Kaum Urban dan Bagaimana Menikmati Sepak Bola

Kaum urban adalah orang-orang yang tergesa-gesa akibat rutinitas. Itu kesimpulan saya dari esai Fandy Hutari yang berjudul “Orang-orang Jakarta yang Tergesa.” Fandy juga memotret Kota Jakarta yang diisi oleh orang tak sabaran.

Kaum urban seperti gambaran Fandy selalu pergi dengan kecemasan. Mulai dari rasa takut dan cemas akan potongan gaji karena terlambat ke kantor, hingga keberingasan mereka saat berlomba untuk menjadi yang tercepat pulang ke rumah. Jalanan kemudian terasa terlalu rumit dan kasar.

Tak jarang ada emosi yang meletup ketika perjalanan pergi atau pulang akibat rasa tergesa-gesa. Tidur kemudian hanya menjadi jeda antara rutinitas satu dan yang lainnya.

Sesuai data yang disadurkan oleh esai tersebut, orang Jakarta menghabiskan rata-rata 3,5 jam di jalan akibat kemacetan. Bisa dibayangkan kejengahan manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Mereka seperti terjebak dalam realitas semu yang sudah dibentuk oleh tangan-tangan kapitalis yang didukung oleh kecanggihan media.

Mereka sebetulnya sadar sudah diperlakukan seperti mesin. Namun, agen perumahan mewah, arena-arena liburan, hingga pusat perbelanjaan menawarkan wahana eskapis yang membuat orang-orang kota bisa sedikit bahagia, meskipun sebenarnya sungguh merana. Semuanya hanya semu belaka dan hanya dikendalikan pasar.

Situasi yang sama juga berlaku untuk sepak bola.

Sepak bola adalah pasar bebas. Siapa yang menguasai dan memiliki akses akan terus berusaha menjegal si kaya lainya, sementara mereka yang miskin akan terus meraung-raung dan dipaksa berpikir lebih keras untuk setidaknya bertahan.

Si kaya mungkin menganggap Paul Pogba adalah pembelian yang pantas dengan mahar 100 juta poundsterling, sementara si miskin harus mencari celah bagaimana bisa menelurkan “Riyad Mahrez lainnya” dengan biaya serendah mungkin agar setidaknya bisa menggigit balik si kaya.

BACA JUGA:  Donny van de Beek: Penyempurna Lini Tengah

Kuatnya pasar masih ditambah kecepatan akses informasi. Setiap orang seakan bisa bereaksi terhadap kemenangan atau kekalahan tim kesayangannya. Kemenangan akan dirayakan dengan puja-puji berlebih, sementara kekalahan akan diekspresikan dengan caci maki.

Kekalahan ini bahkan dapat membuat seorang yang menjadi kambing hitam akan diluncuti hingga ranah privasi. Akun media sosial mereka akan penuh dengan hujatan. Seakan sepak bola memang mengharuskan sebuah klub untuk selalu menang.

Fans kemudian terlalu terobsesi dengan kemenangan. Ingin juara, ingin mendahului, ingin mendominasi. Mereka terdogma oleh sejarah, filosofi, dan visi klub. Mereka menjadi beringas dan lupa tentang kebahagiaan yang mereka rasakan saat masa kecil tentang olahraga yang indah ini.

Bukankah kalian bahagia saat sepasang bola mata seperti terbelalak ketika menyaksikan Zinedine Zidane berputar seperti balerina, atau gocekan kaki lincah Ronaldinho yang membuatnya seperti diutus oleh Tuhan untuk mengajarkan kita tentang kebahagiaan menyaksikan sepak bola.

Pula, selayaknya kaum urban yang beringas di jalanan, kita juga kerap menafikkan naluri dengan melindungi mereka yang bermain kotor. Saya masih mengingat betapa delusionalnya saya saat mendukung Luis Suarez yang mengacungkan jari tengah ke penggemar Fulham, atau Suarez yang berkali-kali diving agar mendapat penalti.

Atas segala alasan yang dikemukakan, itu bukan solusi. Dan kasus seperti Marco Materazzi dan Zidane, sandiwara Sergio Busquets, hingga colok-colokan Jose Mourinho kepada mendiang Tito Vilanova adalah gambaran lainnya betapa busuknya sepak bola industri yang mengharuskan kita menghambakan kemenangan.

Padahal, apa yang dicari oleh manusia urban dan penggemar sepak bola adalah satu hal yang sama: ketenangan.

Fajar Nugros, dalam sebuah zine membeberkan tentang dirinya yang menemukan ketenangan ketika mematikan lampu dan membuka Microsoft Word sambil ditemani musik folk. Ia membiarkan keajaiban bekerja.

BACA JUGA:  Hikayat Seorang Regista

Dalam keajaiban macam itu, Fajar Nugros berasumsi bahwa ia dapat menemukan dirinya sendiri, dan meraih ketenangan yang hakiki. Sesuatu yang sederhana, namun memberikan dampak yang sangat membahana.

Sementara pencinta sepak bola mungkin bisa pelesiran ke lapangan kampung atau menyaksikan sepak bola di stadion. Merasakan sepak bola secara langsung memberikan banyak pengalaman menarik. Mulai dari fans yang tengah berdoa mengharapkan kemenangan timnya, hingga yang hanya ingin piknik di tribun.

Hal-hal semacam itu sungguh menenangkan, sekaligus menyegarkan. Seperti membuat kita mengenang sepak bola dari sudut pandang anak kecil. Membuat kita menghargai sepak bola selayaknya sepak bola, tanpa embel-embel fanatisme berlebih.

Pada hakikatnya, ketenangan sendiri tak bisa dibeli dengan uang seperti orang-orang kota membeli hunian mewah, atau seperti klub membeli pemain mahal. Ketengan muncul dalam hal-hal yang sederhana, seperti kebahagiaan dalam tulisan Darmanto Simaepa soal sepak bola kampung di Mentawai.

Atau seperti saat seorang pemain yang menyalami wasit setelah mendapat kartu merah di kompetisi Liga Santri Nusantara 2016. Menyaksikannya membuat kita tersadar bahwa di tengah sepak bola industri yang terkadang licik masih menyimpan kebaikan. Sebuah kebahagiaan untuk dirayakan.

 

Pada akhirnya, menikmati sepak bola adalah perkara merayakan hal-hal yang sederhana. Di tengah roda industri di setiap bola yang disepak, ada sebuah ketenangan yang berpotensi menjadi penawar kejengahan kaum urban.

 

Komentar