Ihwal Cinta untuk Persebaya dan PSS

Ihwal Cinta Untuk Persebaya dan PSS

Kompetisi Liga 1 musim 2020, kabarnya baru akan diselenggarakan pada akhir Februari mendatang. Bila kelompok suporter lain cenderung menunggu kabar transfer pemain dari tim kesayangannya, hal berlainan sedang dipertontonkan oleh pendukung setia Persebaya dan PS Sleman yaitu Bonek serta Brigata Curva Sud (BCS).

Selama beberapa hari terakhir, atmosfer yang berkelindan di kota Surabaya dan Sleman terasa berbeda. Semuanya berpangkal pada masalah yang tengah menimpa Persebaya dan PSS.

Polemik Renovasi Stadion Gelora Bung Tomo

Beberapa waktu lalu, Indonesia dipilih induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) sebagai tuan rumah ajang Piala Dunia U-20 tahun 2021 nanti.

Federasi sepakbola Indonesia (PSSI) sendiri telah mengajukan sepuluh stadion, yang kelak disaring lagi menjadi enam stadion, sebagai venue. Kandang Persebaya, Stadion Gelora Bung Tomo, tercantum sebagai salah satu kandidat.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebagai pihak pengelola bergerak cepat dengan membenahi arena yang diresmikan pada 2010 itu agar terpilih.

Mulai dari fasilitas pendukung semisal toilet dan akses jalan raya sampai elemen inti seperti ruang ganti, tribun penonton, dan rumput lapangan, siap diberi polesan ciamik.

Ironisnya, langkah yang dilakukan Pemkot ini cenderung mengabaikan Persebaya sebagai pengguna tetap Stadion Gelora Bung Tomo (tentu dengan menyewa).

Surat yang dikirimkan manajemen Bajol Ijo guna beraudiensi dengan Pemkot menyoal renovasi dan penggunaan stadion berkapasitas 50 ribu penonton itu belum diberi jawaban konkret.

Lucunya lagi, pihak Pemkot juga tak memberi keterangan apapun saat dimintai solusi terkait kandang yang bisa dipergunakan Persebaya andai pembenahan Stadion Gelora Bung Tomo membuat mereka terusir dari sana. Sementara potensi terjadinya hal itu sangat besar.

Di Surabaya sendiri, ada satu venue lain yang cukup menunjang sekaligus bersejarah yakni Stadion Gelora 10 November.

Bonek meminta kepada Pemkot, jika Stadion Gelora Bung Tomo memang tak dapat dipergunakan Persebaya lantaran direnovasi, Pemkot mengizinkan pemakaian Stadion Gelora 10 November yang beberapa waktu lalu sudah tersentuh perbaikan (meski punya probabilitas bakal dibenahi kembali agar semakin layak).

Kapasitas dari arena yang berdiri pada tahun 1954 itu memang lebih kecil yaitu sekitar 20 ribu pasang mata dan kemungkinan, sulit mengakomodasi Bonek yang amat antusias dalam menyaksikan pertandingan Bajol Ijo.

Namun tetap bertanding di rumah sendiri merupakan keharusan sebab Persebaya adalah representasi dari Kota Pahlawan.

Akan terasa sangat komikal bila Persebaya yang merupakan anak kandung Surabaya malah ditendang keluar oleh Pemkot. Sedangkan tim-tim peserta Piala Dunia U-20 yang hanya sebentar menyambangi kota, disambut layaknya raja.

BACA JUGA:  Jadilah Bintang, Marselino!

Ajang sekelas Piala Dunia U-20 memang cukup prestisius dan bisa melambungkan nama Surabaya kalau didapuk sebagai salah satu kota penyelenggara.

Saya pun percaya, ada rasa bangga di dada Bonek jika kota berumur 766 tahun itu berhasil menjadi tuan rumah yang hebat. Kendati demikian, prestasi tersebut tidak sepatutnya direngkuh dengan mengorbankan Persebaya.

“Audiensi adalah keharusan bagi pihak-pihak terkait. Selama ini, Bonek maupun manajemen klub sudah bersikap terbuka. Tinggal Pemkot saja yang masih diam seribu bahasa. Dengan audiensi, masalah ini akan selesai,” tutur salah seorang pentolan Bonek, Andie Peci, seperti dikutip dari Jawapos.

Wajar bila sikap tidak jelas Pemkot membuat Bonek gerah. Alhasil, kini mereka berjuang serentak dengan memasang banyak pamflet dan spanduk seantero Surabaya sebagai bentuk protes kepada Pemkot.

Salah jika menyebut tindakan mereka bertujuan untuk memboikot Piala Dunia U-20 karena tuntutan Bonek sesungguhnya amat sederhana, membiarkan klub yang mereka cintai dengan sepenuh hati tetap bermain di rumahnya sendiri, entah di Stadion Gelora Bung Tomo atau Stadion Gelora 10 November.

Nasib Seto Nurdiyantoro dan Kekesalan Terhadap Manajemen

Di musim perdananya mentas di Liga 1, PSS tampil cukup brilian dan mengakhiri kompetisi dengan bertengger di peringkat delapan.

Tim Super Elang Jawa pun menahbiskan diri sebagai tim promosi dengan performa paling fenomenal. Selain kepada seluruh penggawa, pujian pun mengalir kepada sosok pelatih bertangan dingin, Seto Nurdiyantoro.

Walau punya keterbatasan, tapi di bawah asuhan Seto, PSS sanggup mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Realita inilah yang membuat BCS sangat mengapresiasi kinerja sang pelatih. Bahkan bisa dibilang, hati mereka sudah terpaut kepada lelaki berumur 45 tahun tersebut.

Memiliki rekam jejak cukup memuaskan, hal ini sendiri sempat diutarakan oleh pemegang saham terbesar PSS, Soekeno, dalam wawancara dengan Tirto, nyatanya tidak membuat manajemen berhasrat untuk mempertahankan Seto di kursi pelatih. Kontrak bekas penggawa PSS semasa aktif bermain tersebut berakhir pada Desember 2019 kemarin.

Beberapa hari lalu, manajemen PSS justru mengumumkan Eduardo Perez sebagai pembesut PSS di musim anyar.

Makin pelik, media officer tim malah tidak mengetahui kabar perekrutan juru taktik berpaspor Spanyol itu. Publik pun berasumsi bahwa kejadian ini adalah keputusan sepihak dari manajemen.

BACA JUGA:  Mengutuk Tindakan Kekerasan pada Turnamen Sepakbola Usia Dini

Rasa geram dan kecewa menggelayuti dada BCS. Terlebih, delapan tuntutan yang mereka sampaikan musim lalu dianggap belum ada satu pun yang telah direalisasikan manajemen klub.

Dalam rilisnya di laman resmi BCS, faksi yang menghuni tribun selatan Stadion Maguwoharjo ini menuntut agar nama-nama tak kompeten yang duduk di kursi manajerial untuk mundur. Segala kerumitan yang muncul di sektor internal PSS dianggap BCS berasal dari sosok-sosok tersebut.

Melalui rilis itu pula, BCS ingin memboikot seluruh partai kandang PSS sepanjang musim depan atau bahkan selamanya. Mengosongkan tribun selatan Stadion Maguwoharjo adalah aksi nyata yang siap mereka laksanakan jika manajemen enggan berbenah.

Belum cukup sampai di situ, kawasan Stadion Maguwoharjo juga dipenuhi beraneka spanduk luapan kekesalan sekaligus tuntutan kepada pihak manajemen.

Kantor PT. Putra Sleman Sembada (PSS) yang berada di kompleks stadion pun telah disegel oleh BCS. Jangan kaget andai mereka melakukan berbagai aksi lainnya kalau manajemen tak menunjukkan iktikad baik menyoal masa depan Super Elang Jawa.

Tanpa BCS di tribun, atmosfer stadion akan senyap dan merugikan PSS sendiri. Di sisi lain, kas keuangan tim bakal terkena dampak karena pemasukan dari penjualan karcis pertandingan yang menurun drastis.

Bagaimanapun juga, manajemen tak boleh memandang remeh tuntutan dari BCS karena mereka adalah satu dari sekian pihak yang menghidupi tim lewat pembelian tiket dan merchandise resmi.

Esensi Suporter

Kendati ada berbagai cibiran yang muncul, bahkan menyebut Bonek dan BCS ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu, tapi apa yang diperlihatkan dua kelompok suporter ini merupakan hal yang wajib diapresiasi.

Mereka ogah menjadi kelompok suporter yang pasif, diam begitu saja ketika ada sesuatu yang tak beres dengan tim kesayangannya, atau sekadar menjadi mesin penghasil uang.

Sebaliknya, Bonek dan BCS memberi tahu kita semua bahwa suporter sepakbola di Indonesia, memiliki esensi yang begitu tinggi dan cinta yang mereka tunjukkan, bukan akibat fanatisme belaka.

Apa yang keduanya lakukan berpotensi mengubah kultur dunia suporter di Indonesia.

Jika dahulu dinilai sebagai kelompok orang yang gemar bertindak negatif dan tak punya nilai tawar kepada manajemen atau pihak-pihak terkait, kini dapat disebut sebagai faksi yang senantiasa bergerak serempak demi mengawal tim kesayangannya melaju ke arah yang lebih baik.

Komentar