Kebangkitan Marco Giampaolo Bersama Empoli

Ketika Maurizio Sarri meninggalkan Empoli demi sepak bola yang lebih baik bersama Napoli pada awal musim ini, banyak pihak yang langsung memvonis mati klub berjuluk Azzurri tersebut. Vitalnya peran Sarri selaku peracik taktik terbukti mampu membawa Empoli bertahan di Serie A pada musim 2014/2015 meski kompetisi ini dikenal tak ramah pada klub promosi.

Selain itu, kepergian Sarri juga kemudian disusul oleh beberapa pemain andalan seperti Daniele Rugani, Elseid Hysaj, Mirko Valdifiori, Simone Verdi, serta Luigi Sepe.

Compang-campingnya kondisi Empoli pada awal musim “diperparah” dengan keputusan manajemen untuk menunjuk Marco Giampaolo sebagai suksesor Sarri. Entah karena memang tidak ada pilihan lain atau bagaimana, yang jelas penunjukkan Giampaolo ini merupakan perjudian besar.

Bagaimana tidak? Tengok saja CV pria kelahiran 1967 tersebut. Sejak musim kompetisi 2009/2010, ia selalu dipecat oleh klub yang diasuhnya. Dengan memilihnya sebagai pengganti Sarri yang eksepsional, tentu langkah ini terlihat sebagai sebuah langkah mundur.

Namun kenyataan berbicara lain. Dengan 12 kemenangan, 16 kekalahan, dan 10 hasil imbang, Empoli justru mampu mengakhiri musim di peringkat ke-10; lebih tinggi dibanding pencapaian mereka bersama Sarri.

Dipimpin ekspenyerang Middlesbrough, Massimo Maccarone, jari tengah mereka acungkan tinggi-tinggi kepada semua yang meragukan. Meski boleh dibilang inkonsisten, tetapi itu semua sudah cukup untuk bisa finis di papan tengah.

Semua mata pun lantas tertuju kepada sosok Marco Giampaolo. Sosok yang musim lalu hanya berkutat di Lega Pro A (dulu Serie C1) bersama Cremonese ini bahkan mampu membawa Empolo berprestasi lebih baik dibanding Maurizio Sarri.

Adapun, pencapaian ini juga kemudian sedikit banyak memantik nostalgia para penggemar Serie A akan keberhasilan Giampaolo membawa Siena finis di posisi tertinggi sepanjang sejarah klub pada musim 2008/2009 (posisi 14 dengan 44 poin). Sebuah prestasi yang ketika itu sempat membuat nama Giampaolo masuk dalam bursa calon pelatih Juventus.

BACA JUGA:  Jalan Berliku Si Kurus

Akan tetapi, Juventus pun kala itu lebih memilih mantan pemain mereka, Ciro Ferrara, untuk menjadi suksesor Claudio Ranieri. Giampaolo pun, mau tak mau, harus menjalani musim kedua bersama Robur.

Dibebani ekspektasi tinggi, mantan gelandang Fidelis Andrea ini justru kemudian dipecat bahkan sebelum Oktober tiba. Momen inilah yang kemudian menjadi semacam kutukan bagi Giampaolo dalam beberapa musim ke depannya.

Enam tahun lamanya Marco Giampaolo berkubang dalam kenistaan. Usai dipecat Siena, ia memang masih dipercaya untuk menangani klub Serie A lain, Catania, akan tetapi, lagi-lagi ia diberhentikan dari jabatannya walau semusim belum berlalu dan digantikan oleh Diego Simeone.

Setelah itu, Cesena pun sebenernya masih mau mempercayakan tim kepada Marco Giampaolo untuk menggantikan Massimo Ficcadenti, namun baru sepuluh laga berjalan, tebasan kapak kembali diterima sang pelatih setelah tim asuhannya hanya mampu merengkuh tiga angka.

Kegagalan beruntun ini kemudian membuatnya seakan-akan masuk daftar hitam di mana selama dua tahun lamanya, pria kelahiran Bellinzona ini tidak mendapat tawaran dari klub mana pun.

Pada 2013, Brescia yang berhasrat untuk tampil kembali di Serie A setelah pada musim sebelumnya gagal di fase playoff, memutuskan untuk mengontrak Giampaolo. Namun, hal ini pun berakhir dengan tak mengenakkan. Bahkan, boleh dikata, inilah rock bottom yang membuat Marco Giampaolo nyaris berhenti dari dunia kepelatihan.

Pada 21 September 2013, Brescia takluk 1-2 dari Crotone di Mario Rigamonti. Ini merupakan kekalahan kedua Rondinelle dari lima laga, di mana tiga laga lainnya berakhir imbang. Hal ini seperti mengingatkan Giampaolo akan kegagalannya bersama Cesena pada 2011 dan menyusul kekalahan tersebut, Giampaolo pun menghilang.

Selama tiga hari berturut-turut tak seorang pun tahu di mana ia berada, termasuk sang adik, Federico. Baru kemudian pada 25 September 2013, ia akhirnya “muncul kembali” dan ternyata sudah berada di kampung halamannya, Bellinzona. Setelah itu, kontraknya pun langsung diputus oleh manajemen Brescia.

BACA JUGA:  Liga Italia dan Kaki-Kaki yang Renta

Banyak pihak yang menyebut bahwa pada saat itu, Marco Giampaolo menderita depresi akut meski berulang kali pula ia menyanggah. Dalam pengakuannya, segala yang terjadi bersama Brescia hanyalah kesalahpahaman belaka, walaupun kemudian, ia mengaku bahwa jika ia tidak ditawari pekerjaan oleh Cremonese pada awal musim lalu, pelatih yang sempat membesut Cagliari ini akan sepenuhnya pensiun dari dunia kepelatihan.

Entah pikiran apa yang menghinggapi manajemen Empoli hingga pada akhirnya mereka berani melakukan perjudian sebesar ini. Faktanya adalah, prestasi Giampaolo di Cremonese sebenarnya tak cemerlang-cemerlang amat.

Tim yang pernah menjuarai Anglo-Italian Cup tersebut hanya mampu dibawanya finis di urutan kedelapan dan tidak cukup bahkan untuk mengikuti babak playoff ke Serie B. Namun, apa pun itu, perjudian tersebut nyatanya berbuah manis.

Mendatangkan pemain-pemain seperti duo Roma, Lukasz Skorupski dan Leandro Paredes, penyerang muda Internazionale, Marko Livaja, serta gelandang Juventus, Marcel Buchel, Giampaolo mampu mengombinasi pemain-pemain tersebut dengan jagoan-jagoan lawas macam Maccarone, Mario Rui, Lorenzo Tonelli, serta Piotr Zielinski dan Ricky Saponara untuk menampilkan sepak bola yang bahkan lebih atraktif ketimbang era Sarri.

Marco Giampaolo kini memang sudah tak lagi menangani Empoli. Kali ini, alih-alih pemecatan, prestasi gemilang lah yang membuat Giampaolo mau meninggalkan batu loncatannya untuk mencoba memenuhi takdir yang selama enam tahun nampak sulit untuk digapai.

Dikaitkan dengan jabatan pelatih AC Milan – terlepas dari situasi seperti apa yang melanda mereka saat ini – jelas merupakan prestise tersendiri bagi pelatih yang sempat bermasalah dengan lisensi melatih ini.

Mari kita tunggu setinggi apa Marco Giampaolo bisa terbang kali ini. Enam tahun lalu ia boleh gagal bergabung ke Juventus, tapi mungkin ia takkan lagi gagal kali ini.

 

Komentar
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.