Paul Pogba dan Bagaimana Menyeimbangkan Puasa dengan (Menonton) Sepak Bola

Empat hari yang lalu, ketika sedang asyik berkelana di Instagram, saya mendapati sebuah foto yang di-posting oleh seorang megabintang sepak bola bernama Paul Pogba. Pada foto tersebut, terlihat Pogba yang mengenakan baju gamis berwarna hitam sedang berada di sebuah masjid dan memasukkan uang ke kotak amal.

Sontak, saya pun berpikir, wah, suatu hari saya harus bisa mampir ke masjid itu, walaupun saya sampai sekarang juga belum tahu nama masjid tersebut dan di kota mana masjid itu berada.

Antusiasme Pogba dalam menjelang bulan Ramadan ini patut diacungi jempol. Sebagai pemain andalan tim nasional, bisa dipastikan bahwa, jika ia berada dalam kondisi bugar, pasti ia akan dimainkan oleh Didier Deschamps sebagai starter.

Tak hanya itu, sebagai pemain dengan level kebintangan tertinggi di Les Bleus saat ini, harapan 66 juta warga Prancis pasti akan ditimpakan di pundaknya. Nah, walau dibebani ekspektasi luar biasa, pemain 23 tahun ini tetap menyadari bahwa berpuasa merupakan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim.

Dalam artikel briliannya di Bleacher Report, Profesor John Foot menuliskan tentang bagaimana Paul Pogba menjadi simbol terbaru dari multikulturalisme di Prancis. Ia merupakan anak imigran dari Guinea, seorang muslim, tetapi gaya dan sikapnya yang “modern” juga membuat Pogba dengan mudah diidentifikasi sebagai “salah satu dari mereka”.

Ia adalah imigran muslim yang mampu berasimilasi dengan bumi tempatnya berpijak secara sempurna. Pendek kata, Pogba adalah Prancis itu sendiri.

Bagi tim seperti Prancis, menjadi tuan rumah sebuah turnamen akbar sepak bola adalah berkah sekaligus beban. Setelah sekian lama tidak begitu diperhitungkan sebagai kandidat juara, tim Prancis pada Euro 2016 kali ini boleh dibilang merupakan tim terkuat sejak mereka masih diperkuat Zinedine Zidane.

BACA JUGA:  AHHA PS Pati, Berburu Prestasi atau Sensasi?

Gelar juara pun praktis menjadi target. Berat memang, akan tetapi, pencapaian akan sesuatu kok rasanya tidak afdol kalau perjalanannya biasa-biasa saja.

Nah, seberat itulah puasa Ramadan seorang Paul Labile Pogba tahun ini. Buat kita yang hidupnya begini-begini saja puasa Ramadan kadang-kadang rasanya sudah setengah mati, apalagi kalau kita juga dibebani target dan ekspektasi seperti Pogba?

Beban mental itu nyata, kawan-kawan, dan hal tersebut seringkali terlihat dalam turnamen akbar sepak bola.

Lantas bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan puasa kita? Bagaimana dengan kewajiban kita sebagai penggila sepak bola untuk menonton laga-laga yang tersaji di layar kaca? Bagaimana kita akan mampu menyeimbangkan puasa dan menonton sepak bola?

Sederhana saja, sebenarnya. Hal terpenting bagi kita sebenarnya adalah memilah prioritas.

Berpuasa jelas merupakan prioritas utama karena kita diperintahkan langsung oleh Tuhan untuk melaksanakannya. Kemudian, prioritas kedua kita adalah aktivitas sehari-hari, entah itu bekerja atau hal lainnya. Terakhir, baru menonton sepak bola.

Lho, menonton bolanya kok malah terakhir?

Nah, inilah mengapa saya menyebut kata prioritas. Menonton sepak bola, apalagi ketika turnamen akbar seperti ini, jelas sangat, sangat penting. Akan tetapi, janganlah sepak bola kemudian kalian kambinghitamkan ketika hidup berantakan.

Ini sebenarnya alasan mengapa saya menempatkan menonton sepak bola pada nomor terakhir; supaya ujung-ujungnya tidak dikambinghitamkan. Kan lucu kalau menyalahkan sepak bola karena terlambat ke kantor, misalnya.

Lha memangnya Anda Paul Pogba? Anda kan kerjaannya cuma menonton, bukan bermain. Jadi ya, tolong. Tolong sekali, jangan sampai sepak bola disalahgunakan.

Oke, sekarang, setelah prioritas sudah jelas, lakukanlah hal-hal yang dapat mendukung pemilihan prioritas tadi, misalnya, makan makanan yang bernutrisi baik.

BACA JUGA:  Koin yang Memberi Kejayaan Bagi Italia di Piala Eropa 1968

Matias Ibo, pernah menyarankan bahwa agar kondisi fisik tetap terjaga, perbanyaklah makanan yang kadar gulanya tinggi, seperti kurma atau madu, ketika berbuka. Kemudian, untuk makan sahur, menurut eksfisioterapis Persib Bandung, Yana Suryana, sebaiknya makan makanan kaya karbohidrat, serat, dan protein.

Kemudian, pola tidur juga harus dijaga baik-baik. Cara paling ampuh untuk menjaga pola tidur adalah memilih betul pertandingan-pertandingan mana yang “layak” untuk disaksikan.

Jika kita memaksakan untuk menonton semua pertandingan – baik itu Euro 2016 maupun Copa America di mana setidaknya tiga sampai lima pertandingan dalam sehari – niscaya kita sendiri yang akan kerepotan.

Bagaimana pun caranya, yang penting sebelum sahur, kita harus tidur terlebih dahulu, karena tidur, menurut Michael Essien, merupakan istirahat yang terbaik.

Sebetulnya tidak sulit, bukan? Puasa adalah sarana untuk mendisiplinkan diri dan asalkan kita mampu menerapkan disiplin tersebut dalam menyeimbangkan puasa dan menonton sepak bola, niscaya nikmat yang akan kita dapat akan berlipat ganda pula.

Nah, apakah kamu semua sudah siap untuk maksimalin puasamu dan maksimalin nontonmu?

Marhaban ya Ramadan, Marhaban ya Euro. Bulan penuh berkah dan sepak bola.

JADWAL-IMSAKIYAH-NONTONIYAH1 OK
WhatsApp-Image-20160620

Disclaimer: Tulisan ini merupakan semacam advertorial yang disajikan oleh tim kreatif Fandom. Bagi Anda yang mau mempromosikan produk-produk tertentu, silakan menghubungi [email protected]

 

Komentar
Yoga Cholandha
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.