Gegenpressing: Dalam Teori dan Latihan

Kenapa memainkan gegenpressing memberikan keuntungan strategis dan taktis? Apa logika di balik teori ini? Dan, yang terpenting, bagaimana melatihnya?

Sejarah singkat

Gegenpressing adalah pressing kolektif tepat ketika tim menyerang kehilangan penguasaan bola. Tujuannya ada 2, yaitu, (1) Merebut kembali penguasaan bola secepatnya atau (2) Mengacaukan skema serangan balik lawan.

Dikenal sebagai counterpressing dalam bahasa Inggris. Strategi ini mendadak populer pasca-keberhasilan Jurgen Klopp menjuarai Bundesliga 1 bersama Borussia Dortmund 2010/2011. Kesuksesan Klopp membuat banyak media menyebutnya sebagai pencipta gegenpressing.

Namun, sebetulnya, gegenpressing telah ada sejak lama sebelum era Klopp. Yang paling dekat adalah Barcelona Pep Guardiola 2008/2009 dengan peraturan 6 detiknya. Selain itu, ada Jurgen Klinsmann – pelatih Jerman Piala Dunia 2006 yang berujar tentang immediate-recovery (merebut bola kembali dengan segera) setelah kehilangan penguasaan bola.

Mundur lebih jauh ke belakang, ada Rinus Michels dan Belanda 1970-an yang memomulerkan press blok tinggi dan gegenpressing. Khalayak menamainya totaalvoetbal, tetapi Michels sendiri sering menyebutnya pressingvoetbal.

Kenapa gegenpressing?

Dengan asumsi serangan masuk ke sepertiga akhir, ada 2 alternatif yang diambil oleh tim menyerang yang kehilangan penguasaan bola, yaitu:

  1. Bergerak turun untuk membangun formasi (recovery formasi) bertahan blok rendah di sepertiga awal; atau
  2. Segera turun ke sepertiga tengah dengan menempatkan sebanyak mungkin pemain di belakang bola (man behind ball) untuk kemudian turun ke sepertiga awal.

Dua alternatif ini dilakukan dengan tujuan untuk membentengi diri di sepertiga tengah dan sepertiga awal. Selain Jose Mourinho, strategi serupa juga terkadang terlihat dalam permainan bertahan Real Madrid era Zinedine Zidane.

Keterbatasan dari 2 alternatif ini -apalagi bila dilakukan tanpa intensitas dan komunikasi yang tepat- adalah lawan memiliki cukup waktu untuk mengorganisasi ulang permainan dan, bila memungkinkan, meluncurkan serangan balik cepat.

Gegenpressing, berbeda. Ia merupakan strategi bertahan yang proaktif. Dengan gegenpressing:

  1. 1-2 pemain terdekat segera melakukan press kepada pemain lawan pemegang bola;
  2. Pemain-pemain lain berorientasi kepada ruang atau lawan yang mungkin diakses si pemegang bola; dan

Pemain-pemain belakang berjaga terhadap kemungkinan deep pass (umpan dari lini belakang ke lini penyerang) lawan.

1. Gegenpressing tim merah setelah umpan 5 merah dipotong oleh 8 putih.

 

Banyak yang berpendapat bahwa gegenpressing rawan mengekspos pertahanan. Pernyataan ini benar bila gegenpress tidak dilakukan secara kolektif. Tetapi, ketika dipraktikan dengan tepat, gegenpressing justru akan meningkatkan kestabilan pertahanan.

Karena, sejak dini, Anda mencegah ancaman serangan balik. Selain itu, Anda juga merusak struktur build-up yang diinginkan lawan.

Dalam serangan balik cepat, pemain-pemain lawan segera berorientasi ke area depan. Jika dalam situasi ini pemain Anda berhasil segera merebut kembali penguasaan bola, Anda mendapatkan banyak keuntungan:

  1. Pemain lawan “keluar dari posisinya”;
  2. Pemain lawan masih dalam mentalitas menyerang; dan
  3. Jarak ke gawang lawan lebih pendek.

Pendapat lain tentang gegenpressing adalah, gegenpressing menghabiskan stamina lebih cepat.

Bisa iya, bisa tidak. Karena, kehabisan stamina tidak hanya ditentukan oleh intensitas pressing, tetapi juga kepadatan jadwal bertanding, emosi negatif dalam pertandingan, dan volume serta intensitas latihan.

Satu yang pasti, dengan gegenpressing, Anda memainkan pertahanan proaktif. Gegenpressing dengan kolektivitas yang ideal, membuat lawan:

  1. Membuang bola jauh ke depan dan Anda mendapatkan recovery bola;
  2. Membuang bola keluar lapangan dan Anda mendapatkan lemparan ke dalam; atau
  3. Kehilangan bola di sepertiga sendiri dan membuat jarak Anda ke gawang lawan lebih pendek.

Struktur posisional yang ideal dan keberhasilan mengamankan area tengah serta half-space merupakan kunci sukses gegenpressing. Tim yang mampu membangun struktur posisional dengan spacing dan compactness bagus, memiliki kemungkinan tinggi untuk segera me-recovery bola.

Seperti yang ditunjukan dalam infografik terakhir, gegenpressing tim merah didukung oleh jarak antarpemain yang berdekatan serta jarak yang terjaga ke lawan. Kedekatan jarak memudahkan merah mengembangkan akses pressing kepada lawan dan bola, sekaligus akses ke rekan satu tim.

Perhatikan potongan video tim asuhan Martin Rafelt di liga amatir U15 berikut ini.

Tepat setelah kehilangan penguasaan bola, 2 pemain putih segera merapat ke tengah untuk memberikan pressure kepada pemain yang membawa bola. Hasilnya, terjadi salah umpan dan bek tim putih me-recovery bola di lini belakang.

Tipe-tipe gegenpressing

Dilihat dari durasi press, ada gegenpress yang dilakukan di bawah 6 detik (Pep dan Roger Schmidt, contohnya). Selain itu, ada gegenpress yang dilakukan lebih dari 6 detik (AS Roma ketika menang 2-0 atas Lazio 2015/2016).

Dan, ada gegenpress yang mana pemain lawan pemegang bola diberikan half press, dengan tujuan untuk memberikan kesempatan rekan setim kembali ke posisi bertahan yang direncanakan (Arrigo Sacchi).

BACA JUGA:  Pemanasan Sebagai Bagian Utuh dan Terpadu dari Latihan

Schmidt disebut menggunakan stop watch dalam latihan untuk memastikan intensitas dan struktur press dilatih sesuai harapan. Pelatih bisa mengadaptasikan ide ini atau tidak. Yang perlu dipahami, peraturan 5 atau 6 detik bukan peraturan kaku yang harus ditaati dan dijalankan di dalam semua situasi.

Ada saatnya, lebih baik memainkan half press seperti Sacchi. Ada saatnya melakukan press intens 5-6 detik atau lebih. Bahkan, Barcelona Pep yang berasaskan peraturan 6 detik pun tidak selalu melakukannya dalam semua situasi. Ada saatnya, pemain-pemain Barca yang terdekat dari pemegang bola memilih “ala Sacchi”.

Tipe gegenpressing dinilai dari orientasi dibagi menjadi 4:

  1. Ball-oriented. Contoh: Belanda 1970-an, Ajax Amsterdam-Peter Bosz, dan Adi Hutter di Young Boys.
  2. Man-oriented Contoh: FC Bayern-Jupp Heynckess.
  3. Leewayoriented. Contoh: Borussia Dortmund-Jurgen Klopp.

Passinglane oriented. Contoh, Barcelona-Pep Guardiola dan Dortmund-Thomas Tuchel.

Bagaimana melatih gegenpressing?

Prinsip dasar melatih gegenpressing adalah, pertama-tama, pastikan para pemain Anda memiliki pemahaman sepakbola yang memadai.

Pastikan pemain:

  1. Paham model permainan dan bagaimana berkomunikasi;
  2. Paham spacing – mana ruang-ruang strategis pada saat menguasai bola maupun tidak, compactness (kerapatan), akses, posisi tubuh, dan semua prinsip dasar;
  3. Mendapatkan motivasi yang tepat; dan
  4. Mendapatkan bentuk latihan yang sesuai.

Dalam melatih dan memainkan gegenpressing, pastikan pemain tidak bergerak turun terlalu cepat. Saya sering menemukan pemain yang terlalu cepat turun tanpa memahami relevansinya dengan model permainan.

Pemain yang terlalu cepat turun ke belakang tanpa pemahaman ruang dan komunikasi taktik yang tepat sama saja menghadiahkan ruang bagi lawan. Efeknya, akses pressing menjadi buruk, menyebabkan usaha merebut kembali penguasaan bola semakin sulit.

2. Serangan balik tim putih

 

Setelah 8 putih memotong umpan 5 merah, struktur posisi merah tidak mencerminkan komunikasi yang pas dan menyebabkan kegagalan okupansi ruang yang tepat. Akibatnya, putih dapat segera mengakses sepertiga tengah merah untuk kemudian berakselerasi ke sepertiga akhir.

Selain model permainan dan pengetahuan sepakbola, memberikan informasi spesifik tentang kegunaan gegenpressing dapat memberikan semangat tambahan bagi pemain. Bagaimana cara meyakinkan pemain akan keuntungan yang didapatkan dengan memainkan gegenpress, pada akhirnya, akan membuat pemain memiliki alasan dan tujuan untuk melakukannya.

Di dalam latihan, pelatih perlu memberikan stimulus yang tepat untuk membantu pemain mengakuisisi apa yang mereka pelajari. Secara garis besar, kita mengenal 3 stimulus, yaitu stimulus visual, suara, dan taktil.

Dari ketiganya, stimulus taktil menghasilkan respon paling cepat. Stimulus visual menghasilkan reaksi paling lambat. Stimulus suara sendiri berada di tengah-tengah.

Dalam latihan, tentu saja, stimulus taktil sangat sulit untuk dapat dipraktikan dengan ideal. Anda hanya bisa mengandalkan stimulus visual dan suara.

Instruksi yang mudah dipahami merupakan bagian dari stimulus suara. Komando seperti “sekarang”, “kejar”, atau “press”, dapat Anda gunakan sebagai stimulus. Terutama dalam tahap belajar, stimulus suara merupakan elemen penting yang membantu pemain memahami apa yang mereka pelajari. Dengan stimulus suara, seorang pelatih ikut mendorong pemain bergerak:

  1. Di saat yang tepat;
  2. Ke ruang yang tepat; dan
  3. Proaktif sesuai komunikasi taktik.

Yang terakhir, pelatih sendiri harus memahami bahwa gegenpressing bukan sekadar mengandalkan fisik, tetapi juga antisipasi dan respon -terhadap dinamika situasi- yang merupakan bagian dari kemampuan berpikir.

Christoph Kramer, Oliver Kirch, atau Sergio Busquets, contohnya. Mereka bukan pemain “cepat”, tetapi ketiganya sering membuat interception dan recovery bola yang seakan-akan disebabkan oleh sprint yang cepat. Padahal tidak sesederhana itu.

Apa rahasianya? Pemahaman untuk menentukan orientasi berdasarkan kajian posisional, memilih momen dan waktu (timing), arah aksi, dan persegeraan (kecepatan) gerak.

Gegenpressing dalam latihan

Pentingnya melatih gegenpressing adalah membiasakan pemain untuk melakukan transisi mental dengan segera, dari mental menyerang ke mental bertahan. Klopp menyebut latihan sebagai media untuk mendapatkan ritme pressing.

Pendekatan latihan holistik merupakan pendekatan yang logis digunakan dalam latihan. Melalui pendekatan holistik, pemain bisa sekaligus melatih taktik, teknik, stamina, kognitif, kinestetik, dan semua yang mungkin diakuisisi dari sebuah latihan.

Melatih gegenpressing dapat dilakukan baik dalam bentuk small sided-game maupun lapangan besar. Seperti yang dijelaskan di atas, pemahaman ruang dan posisi merupakan elemen penting. Karenanya, pastikan Anda bekali pemain dengan pengetahuan posisional yang memadai.

Dalam lapangan kecil, tentu saja, intensitas latihan menjadi tinggi. Karena, banyak duel langsung yang dilakukan dalam lapangan kecil – 15 x 9 m2, misalnya. Anda juga dapat melatihnya di lapangan yang lebih besar – 55 x 35 m2, misalnya.

Bedanya, dalam lapangan kecil, latihan lebih terfokuskan ke taktik, otak, dan kemampuan ketahanan tekanan. Di lapangan lebih besar, walaupun akuisisi terhadap aspek-aspek serupa masih sangat mungkin dilakukan, aspek atletik dan stamina, secara otomatis, terlatih lebih banyak.

BACA JUGA:  Juergen Klopp, Kick and Rush, Gegenpressing dan Efisiensi Permainan Liverpool
3. Latihan 4v2+1.

 

Latihan 4v2+1 dengan dua gawang kecil merupakan contoh small sided game. Tim merah memainkan umpan sampai jumlah tertentu untuk memeroleh 1 poin.

Kuning 1 dan 2 harus merebut bola. Bila berhasil, kuning mendapatkan poin dan boleh mencetak gol ke gawang kecil, tetapi harus didahului dengan umpan kepada kuning 3. Khusus kuning 3, ia hanya diperbolehkan menyentuh bola sebanyak 1 kali. Gol menghasilkan 1 poin.

Ketika merah kehilangan bola, semua pemain harus segera melakukan press. Bila berhasil me-recovery bola, tim merah mendapatkan 5 poin.

Variasi lain dari latihan ini adalah 4v2 dan memindahkan kedua gawang ke sisi lebar dan sisi panjang yang berdekatan. Jumlah poin, durasi bermain-beristirahat disesuaikan dengan kebutuhan.

Small-sided game lain adalah [4v4]+3 yang merupakan salah satu latihan yang paling sering dimainkan oleh Pep. Selain melatih pemain mempertahankan kelebaran (witdh) dan kedalaman (depth) dan melatih ketahanan tekanan dalam ruang sesak, juga dapat digunakan untuk melatih antisipasi dan respon pressing.

4. Latihan 4v4+3 Pep Guardiola

 

Merah – dibantu hijau – mensirkulasi bola sampai waktu yang ditentukan (2 poin). Kuning harus merebut penguasaan bola. Hijau bertindak sebagai tim netral. Bergantung kemampuan pemain dan orientasi latihan, batasan sentuhan dapat diterapkan kepada hijau.

Bila sukses merebut bola, kuning mendapatkan 1 poin, bila gagal samapi waktu yang ditentukan mendapatkan potongan -1. Sebaliknya, bagi merah, ketika bola direbut, semua pemain merah harus segera melakukan press untuk merebut kembali bola (6 poin). Bila gagal me-recovery bola, kuning menjadi pemilik bola dan merah menjadi pemburu bola.

Mengikut sertakan kiper dan gawang besar juga dapat Anda praktikan. Permainan dilakukan di lapangan berukuran 15-22 x 20-28 m2, bergantung kebutuhan dan kemampuan pemain. Peraturan off-side bisa dipertimbangkan (garis abu-abu dalam infografis di bawah).

5. Latihan 5v3+3 dengan kiper

 

Kuning menguasai bola dan memainkan sejumlah umpan sebelum diizinkan mencetak gol ke gawang besar. Tidak ada batasan sentuhan dan tidak boleh memainkan umpan di antara 2 pemain yang sama. Tepat setelah umpan terakhir dilepaskan, 2 pemain merah masuk ke dalam lapangan, berusaha  merebut bola, dan mencetak gol ke gawang kecil. Bila merah berhasil merebut bola, kuning harus melakukan press secepatnya.

Perolehan poin untuk pencapaian jumlah minimal umpan, gol, dan recovery bola sebaiknya dibedakan. Bobot poin ditentukan berdasarkan kebutuhan spesifik latihan. Karena latihan ini ditujukan secara spesifik untuk melatih gegenpressing, bobot nilai tertinggi dialokasikan untuk keberhasilan recovery bola segera.

Setelah terjadi gol atau bola keluar lapangan, pastikan bola dimainkan secepatnya kepada pemain kuning. Ini untuk mencegah jeda terlalu lama dalam satu set.

Opsi latihan lain adalah [7v4 (4v2)]. Latihan ini masih berupa konsep dan belum saya praktikan. Bentuk latihan terinspirasi dari tulisan Rene Maric tentang latihan Red Bull Salzburg U-18.

6. Latihan 7v4-4v2

 

4v2 di lapangan bawah. Merah harus memainkan 4-5 umpan. Kuning 3 berada di area transit. Bila merah berhasil mencapai jumlah umpan yang ditentukan, bola segera dipindah ke lapangan atas.

Dalam pemindahan bola, salah satu dari merah di lapangan bawah ikut bergabung ke atas. Saat bola dipindahkan, kuning 3 dan 4 diperbolehkan melakukan interception.

7. Merah memindahkan bola. Kuning 3 dan 4 melakukan interception.

 

Bila interception gagal, kuning 3 bergabung ke lapangan atas. Dengan ini, situasi duel menjadi 4v2. Posisi kuning 3, di area transit, digantikan salah satu kuning dari lapangan bawah. Bila merah di lapangan atas berhasil mencapai jumlah minimal umpan, bola kembali dipindahkan ke bawah.

Bila kuning merebut bola, Kuning harus memainkan sejumlah minimal umpan untuk memeroleh poin dan permainan diulang dari salah satu lapangan dan merah tetap sebagai “pemilik”bola.

8. Kuning memainkan umpan.

 

Ketika kuning merebut bola di dalam lapangan kecil, hanya merah dari lapangan yang sama yang boleh melakukan press.

Mainkan satu set selama 3-5 menit dengan istirahat antarset selama 2-3 menit. Ukuran lapangan kecil dan jarak diagonal antarlapangan kecil, disesuaikan. Untuk memicu banyak situasi bola direbut lawan, pembatasan jumlah sentuhan sebanyak 1-2 kali bisa dipertimbangkan.

Referensi

Abwehrkette.de. Konsequentes Gegenpressing – Alptraum für jeden Gegner. 2013.

Backyardbrains.com. Experiment: How Fast Your Brain Reacts To Stimuli.

Fussballtraining.de. Gegenpressing: Die Grundzuge Ganz Einfach Erklart. 2014.

Maric, Rene. Turchen 24: RM bei RB fur KF. 2016.

Maric, Rene. Taktiktheorie: Das Gegenpressing. 2014.

Naufal, Qo’id. Apa Itu Gegenpressing. 2015.

Smith, Kieran. Development of Guardiola’s 4v4+3 Juego de Posicion. 2016.

Komentar