 1-0 victory for Germany.(Photo by David Cannon/Getty Images)

Tim nasional Jerman, tak dipungkiri lagi, merupakan salah satu kekuatan terbesar di dunia persepakbolaan. Di dalam setiap kompetisi resmi, baik di Eropa maupun dunia, Jerman sering masuk hitungan sebagai calon juara. Julukan sebagai tim spesialis turnamen begitu melekat pada die mannschaft. Mereka bisa saja tampil tidak terlalu meyakinkan di babak kualifikasi, tetapi begitu masuk turnamen yang sesungguhnya, (seringkali) mereka tak terbendung oleh lawan-lawannya.

Delapan kali masuk ke final Piala Dunia, empat di antaranya berujung sebagai juara dan tiga kali juara Eropa serta tiga kali menjadi runner-up menjadi bukti sahih tangguhnya (dan konsistennya) tim nasional Jerman. Namun, terlepas dari kehebatan permainan mereka, tim nasional Jerman juga memiliki sejumlah kisah unik dan kontroversial yang mewarnai perjalanan mereka di laga final Piala Dunia. Berikut beberapa kisahnya:

1. Piala Dunia 2014 – bisikan maut dan Kramer yang linglung

Hidup tak seindah dan semudah omongan para motivator. Namun, setidaknya (atau untungnya), bisikan motivasi dari Joachim Löw kepada Mario Götze berbuah sesuatu yang sangat indah. Well, indah bagi fans Jerman tentu saja.

“Tunjukkan kepada dunia bahwa kamu lebih baik daripada Messi dan kamu mampu membuat perbedaan di dalam pertandingan ini.” Begitu kira-kira suntikan motivasi dari sang pelatih kepada sang pemain. Dan pada menit ke-113, meneruskan umpan Schürrle, Götze berhasil mencetak sebuah gol yang sudah cukup untuk menghantarkan Jerman kembali ke puncak tertinggi sepak bola dunia.

 Photograph: Shaun Botterill/FIFA via Getty Images
Photograph: Shaun Botterill/FIFA via Getty Images

Jika Götze mengalami momen kejayaan di laga pamungkas ini, tak begitu halnya dengan Christoph Kramer. Pemain tengah ini mengalami benturan keras di kepala dengan Ezequiel Garay. Sesaat setelah kejadian tersebut, Kramer mendatangi wasit dan bertanya, “Apakah ini benar pertandingan final?” Rizzoli sempat menganggap Kramer sedang bercanda. Namun Kramer terus meminta konfirmasi dari Rizzoli. Dan ketika akhirnya Rizzoli mengiyakan, Kramer berujar, “Terima kasih, penting bagi saya mengetahui hal tersebut.” Sekitar 14 menit kemudian, ia pun ditarik keluar oleh Löw.

2. Piala Dunia 1990 – ketika kandidat ketiga menjadi penentu

Pertemuan Jerman dan Argentina di Roma merupakan sebuah keunikan tersendiri. Itu adalah kali pertama, dua tim melaju ke final pada dua kesempatan berturut-turut. Tahun 1986 dan tahun 1990. Namun sayang, final tahun 1990 termasuk salah satu pertandingan puncak yang anti-klimaks. Argentina bermain terlalu defensif dan keras, bahkan menjurus kasar.

Jerman, meski menguasai pertandingan, namun tak kunjung berhasil menciptakan gol. Sampai akhirnya, memasuki menit ke-85, Rudi Völler dijatuhkan di dalam kotak pinalti. Wasit asal Meksiko, Edgardo Codesal Mendez segera memberikan hadiah pinalti bagi Jerman. Para pemain Argentina melayangkan protes keras selama beberapa waktu kemudian. Di tengah kondisi yang memanas tersebut, Andreas Brehme dengan penuh keyakinan merasa siap mengeksekusi kesempatan emas itu.

© Popper Foto
© Popper Foto

Sebenarnya pada pertandingan tersebut, Brehme bukanlah kandidat utama yang disiapkan sebagai penendang penalti. Ada Rudi Völler. Namun menurut Brehme, pemain yang dilanggar sebaiknya tidak mengambil tendangan penalti. Bahkan pilihan pertama sebenarnya adalah Lothar Matthäus. Tapi pemain yang satu ini tidak merasa terlalu nyaman dengan sepatu yang digunakannya. Ia mengganti sepatunya waktu istirahat. Secara psikologis, Brehme-lah yang paling siap.

BACA JUGA:  Anginlah yang Membuat Lars Stindl Menjadi Anomali

Völler sempat berbisik kepadanya, “Jika kamu mencetak gol, kita akan menjadi juara dunia.” Andreas Brehme menjawabnya singkat, menyiratkan kepercayaan diri yang tinggi, “Terima kasih, saya akan ingat itu.” Lalu dengan sepakan kaki kanan yang terukur, ia berhasil menyarangkan bola ke dalam gawang. Sergio Goycochea tak mampu membendungnya.

3. Piala Dunia 1974 – misteri pool party, mind trick Beckenbauer dan diving Hölzenbein

Tabloid Bild Zeitung memainkan perannya dengan membuat kontroversi di tengah persiapan tim nasional Belanda melakoni laga final kontra Jerman Barat. Mereka mengeluarkan headline sensasional: “Cruyff, Champagne and Naked Girls”. Diberitakan bahwa ada empat pemain Belanda dan dua perempuan Jerman yang terlibat dalam naked pool party di Hotel Wald, beberapa saat sebelum pertandingan versus Brasil.

Sampai hari ini, tak pernah ada kepastian apakah kisah ini sungguh terjadi atau tidak. Namun kisah sensasional tersebut cukup berpengaruh terhadap persiapan tim Belanda jelang final. Rinus Michels mengecam langkah Bild Zeitung yang dianggapnya merupakan bagian dari serangan psikologis kepada para pemainnya. Sang bintang, Cruyff, bahkan sampai kurang tidur karena harus meladeni percakapan telepon dengan istrinya yang gusar dan marah setelah membaca artikel di Bild Zeitung.

Permainan psikologis tak hanya terjadi di luar lapangan. Di dalam pertandingan, giliran Beckenbauer yang melancarkan mind trick. Kali ini ditujukan kepada sang wasit, Jack Taylor. Taylor menghadiahkan Belanda tendangan penalti setelah Cruyff dijatuhkan Uli Hoeness. Sebuah keputusan yang sepenuhnya benar. Namun, Beckenbauer tak tinggal diam melihat kondisi ini. Ia mendekati wasit sambil berkata, “Ya tentu saja, kamu adalah orang Inggris.” Seolah-olah ia hendak mengatakan bahwa wasit sedang berlaku tidak fair terhadap timnya karena relasi sejarah yang tidak baik antara Inggris dan jerman.

“Serangan” ini tampak berhasil. Pada menit ke-24, giliran Jerman Barat yang diberi hadiah tendangan penalti. Keputusan dibuat Taylor setelah Bernd Hölzenbein dilanggar Wim Jansen. Taylor mengakui di kemudian hari bahwa keputusan penalti untuk Jerman bukanlah keputusan yang sepenuhnya tepat. Hölzenbein melakukan diving. Beckenbauer pun membenarkan hal ini. Wim memang melakukan tackling yang tidak sempurna, namun Hölzenbein berpikir cepat untuk memanfaatkan situasi dengan menjatuhkan diri.

“Ia memang memiliki keahlian dalam hal itu. Sebelum piala dunia, Hölzenbein mengandaskan Bayern München di cup semifinal juga melalui diving.“ Begitu komentar der kaiser. Paul Breitner melakukan eksekusi penalti dengan baik untuk menyamakan kedudukan dan akhirnya der bomber, Gerd Müller mencetak gol kemenangan Jerman Barat pada menit 43.

Photograph: Empics/Wilfried Witters Empics
Photograph: Empics/Wilfried Witters Empics

4. Piala Dunia 1954 – Hujan Deras, Removable Studs dan Dugaan Doping

BACA JUGA:  Alexis Mac Allister: Gelandang Lincah Argentina Berdarah Irlandia

The miracle of Berne. Ya, bagaimana tidak final tahun 1954 terus dikenang sebagai sebuah keajaiban bagi Jerman. Hadir di final sebagai underdog, mereka mampu mengalahkan tim terbaik dunia saat itu, Hungaria. Sebuah tim yang sebelum pertandingan ini tak terkalahkan selama 36 kali. Kedua tim sempat bertemu di babak penyisihan dan Jerman Barat dihajar 8-3 di pertandingan itu. Banyak orang berpikir tak mungkin Jerman mampu menang di final. Kisah heroik Jerman Barat menjadi semakin dramatis karena sebelum akhirnya unggul, Jerman sempat tertinggal 2-0 terlebih dahulu melalui gol cepat Puskas dan Czibor.

© Getty Images
© Getty Images

Tidak hanya kemenangan Jerman Barat atas Hungaria yang menjadi keajaiban pada tanggal 4 Juli 1954 tersebut. Turunnya hujan di musim panas juga dapat dikatakan sebagai sebuah keajaiban. Dan bagi Fritz Walter, hujan deras punya makna tersendiri. Konon kabarnya, Fritz selalu bermain lebih bagus pada kondisi hujan ketimbang panas. Semenjak Walter menderita malaria pada era perang, ia sering tampak kepayahan tampil optimal di kondisi panas. Beberapa jam sebelum pertandingan, ketika hujan lebat membasahi Berne, Fritz Walter menghembuskan optimisme di dalam dirinya, “Now nothing can go wrong.”

Kondisi lapangan pun menjadi agak berlumpur akibat hujan. Dan di sinilah terdapat salah satu bukti betapa rincinya Jerman dalam mempersiapkan diri menjelang pertandingan. Adalah seseorang bernama Adi Dassler yang sudah menjadi supplier sepatu Adidas untuk tim nasional Jerman selama beberapa tahun. Secara khusus, dalam menghadapi piala dunia 1954, Adi memperkenalkan sebuah inovasi baru: removable studs. Studs pada sepatu pemain Jerman Barat dapat diganti-ganti sesuai kebutuhan. Dan dalam kondisi “Fritz Walter Weather” seperti di final, pemain menggunakan studs yang lebih panjang. Sudah menjadi kebiasaan bagi Adi dan Sepp Herberger, pelatih Jerman, untuk melakukan inspeksi terhadap kondisi lapangan yang akan digunakan, beberapa minggu sebelum pertandingan digelar.

Mungkin karena kemenangan Jerman terasa begitu sulit untuk diterima begitu saja oleh akal sehat, isu negatif kemudian sempat menyeruak, menyatakan bahwa para pemain tim nasional Jerman menggunakan doping. Puskas, dalam sebuah wawancara sempat mengatakan bahwa jatuh sakitnya beberapa punggawa Jerman dua bulan setelah final, seperti Rahn, Walter bersaudara, Morlock dan Mai adalah bukti bahwa pemain Jerman mendapatkan injeksi doping sebelum final. Namun, hingga saat ini, hal tersebut tidak pernah terbukti.

Lagipula, keajaiban bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi di lapangan hijau. Sebagaimana biasa disampaikan Sepp Herberger, “Der Ball ist rund. Bola itu bundar.” Segala sesuatu bisa terjadi dalam 90 menit. Bahkan, dalam konteks kemenangan di final 1954, sepak bola bisa membawa keajaiban yang jauh lebih besar. Bangsa Jerman seperti mendapat spirit baru dalam menatap masa depan yang lebih baik pasca-kekacauan di era perang. Wir sind wieder wer. We are somebody again.

 

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz