Hidup Bahagia ala Margarida

Di tengah malam Tokyo nan dingin, Sean Boswell nampak kebingungan dengan sikap Han yang begitu dermawan. Padahal, Sean adalah seorang gaijin, istilah yang digunakan orang Jepang untuk menyebut orang asing. Dan biasanya, seorang gaijin diperlakukan kurang baik.

Namun Han berbeda. Ia tak melihat Sean sebagai “seorang asing”. Han memperlakukan Sean seperti kawan karib, bahkan saudara. Ia dapat dengan mudah memberikan sebuah mobil untuk Sean. Untuk apa? Untuk membalap tentu saja.

“Untuk apa semua ini? Kau pasti mengeluarkan banyak uang untuk ini?” Tanya Sean dengan heran. Sambil tersenyum kecil, Han menjelaskan bahwa ia tak mementingkan uang. Bagi Han, hidup bukan soal uang, tapi menikmatinya dengan caramu sendiri.

 

“Lihat orang-orang itu. Mereka patuh dan penurut untuk apa? Mereka membiarkan ketakutan memeluk batin mereka.” Han menyindir orang-orang yang begitu taat aturan, namun tak bisa menikmati hidupnya. Rasa takut membelenggu manusia modern, mempersulit hidup mereka.

Padahal, intinya begitu sederhana, yaitu bahagia menjalani hidup.

Kebahagiaan dari lapangan hijau

Penggalan adegan dalam film The Fast and The Furious: Tokyo Drift di atas mengingatkan kita bahwa tak ada salahnya menikmati hidup dengan caramu sendiri. Menemukan kebahagiaan bukan hanya melalui apa yang kamu punya, tapi apa yang bisa kamu beri.

Dan di sisi lain dunia, jauh dari Jepang, seorang wasit sepak bola mencoba menularkan kebahagiaan kepada banyak orang.

Sebagai seorang pengadil lapangan hijau, pilihan Clesio Moreira dos Santos sangat nyeleneh: setelan berwarna merah jambu ditimpali tingkah anggun seperti balerina. Clesio dijuluki Margarida.

Julukan yang sama yang pernah disematkan kepada Jorge José Emiliano dos SantosRoberto Nunes Morgado, Alvir Renzi, dan Armando Marques saat mereka menjadi idola di Negeri Samba. Para pengadil yang memberikan warna tersendiri untuk sepak bola.

BACA JUGA:  Efek Merokok Pada Atlet: Dampak Buruk itu Benar Adanya

Saat menyaksikan aksi Margarida, ada dua kemungkinan yang akan Anda rasakan. Pertama, Anda akan tertawa terpingkal-pingkal hingga perut terasa sakit. Kedua, Anda akan tercenung, lalu berpikir mengapa ia berperilaku seperti itu.

“Saya hanya ingin bersenang-senang sebagai pengadil.” Boleh jadi kalimat itu yang akan diberikan sebagai jawaban untuk pertanyaan Anda. Mari kita saksikan kegenitan seorang Margarida, yang dengan iklas dipandang “aneh” untuk memberikan kebahagiaan.

 

Clesio memulai pelatihan sebagai wasit pada tahun 1988. Empat tahun kemudian, wasit kelahiran 8 Januari 1958 ini mengeksplorasi ide-idenya soal penampilan wasit. Ia membutuhkan dua tahun untuk menemukan “komposisi nyleneh” yang pas. Tahun 1994, idenya mulai terbentuk.

Tak hanya setelan wasit yang begitu berwarna, Clesio juga menciptakan gerakan khas, yang terasa begitu konyol, terutama ketika ia berlari ke belakang. Dari cuplikan video di atas terlihat bagaimana Clesio menjadikan lapangan sepak bola dan sebuah pertandingan sebagai panggung.

Clesio mulai menjadi wasit saat menjadi pengadil di laga kedua Campeonato Catarinense, sebuah liga lokal di Santa Catarina, Brasil. Sontak, kostumnya yang berwarna merah jambu berhasil menarik perhatian.

Ia meruntuhkan amarah dan kebencian yang sering dialamatkan kepada profesinya sebagai wasit. Sekaligus, ia menjadi anomali atas sikap wasit yang terlalu tegas dan kaku. Namanya tak hanya tenar di Santa Catarina, namun segera dikenal. Ia sempat menghiasi media-media Brasil pada tahun 2003.

Berkat pemberitaan itu, jasanya tetap digunakan meski telah pensiun pada 2004. Ia masih sering dibujuk untuk menjadi wasit pada acara amal. Undangan-undangan itu lama-lama menyebar tak hanya di Brasil. Kini, ia telah menjadi wasit di 16 negara.

Video yang merekam aksinya sendiri telah berapa kali diunggah oleh berbagai akun di dunia maya. Orang-orang begitu penasaran dengan aksi “mendebarkan” Margarida dan mengundangnya ke stadion.

BACA JUGA:  Bagaimana Anda Mengeja Kata “Pele”?

Sosok wasit lekat dengan pribadi yang begitu tegas, tanpa kompromi. Bahkan terkadang penuh kerutan di dahi karena tekanan sebuah laga. Seperti yang Han sindir di atas, apa artinya mematuhi peraturan tanpa bersenang-senang. Clesio hanya ingin terlihat “bahagia” dalam kostum pengadil “biasanya kaku” itu.

Lantaran bertingkah “kemayu”, Clesio dipandang sebagai penyuka sesama jenis. Tentu ini tuduhan yang mengerikan, tak hanya bagi Clesio, tapi juga buat sepak bola itu sendiri.

Clesio mengkarifikasi itu semua melalui Jornaldopovo. Ia memiliki tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki.

Saat Margarida menjadi wasit, Anda akan menyaksikan sebuah anomali. Selain tingkahnya, pertandingan yang mengharuskan Margarida menjadi pengadil akan menjadi hari yang unik.

Anda takkan bisa melihat wasit lebih bahagia dari pada pemain di satu pertandingan sepak bola kecuali laga yang menjadikan Margarida sebagai pengadil. Ia berlari seperti balerina, memberikan kartu kuning dengan tingkah konyolnya, namun tetap memimpin seadil mungkin.

Ia seperti melengkapi keindahan sepak bola Brasil. Ia menghidupi makna kesenangan dalam sepak bola. Ia berhasil menghidupkan pertandingan yang membosankan. Fans akan terisi dengan kebahagiaan setelah menyaksikan aksi Margarida.

Mereka terpingkal-pingkal di stadion. Pemain akan merasa tertantang untuk juga dapat memberikan kesenangan kepada fans mereka. Semua orang yang terlibat dan dekat dengannya kemudian berada dalam atmosfer positif untuk saling membahagiakan.

Terkadang saya merasa, sesekali kita perlu bertindak seperti Margarida. Bersenang-senang dalam pekerjaan yang rentan stres seperti wasit adalah upaya untuk mencintai diri sendiri. Lagipula, kalau kita bisa bahagia, kenapa tidak?

 

Komentar