Jiwa Amatir dalam Diri Pesepak Bola Profesional

Samuel Eto'o of FC Anzhi Makhachkala gestures during an UEFA Europe League group A football match between his team and BSC Young Boys in Moscow on October 4, 2012. AFP PHOTO/KIRILL KUDRYAVTSEV (Photo credit should read KIRILL KUDRYAVTSEV/AFP/GettyImages)

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar pesepak bola amatir? Sudah tentu adalah pemain yang bermain bola untuk kesenangan semata, hanya dibayar sedikit (bahkan tidak dibayar), bermain di lapangan yang buruk, dan memiliki perangai yang buruk, misalnya jarang latihan, sering mabuk, atau berkelahi dengan wasit, musuh, bahkan teman sendiri.

Hal itu terbalik dengan pesepakbola profesional. Mereka adalah pemain terkenal, bisa disaksikan di televisi, memiliki kontrak dengan nilai uang yang banyak, bermain di lapangan yang bagus dan disaksikan banyak orang, serta bersifat profesional dengan selalu hadir di latihan, sabar, dan tidak merokok atau ke klub malam. Kalau pun merokok dan sering berpesta mereka bisa menjaga dirinya agar tetap bisa menampilkan performa yang bagus di lapangan.

Itu adalah sebuah kelas kasta yang jauh berbeda. Pada era sepak bola modern seperti saat ini, sepak bola adalah lahan bisnis yang luar biasa. Maka jangan heran pemain bola profesional dibayar begitu mahal. Koleksi mobil sport adalah hal yang lumrah di kalangan pesepak bola Eropa.

Ya, kini pemain bola adalah profesi yang begitu menguntungkan. Tapi, tetap saja pemain bola profesional masih memiliki jiwa amatir, tempat di mana dia memulai. Mereka (para profesional) masih bermain untuk kesenangan, untuk menang, dan untuk gelar. Mereka tidak bermain hanya untuk mendapatkan bayaran.

Dan seiring berkembang-nya pesepak bola amatir ke profesional, beberapa jiwa amatir-nya yang buruk mulai hilang. Seperti suka latihan semaunya dan berbuat semaunya. Karena mereka sudah dituntut untuk menang dan lebih disiplin. Dan untuk itulah mereka digaji besar. Ya, uang adalah salah satu hal yang bisa meningkatkan performa pemain.

Tapi uang pulalah menyebabkan kejatuhan pemain. Karena uang, mereka makin kaya dan sombong. Mereka terbuai dan malah menomor satukan uang daripada meraih gelar.

BACA JUGA:  Sepakbola Eropa Mulai Terjangkit Corona

Itulah mengapa banyak pemain hebat yang masih fit malah memilih klub-klub lemah yang tidak berlaga di liga yang sangat kompetitif atau memiliki kadar persaingan yang rendah. Penyebabnya tentu saja tawaran gaji yang tinggi. Contohnya Samuel Eto’o yang dari FC Internazionale ke Anzhi Makhachkala atau Dario Conca yang memilih ke Guangzhou Evergrande dan jadi salah satu pemain dengan gaji termahal di dunia bersama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Dan karena uang itu juga, sepak bola bukanlah semurni dulu. Jika dulu pemain bermain satu-satunya karena kesenangan, uang nomor sekian. Sekarang sudah banyak pemain yang menomorsatukan uang daripada kesenangan sepak bola itu sendiri. Itu juga alasan kenapa sekarang one man-club seperti Francesco Totti, Ryan Giggs dan Paolo Maldini sudah begitu langka di daratan Eropa.

Hanya pemain berjiwa amatir-lah yang mampu menikmati permainan. Yang mampu bermain lepas. Yang bermain untuk gelar, kemenangan dan kesenangan. Saat Messi mengalami kemunduran tahun 2014 lalu, Angel Cappa mengatakan:

Saya melihatnya melakukan tugas secara profesional. Ketika mereka mengatakan ia adalah profesional yang hebat, saya lebih suka mengatakan ia seorang amatir yang hebat. Karena amatir merasakan sepak bola hingga ke nadi mereka dan bermain dengan gairah. Jika pemain bermain secara profesional, maka ia sudah berhenti tampil baik,” pungkasnya.

 Ya, mungkin itu obat paling manjur bagi pemain sepak bola dunia yang mulai kehilangan gairah. Bermainlah lagi seperti seorang amatir!

Walau begitu, kadang kita menemukan juga seorang pemain yang tidak hanya “amatir” dalam permainannya, tapi juga dalam tingkah lakunya. Dulu ada Roberto Mancini, bad boy Italia yang fantastis tapi kelakuannya benar-benar amatiran. Merayakan gol dengan menghina pers, menghina wasit terang-terangan, sampai menolak diganti oleh pelatih.

BACA JUGA:  Berpaling dari Manchester United ke Liverpool

Dari masa ke masa terkumpul beberapa pemain bengal seperti Mancini, Gazza, Gallas, Cassano, Ronaldinho, Barton, Suarez, Tevez, Ibrahimovic, Balotelli, hingga Diego Costa. Tapi, meski kelakukannya menyebalkan, kita harus mengakui kalau pemain-pemain seperti ini memang memiliki bakat besar dan teknik tinggi. Mereka tak ubahnya seorang amatir kelas tinggi di ajang profesional.

Akhirnya, semoga generasi sepak bola tidak jadi semakin buruk. Lahir pemain-pemain profesional berjiwa amatir dan berteknik tinggi. Supaya kita bisa menikmati sepak bola yang lepas dan murni.

Karena semua pesepak bola yang ingin menang dan meraih gelar adalah amatir.

 

Komentar
Anak muda dengan energi berlebih. Menyukai dan menikmati sepakbola, sains, dan sastra. Suka nulis. Mulai ngoceh di twitter, @hanifamin16.