Kenapa Bonek FC Lebih Memilih WO?

Persebaya United mengundurkan diri dari pertandingan leg kedua babak delapan besar Piala Presiden. Sriwijaya FC lolos ke semifinal dengan skor agregat 3-1 untuk Sriwijaya FC.

Pertandingan Sriwijaya FC dan Bonek FC diwarnai aksi mogok dan berujung kemenangan 3-0 kepada Sriwijaya setelah ofisial dan pemain Bonek FC menolak melanjutkan pertandingan. Drama sepak bola yang sungguh konyol di negeri ini.

Penulis merasa keputusan Bonek FC adalah sebuah wajah sepak bola kita yang masih belum dewasa. Begini saja, sebelum membahas lebih lanjut, anda semua harus paham bahwa sebagai penulis saya tidak dituntut untuk memberi solusi. Karena sejatinya saya hanya menulis, dan sesekali mengkritik. Kalau saya bisa memberi solusi, saya sudah menjadi pelatih atau pemain sepak bola profesional, tidak menulis sepak bola seperti yang saya lakukan saat ini.

Eduardo Galeano, dalam salah satu bukunya Soccer in Sun And Shadow sudah menjelaskan opininya mengenai sepak bola sebagai sebuah permainan olah raga yang luar biasa menyenangkan. Ada petikan ucapan Galeano dalam buku tersebut yang khusus penulis copy paste tanpa penulis ubah kata-katanya seperti berikut,

“The pages that follow
are dedicated to the children who
once upon a time, years ago,
crossed my path on Calella de la Costa.
They had been playing soccer and were singing:
We lost, we won,
either way we had fun”

Mungkin para pemain dan ofisial tim sepak bola bisa mulai berpikir jernih tentang apa yang dikatakan Galeano ini. Dalam pengakuan resminya, ofisial tim Bonek FC mengatakan bahwa mereka mundur demi menjadi martir sepak bola nasional karena menilai kualitas wasit tidak membuat mereka nyaman meneruskan pertandingan.

Dengan penuh hormat dan tanpa kehilangan kesopanan sedikit pun, penulis merasa justru dengan mundur dari pertandingan, apa pun alasannya adalah sebuah kebodohan dan ketidakdewasaan yang masih menjadi corak wajah sepak bola kita. Mundur dalam sebuah laga adalah sebuah tindakan pecundang, apapun alasannya.

BACA JUGA:  Sepuluh Hal yang Bisa Dipelajari dari Piala Presiden 2015

Pagelaran Piala Presiden 2015 ini sebenarnya dimaksudkan sebagai titik balik yang kita harapkan membawa perubahan bagi kultur sepak bola kita. Setelah sekian lama bertarung sendiri dengan ego antara pemerintah dan PSSI, akhirnya ada kata sepakat untuk memulai sebuah turnamen sepak bola. Penonton pun bahagia. Pertandingan seru banyak terjadi. Kita melihat Bali United dengan Indra Sjafri yang walaupun kalah dari Arema masih mampu bermain menghibur.

Belum lagi Borneo FC yang dilengkapi punggawa Papua mereka yang membuat corak permainan mereka sangat menyerang dan cepat. Dan tentu saja, tim idola penulis sendiri, Persib Bandung. Bahkan kalau jujur, Bonek FC adalah salah satu tim yang menghibur. Mereka mampu bermain atraktif dengan keberadaan Evan Dimas dan Ilham Udin Armayn, pemain muda kreatif dan eksplosif yang selalu menyenangkan untuk ditonton. Jadi di balik semua fakta yang menghibur dan menyenangkan tadi, kenapa harus mundur dari laga?

Bentuk murni sepak bola menurut Galeano adalah apa yang dimainkan segerombolan bocah di tanah lapang saat senja hari. Mereka berlarian dengan bola sambil bernyanyi. Menang atau kalah mereka tidak peduli, toh hukum sepak bola kan memang seperti itu, ada menang dan ada kalah. Kalau anda masuk ke lapangan sepak bola dan hanya bersiap menang, lalu tidak bersiap kalah, anda bisa main game virtual saja, jangan bermain sepak bola. Penonton ingin menonton pertandingan sepak bola, bukan menonton drama. Pemain pun pasti ingin bermain, bukan keluar dari lapangan seperti pengecut. Penulis sadar tulisan ini sangat kritis dan keras menuding tindakan WO, namun ketahuilah, apa pun alasannya, mundur dalam sebuah pertandingan sepak bola adalah hal yang –setidaknya menurut penulis—bukan sesuatu yang layak didukung. Tidak ada pembenaran untuk itu. Apalagi alasan untuk menjadi “martir dalam sepak bola nasional”. Ayolah, alasan apa itu?

BACA JUGA:  Mengkhidmati dan Memuja Hariono

Anda ingat gol culas dengan tangan yang dilakukan Diego Maradona ke gawang Peter Shilton? Bayangkan kalau timnas Inggris saat itu langsung WO dan meninggalkan lapangan karena kecewa dengan pengesahan gol Maradona yang jelas-jelas menggunakan tangan, kita tentunya tidak akan melihat solo run bersejarah Maradona yang meliuk-liuk melewati kepungan pemain Inggris dan mencetak gol keduanya. Dengan mundur, anda merampas kebahagiaan kami para penonton sepak bola yang karena tidak memiliki kemampuan bermain bola dengan berbagai kondisi untuk menikmati sepak bola berkualitas dan menyenangkan yang sudah kami harapkan ketika datang ke stadion atau saat menyalakan televisi.

Kalau banyak yang menuntut suporter untuk dewasa dalam mendukung tim kesayangannya, penonton pun berhak menuntut hal yang sama bagi pemain dan ofisial tim yang didukung, bukan? Karena cinta itu dua arah. Dari fans untuk klub dan dari klub untuk fans. Jadi, masih berapa drama walk out lagi yang harus kami saksikan sampai anda-anda semua yang bersangkutan ini bisa lebih dewasa dalam menentukan pilihan?

Untuk yang tidak menyaksikan laga Sriwijaya FC vs Bonek FC, bisa melihat cuplikan pertandingannya di bawah ini:

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.