Gus Dur, Sepakbola dan Pluralisme

Tanggal 30 Desember 2020 kemarin merupakan peringatan Haul Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau biasa kita sapa dengan nama Gus Dur yang ke-11.

Walaupun sudah lama meninggalkan kita, namun sosok dari presiden keempat Repubkik Indonesia tersebut masih terekam jelas dalam ingatan kita.

Bagi para Gusdurian, bulan Desember memang dikenal dengan bulan Gus Dur untuk mengenang wafatnya tokoh yang cerdas sekaligus humoris ini.

Semasa hidupnya, Gus Dur lebih dikenal sebagai kyai, guru bangsa, cendekiawan, budayawan dan tokoh pluralitas. Namun tak banyak orang yang mengetahui beliau juga sebagai pengamat dan penulis sepakbola yang handal.

Kegemarannya dengan sepakbola sudah ada sejak kecil. Dalam buku “Biografi Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton, beliau bersama ayahnya, Kyai Haji Wahid Hasyim pernah sekali waktu bermain sepakbola di halaman belakang rumah dan kelihatannya sang ayah senang ditemani oleh putera sulungnya itu. Kecintaan jebolan Universitas Al Azhar itu terhadap sepakbola dibawanya hingga dewasa.

Bahkan saat melanjutkan studinya di Mesir, Gus Dur tak pernah lupa dengan sepakbola. Beliau gemar mempelajari, menganalisis, membedah permainan serta kekuatan dan kelemahan tim-tim sepakbola berikut strateginya. Beliau adalah penggemar sepakbola yang benar-benar tertarik pada hal-hal teknis dari permainan paling beken seantero Bumi ini.

Di Mesir yang rakyatnya gila sepakbola, Gus Dur bisa memuaskan dahaganya menonton dan mengikuti pertandingan sepakbola.

Diingatnya bahwa beliau bisa dengan mudah mengikuti pertandingan-pertandingan liga Eropa dan pertandingan-pertandingan regional lewat liputan surat kabar dan radio. Selain itu juga banyak pertandingan sepakbola yang dapat ditontonnya.

Jauh sebelum beliau menjadi Presiden, Gus Dur sudah lebih dulu berkecimpung di dunia kepenulisan, termasuk tulisan-tulisan tentang sepakbola.

BACA JUGA:  Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada

Sejak tahun 1980-an, beliau sudah mulai menulis berbagai artikel sepakbola di media cetak. Tercatat sudah puluhan artikel yang ditulisnya dalam rentang tahun 1980-an sampai dengan 2000-an. Mulai dari ulasan Piala Dunia 1982, 1986, 1994, 1998, sampai Piala Eropa 1992 dan 1996.

“Analisis sepakbola Gus Dur dikenal tajam dan pas. Bukan hanya disebabkan pengetahuannya yang luas melainkan juga intuisinya yang presisi. Intuisi beliau yang membuatnya bisa meramalkan hasil pertandingan. Bukan dengan perhitungan melainkan dengan menimbang segala kemungkinan,” begitulah kata Sindhunata, seorang kolumnis sepakbola dan sastrawan.

Hal ini ditunjukkan oleh Gus Dur yang telah memprediksi bahwa era 2000-an adalah momen kebangkitan sepakbola Korea Selatan dan membanjirnya legiun asal Afrika di kancah persepakbolaan Eropa. Lihat saja pada Piala Dunia 2002, Korsel yang menjadi tuan rumah mampu menembus babak semifinal sekaligus menjadi tim Asia pertama yang menorehkan catatan itu.

Para pemain dari Negeri Ginseng lantas melebarkan sayapnya ke Eropa karena kemampuannya makin diakui. Misalnya saja Ahn Jung-hwan, Lee Young-pyo, dan Park Ji-sung. Sementara kini, ada Son Heung-min yang jadi ikon.

Begitu pula pemain Afrika yang kemudian melegenda di Benua Biru seperti Didier Drogba, Samuel Eto’o dan Jay-Jay Okocha. Di masa sekarang, kita bisa melihat kiprah jempolan Riyad Mahrez, Sadio Mane, dan Mohamed Salah.

Tak hanya fasih dalam menganalisis sepakbola, Gus Dur juga dikenal sebagai orang yang lantang membicarakan persamaan hak dan pluralisme. Prinsip dan semangat beliau dalam memahami perbedaan seharusnya diterapkan juga di sepakbola.

Menengok lagi dua dekade ke belakang, konflik-konflik karena perbedaan tim sepakbola di tanah air seperti tiada hentinya. Hampir setiap musim ada saja faktor-faktor yang menyebabkan konflik. Baik dari dalam lapangan sampai luar lapangan. Mulai dari pemain, pelatih, ofisial sampai dengan suporter.

BACA JUGA:  Saul Niguez yang Semakin Penting untuk Atletico Madrid

Pada era sepakbola modern, sudah waktunya kita tinggalkan hal-hal buruk semacam itu. Terlebih sepakbola Indonesia sudah tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Di saat Malaysia, Thailand, hingga Vietnam berusaha meningkatkan level sepakbola mereka, kita masih tetap begini-begini saja.

Adanya pandemi Covid-19 dan dihentikannya sepakbola nasional sepatutnya jadi momen bagi insan persepakbolaan Indonesia untuk merenung dan berbenah. Segala perbedaan yang ada tak melulu jadi jurang pemisah. Pada satu momen, itu bisa menjadi alat untuk menyatukan semuanya. Baik dari tingkat bawah sampai tingkat memiliki satu visi yang sama yaitu memajukan sepakbola Indonesia.

Komentar
Arif Setyadi, penikmat sepakbola dan mendoan. Bisa disapa di akun twitter @arifs_di