Kegagalan Transfer Jadon Sancho Pantas Ditangisi

Direktur Borussia Dortmund, Michael Zorc, sudah menegaskan bahwa saga transfer Jadon Sancho telah berakhir. Keputusan final klub dari Lembah Ruhr itu menyatakan winger tersebut tidak hengkang ke Manchester dan tetap bermain untuk mereka musim depan.

Sebuah kesempatan yang sayang sekali dilewatkan oleh peminatnya, terutama yang sudah gencar sekali dikabarkan selangkah lagi mendapatkan Sancho. Kegagalan yang pantas diratapi mengingat pemain muda tersebut sangat berbakat di usianya yang masih belia.

Kelebihan Sancho berada pada kakinya yang lengket dengan bola. Ia datang ke Jerman dari Manchester City dengan modal utama tersebut. Di Signal Iduna Park, kemampuan tersebut berkembang dan mendukung pemuda asal Inggris itu dalam melancarkan aksi yang lain.

Kemajuannya yang terlihat jelas adalah soal pengambilan keputusan untuk melakukan akselerasi dan deselerasi. Ketika pertama kali datang ke Dortmund, ia kerap terlihat bimbang untuk menunjukkan kecepatannya saat menggiring bola dan berakhir dengan lawan yang dapat mengantisipasi serangan.

Kondisi itu berbeda dengan saat ini. Kini, Sancho tahu kapan harus mempercepat larinya dan kapan harus memperlambat dalam menggiring si kulit bulat. Kemampuan tersebut, membuat dribble-nya semakin sempurna.

Dalam melakukan dribble, ia cukup fleksibel. Ketika ruang yang bisa dimanfaatkan cukup besar, Sancho berani beradu lari dengan kecepatan yang mengagumkan. Andai ruang yang tersedia cukup sempit karena pressing pemain lawan, ia bisa menunjukkan betapa lengket kakinya dengan bola.

Sancho juga mahir dalam melakukan body feint. Gerakan badannya sering menipu lawan dan membuat musuhnya tak lagi seimbang. Dalam situasi tersebut, ia dapat dengan mudah melewati penghadangnya.

Dalam kesempatan lain, ia memilih tak melewati lawan. Sancho justru membiarkan beberapa musuh mendekat untuk menjaganya. Dengan begitu, ada ruang kosong yang ditinggalkan lawan. Ruang itulah yang menguntungkan bagi rekan satu tim untuk nantinya menerima umpan.

Untuk menjalankan aksi itu, Sancho bisa memperlambat dribble yang dilakukan tanpa harus kehilangan bola dan juga masih bisa untuk melepaskan umpan di tengah kepungan pemain musuh.

Ia melakukan aksi yang biasa disebut dengan la pausa. Aksi tersebut juga memberi waktu bagi rekan satu tim untuk menempatkan diri dalam posisi yang tepat dalam menerima bola.

BACA JUGA:  Romansa dan Pragmatisme Roberto Mancini

Isi kepala Sancho melengkapi apa yang dilakukan kakinya. Visi yang ia miliki sangat baik. Tak heran, kemampuannya dalam membaca permainan itu membuat winger berusia 20 tahun itu dapat mengirimkan si kulit bulat ke ruang yang menguntungkan bagi timnya.

Teknik umpan yang dimiliki juga tak kalah ciamik. Pertama, Sancho dapat mengirim umpan dalam situasi di bawah tekanan beberapa pemain lawan. Dengan kata lain, pressing resistance yang dimilikinya cukup tinggi.

Kedua, weight of pass yang dikirimkan begitu apik. Dengan begitu, penerimanya tak perlu melakukan banyak sentuhan untuk mengontrol bola dan langsung bisa melakukan umpan atau tembakan jika diperlukan.

Kemampuan tersebut dapat memudahkan dalam melakukan kombinasi umpan di sisi sayap, di mana ia sering beroperasi. Sancho bisa melakukan itu saat pemain Dortmund superior secara jumlah di flank yang ditempatinya, terutama saat Achraf Hakimi sebagai wingback kanan ikut naik.

Di kubu United, situasi tersebut justru serupa di sisi kiri. Setan Merah kerap melakukan overload di tempat Rashford beroperasi. Biasanya, selain penyerang Inggris itu, terdapat pula Luke Shaw yang naik jauh dan juga Anthony Martial yang bergeser sedikit ke halfspace atau ruang apit.

Mereka bertiga, kadang juga dibantu Bruno Fernandes, sering melakukan rotasi dan kombinasi umpan pendek untuk menembus garis pertahanan lawan. Namun, situasi yang berbeda terlihat di flank sebelah kanan.

Aaron Wan-Bissaka yang tidak terlalu dominan dalam menyerang adalah penyebabnya. Oleh karena itu, sisi kanan United lebih sering digunakan ketika fase goal scoring ―keberadaan Mason Greenwood yang lihai dalam finishing juga berpengaruh dalam hal itu.

Sebenarnya tidak ada problem dengan apa yang dilakukan Setan Merah tersebut. Namun, misal Sancho merapat, skema tersebut justru bisa menghambat mantan pemain Manchester City itu untuk mengeluarkan performa terbaiknya.

Jika dimainkan di sayap kanan, Sancho, yang terbiasa dengan agresifitas Hakimi, harus bekerja sama dengan Wan-Bissaka yang memang tak terlalu kontributif saat menyerang. Sayang sekali apabila situasi itu menghambat penampilannya setelah ditebus United dengan mahar lebih dari seratus juta euro.

BACA JUGA:  Mengangkut Sepakbola dengan Mobil Formula 1

Mau tak mau, Wan-Bissaka yang harus memperbaiki kemampuan menyerangnya. Nantinya, peningkatan performa mantan pemain Crystal Palace itu justru menjadi kepingan terakhir dari fleksibilitas serangan United.

Pilihan lain adalah memainkan pemuda kelahiran London tersebut sebagai sayap kiri. Dengan begitu, Sancho tetap bisa mendapatkan support ketika menyerang seperti saat di Dortmund, terutama dari Shaw.

Di sisi lain, Setan Merah juga dapat menjalankan skema seperti biasa dengan mengarahkan aliran serangan sehingga fase goal scoring berada di sayap atau ruang apit kanan. Jika demikian, flank kanan bisa diberikan kepada Rashford yang kemampuan mencetak golnya sangat apik.

Satu yang agak menyakitkan adalah Greenwood yang hampir pasti akan menjadi korban semisal saga transfer itu berujung kabar baik bagi United. Ia memang pemain yang tampil mengagumkan musim ini. Namun, nyaris di segala aspek, pemain sayap tersebut masih kalah dari Sancho.

Kemampuan dribble Greenwood beberapa kali terlihat masih bergantung dengan tersedianya ruang yang besar. Keterlibatannya dalam permainan saat Setan Merah menguasai bola juga tak terlalu sering terlihat, walau sesekali ia juga dapat melakukan kombinasi umpan pendek.

Satu-satunya perbandingan yang dapat dimenangkan oleh Greenwood soal shooting. Ada beberapa zona di luar kotak penalti di mana pemuda 18 tahun itu berani melepaskan tembakan keras dan akurat. Yang mana di zona itu pula, Sancho memilih melakukan dribble atau mengirim umpan.

Dari beberapa poin di atas, dapat disimpulkan bahwa Sancho memang pemain yang tepat untuk menambah kekuatan lini depan United. Bayangkan saja betapa mengerikannya trio Rashford, Martial, dan Sancho ketika menggedor pertahanan lawan, dilengkapi dengan Bruno dan Pogba di belakang mereka.

Akan tetapi, karena transfer Sancho ke Old Trafford sepertinya gagal terwujud, jadi sekarang, silakan meratap saja fans Setan Merah. Jangan coba-coba menenangkan diri dengan berkata “tak apa, kita sudah punya Greenwood”, apalagi berujar “tidak masalah, United masih memiliki Lingard”. Sudah, menangis saja lah.

Komentar
Pendukung Persiba Bantul dengan akun twitter @AndhikaGila_ng