Gelora Bung Karno dan Cerita Nyaris yang Dikenang Manis

Jika Anda mendengar cerita dari kedua orang tua, ada kemungkinan mereka menceritakan masa lalu di tempat apa bertemu dan momen yang mungkin tidak terlupakan. Bisa sebuah taman, sekolah, tempat kerja, dan tempat yang tidak terduga lainnya. Di manapun itu yang jelas, momen tersebut begitu membekas dalam ingatan.

Membicarakan stadion sepak bola tentu menarik bagi pencinta sepak bola itu sendiri, dari sisi manapun akan selalu menarik dibicarakan. Fakta bahwa mayoritas (mungkin juga semua) kepemilikan stadion di Indonesia masih di bawah Pemerintah Pusat atau Daerah adalah masalah lain. Apa pun selalu ada cerita dari setiap kunjungan ke sebuah stadion.

Begitu pula dengan pengalaman pertama saya datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). SUGBK pernah menjadi tonggak sejarah peradaban bangsa Indonesia, dibangun dengan adanya penolakan namun pada akhirnya SUGBK tetap bisa berdiri dengan gagah dan menjadi kebanggan yang selalu dibicarakan hingga saat ini.

Karena, stadion sepak bola di ibukota negara, di manapun akan menjadi pusat perhatian, sebab dapat menjadi representasi sebuah negara. SUGBK, berdiri dengan latar belakang sebagai venue Asian Games 1962, berawal dari penunjukkan oleh Asian Games Federation pada tahun 1958, maka Presiden Soekarno menentukan lokasi di kawasan Senayan dengan pertimbangan letak geografis dan pengembangan kota pada kemudian hari.

SUGBK sendiri dibuat dengan atap konstruksi baja besar yang membentuk cincin raksasa dan melindungi para penonton dari panas dan hujan, Bung Karno menyebut sebagai “Temu Gelang”.

Sungguh, ide pembuatan bangunan yang tidak hanya memikirkan ego seorang kepala negara, namun juga ingin memikirkan kepentingan rakyatnya sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa konstruksi SUGBK adalah anti-mainstream pada zaman itu yang dapat menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unggul, baik di bidang olahraga, maupun bidang politik, sosial, dan lainnya.

Karena SUGBK juga digunakan sebagai arena politik serta aktivitas warga yang memanfaatkan lingkungan yang hijau –meski saat ini tak lagi hijau karena banyak gedung bertingkat– sebagai sarana menunjang kehidupan.

BACA JUGA:  Kota Sepak Bola Itu Bernama Surabaya

Tidak ada yang salah memang menceritakan sejarah di atas bagaimana sebuah tempat itu berdiri, karena dengan mengetahui latar belakang tersebut generasi penerus akan sadar dan merasa bangga menjadi orang Indonesia. Namun sayangnya di antara banyak cerita tentang berdirinya SUGBK ini yang notabene dibangun sebagai kegiatan olahraga, terselip cerita yang cukup tragis.

Bukan membicarakan pembiayaan dari kredit lunak Uni Soviet untuk membangunan stadion pada era Presiden Soekarno itu. Bukan pula membicarakan polemik antara promotor konser musik dengan tim sepak bola yang pernah terjadi perihal adu argumen tentang siapa yang diprioritaskan menggunakan fasilitas SUGBK. Yang jelas SUGBK masih di bawah Sekretariat Negara  dan dikelola oleh Pusat Pengelola Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK).

Membicarakan SUGBK tidak pernah lepas dari membicarakan timnas  sepak bola Indonesia, karena sejak 1962 hingga kini SUGBK tetap menjadi markas utama ketika timnas menjamu lawannya.

Sebagai pencinta sepak bola yang lahir pada era 1990-an dan sebagai anak yang besar di Jakarta, sejak 2007 hingga 2014 lalu saya rutin untuk menonton pertandingan Indonesia di stadion yang dulu dikenal sebagai Stadion Senayan ini.

Pengalaman tahun 2007 adalah pertama kali berkesempatan menonton di tribun VIP. Berkah tiket gratis dari saudara pada waktu itu. Kala itu yang saya saksikan adalah Indonesia vs Bahrain dan hasilnya seperti kita ketahui bersama, 2-1 untuk Indonesia. Satu kemenangan yang mampu “mengajak” orang dan meyakinkan kepala keluarga untuk tidak ragu mengajak anak serta istri untuk datang langsung ke stadion.

Pada saat itu, jargon “Ini Kandang Kita” membuat SUGBK benar-benar menjadi outlet yang menarik bagi para pengunjung baru untuk datang menyaksikan menu pertandingan yang berkualitas sekelas Piala Asia 2007.

Di luar penampilan timnas Indonesia yang dianggap apik pada saat itu meski gagal lolos ke babak selanjutnya, secara pribadi saya mengatakan bahwa momen Piala Asia 2007 mengubah persepsi orang pada umumnya –yang bukan sebagai suporter klub sepak bola Indonesia– yang berpikir bahwa stadion sepak bola Indonesia adalah tempat yang mengkhawatirkan, tempatnya orang-orang liar dan rentan kerusuhan.

BACA JUGA:  Sembilan Puluh Menit di Taman Film

Cerita di Gelora Bung Karno mungkin sebatas memberikan kenangan mengajak teman, keluarga atau pasangan untuk datang menyaksikan timnas Indonesia bertanding. Untuk prestasi timnas Indonesia boleh dikatakan nihil –tertinggi Emas SEA Games 1987 dan 1991– kecuali Anda selalu bercerita tentang hasil nyaris yang kerap kali dikenang manis.

Karena, cerita yang selalu ada dan akan sering didengar serta diumbar secara berlebihan oleh media maupun khalayak yang bercerita tentang timnas Indonesia adalah bahwa di Senayan, timnas Indonesia pernah nyaris lolos ke Olimpiade Montreal 1976 andai tendangan Anjas Asmara ke gawang Korea Utara pada adu penalti tidak melambung.

Nyaris lolos ke Piala Dunia 1986 andai dapat mengalahkan Korea Selatan. Nyaris lolos ke perempat final Piala Asia 2007 andai saja dapat menahan imbang Korea Selatan pada laga pamungkas fase grup. Nyaris Juara AFF 2002 andai Firmansyah dan Sugiantoro tidak gagal dalam adu penalti serta 2010 andai Firman Utina dapat mengeksekusi tendangan penalti dengan sempurna pada awal babak pertama leg-2 final, serta nyaris mendapat emas SEA Games 1997 dan 2011 andai tidak kalah di babak adu penalti.

Apa hanya itu cerita yang akan selalu diceritakan ketika sedang membahas mengenai prestasi sepak bola Indonesia?

Kisah yang mungkin akan terus direproduksi hingga pada akhirnya nanti SUGBK menjadi saksi timnas sepak bola Indonesia mampu meraih medali emas di Asian Games 2018 atau gelar lain yang mungkin lebih realitis seperti SEA Games atau Piala AFF. Dua turnamen regional Asia Tenggara yang makin susah kita rengkuh melihat negara lain berkembang, sementara kita tak hentinya berkonflik.

Tanpa gelar prestisius, Gelora Bung Karno hanya menyisakan cerita hasil nyaris yang akan selalu dirasa manis bagi pencintanya sebagai penghibur ketika menyadari kenyataan bahwa timnas kita sudah terlalu lama tak memenangi apa pun.

 

Komentar
Yudhistira Haryo Nurresi Putro
I'm not plastic fans, but I'm glory hunter. lebih suka jadi poacher, ketimbang jadi bench warmer. lebih suka jadi super-sub, bukan starter.