Feminisme Sepak Bola

Perhelatan Piala Dunia Wanita 2015 saat ini sedang diselenggarakan di Kanada. Tahun ini merupakan penyelenggaraan Piala Dunia Wanita ketujuh semenjak pertama kali dihelat tahun 1991 lalu. Berbeda seperti halnya Piala Dunia laki-laki di mana negara-negara adidaya sepak bola seperti Brasil, Argentina, Italia dan Jerman sangat diunggulkan, turnamen yang penyelenggaraan pertamanya dilakukan di Tiongkok ini selalu menempatkan Amerika Serikat di daftar unggulan teratas. Hal ini tak lepas dari status negeri Paman Sam tersebut yang merupakan dua kali juara dunia, sama dengan perolehan Jerman.

Sepak bola perempuan, barangkali, adalah hal yang masih terasa aneh di Indonesia. Perempuan yang memainkan sepak bola amat sering dicap tomboy. Padahal jika kita mau membuka kanal Youtube lantas melihat bagaimana Anja Mittag dari Jerman, Eugenie Le Sommer dan Louisa Necib dari Prancis atau bahkan Marta dari Brasil, maka kita akan terbelalak lantas merasa malu. Sebab sebagai laki-laki yang mengaku gemar memainkan sepak bola, kita tak punya kemampuan mengolah bola sebaik mereka. Sementara di luar lapangan, pemain-pemain ini tetap mampu tampil anggun dan feminin.

Banyak dari kita yang memiliki memori dan bahkan pemahaman bahwa sepak bola adalah permainan yang sangat menuntut fisik, sebagaimana yang dipertontonkan Roy Keane, Gennaro Gattuso dan Dave Mackay. Ungkapan “kalau gak mau main fisik jangan main bola, main catur aja”, amat sering didengar ketika ada seorang pemain mengeluh akibat dilanggar bertubi-tubi oleh pemain lawan. Namun, sepak bola bukan hanya masalah kemampuan fisik. Lebih dari itu sepak bola juga membutuhkan skill, teknik dan yang paling penting pemahaman taktik.

Benarkah pesepak bola wanita tak mampu bermain dengan intensitas fisik yang sama dengan laki-laki?

Menyamakan kemampuan fisik dengan kekuatan adalah sebuah kesalahan. Kemampuan fisik terbagi menjadi lima komponen utama, yaitu kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelincahan dan daya tahan. Dari kelima komponen ini, daya tahan adalah komponen paling penting. Per definisi daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kerja secara berulang. Nah, sekarang bayangkan ada pemain yang sangat cepat, tapi baru dua atau tiga kali sprint sudah lelah, atau pemain yang sangat lincah tetapi baru 4-5 kali berhasil melepaskan diri dari kawalan musuh sudah lemas.

BACA JUGA:  Protein: Fondasi Atlet Mengarungi Musim Kompetisi

Sebuah penelitian berjudul Physical and technical activity of soccer player in the French First League – with spesial reference to their playing position yang melibatkan 3540 pesepak bola profesional selama musim 2005-2006 mengungkapkan hasil sebagai berikut:

data-agi

Untuk mampu secara konsisten mencapai jarak tempuh seperti di atas, perlu Vo2max lebih dari 60 ml/kg/menit.

Dalam sebuah pertemuan UEFA Football Medicine tahun 2009, Dr. Schneider yang merupakan Kepala Bidang Sains dan Teknologi Sepak Bola Jerman pernah mengungkapkan bahwa tim nasional wanita Jerman rata-rata menempuh 10.507 meter per 90 menit pertandingan. Jarak tempuh terjauh dilakukan oleh pemain yang berposisi sebagai gelandang dengan rata-rata 11.784 meter. Angka ini tak jauh berbeda dengan data jarak tempuh sepak bola laki-laki.

Melalui perbandingan kedua data tadi, pernyataan yang menganggap bahwa sepak bola adalah permainan untuk laki-laki karena membutuhkan kemampuan fisik, jelas dapat dibantah. Lha wong dari data tadi kemampuan fisik kedua jenis kelamin ini tak ditemukan perbedaan signifikan.

Lantas apa yang berbeda?

Kita tidak bisa menyangkal bahwa setiap makhluk hidup adalah produk evolusi. Manusia melakukan berbagai macam penyesuaian sesuai dengan kondisi alam. Dalam hal perempuan dan laki-laki, ada hal yang hanya bisa dikerjakan oleh perempuan saja, demikian pula sebaliknya. Hal tersebut misalnya adalah mengandung bayi dan melahirkan. Kodrat perempuan sebagai orang yang harus mengandung bayi, membuat mereka memiliki ukuran panggul yang lebih lebar dibanding laki-laki.

Ukuran panggul yang lebih lebar memiliki konsekuensi berupa sudut yang dibentuk oleh sendi panggul, tulang paha dan lutut lebih besar daripada laki-laki. Sendi panggul dan sendi lutut adalah weight-bearing joint (sendi penopang berat badan tubuh) yang penting untuk stabilisasi gerakan. Semakin lebar sudut sendi, semakin tidak stabil gerakan yang dihasilkan, oleh karena itu lebih rentan mengalami cedera. Teori ini menopang pernyataan Dr. Schneider yang menyatakan bahwa pesepak bola perempuan lebih rentan mengalami cedera lutut.

BACA JUGA:  Menentang Opini Arsene Wenger
Perbedaan sudut Q perempuan dan laki-laki.
Perbedaan sudut Q perempuan dan laki-laki.

Selain mengandung dan melahirkan, hal yang berbeda antara perempuan dan laki-laki adalah adanya menstruasi. Menstruasi adalah hasil dari kerja hormon Estrogen dan Progesteron. Untuk dapat memiliki pola hormon Estrogen dan Progesteron yang normal, perempuan butuh kadar lemak yang sesuai. Perempuan biasa memiliki kadar lemak sekitar 25-31%, sementara atlet perempuan biasanya memiliki kadar lemak yang rendah berkisar antara 14-20%. Kadar lemak yang rendah mengakibatkan gangguan pada sintesis hormon Estrogen dan Progesteron yang berujung pada gangguan menstruasi. Padahal, menstruasi ini sangat berkaitan dengan kesuburan perempuan. Adanya gangguan pada menstruasi sangat mungkin mengakibatkan kegagalan perempuan dalam menghasilkan keturunan.

Nah, dari penjelasan di atas dikotomi sepak bola sebagai olahraga milik kaum laki-laki jelas terbantahkan. Hanya saja perempuan, karena kodratnya, memang lebih rentan mengalami cedera lutut dan gangguan menstruasi dibanding laki-laki. Namun, saya rasa para pesepak bola perempuan bukannya tak sadar dengan risiko-risiko itu. Hanya saja, barangkali, seperti kutipan yang pernah saya baca “Everytime I step onto the pitch, all my troubles go away. The only thing that matters on the field is the beautiful game”.

 

Komentar