Lionel Messi dan Kutukan Pangeran Bandung Bondowoso

Embun adalah bukti kesetiaan malam yang selalu setia menjemput fajar. Embun tidak pernah memilih dimana dia akan singgah. Dari embun kita belajar tentang kesetiaan, dari embun pula kita belajar tentang ketabahan.

Tak seperti biasanya, pagi itu embun mencair lebih cepat dari biasanya, berpindah kewajah alien yang berdiri di kerumunan manusia. Tak ayal embun berubah menjadi air mata.

Saat tendangan penalti sang alien terbang melayang mengarah ke luar angkasa layaknya Piringan UFO, Piring terbang di luar angkasa. Sang alien menangis saat menyadari dia sedang tersesat dan ternyata lahir di bumi, habitat hidup manusia. Menurut hikayat manusia alien itu bernama MESSI.

Jangan membanting pintu jika masih ingin kembali. Messi membanting pintu dengan sangat keras pagi itu. Sesaat setelah Messi gagal mengeksekusi penalti dan kalah 2-4 di partai final Copa America Centenario 2016 antara Argentina melawan Cile.

Dengan wajah yang carut marut, air mata bercucuran memenuhi brewok yang tumbuh lebat di antara wajahnya. Brewok keberuntungan kata Messi sesaat sebelum pagelaran Copa.

Wajah Messi mengembang dan kusam pagi itu, entah masih dalam keadaan tertekan, emosi, kesal, atau terbebani dengan ucapan “Si Tangan Tuhan” Diego Maradona yang mengatakan timnas Argentina Jangan kembali jika gagal meraih Copa Amerika Centenario.

Messi lalu mengisyaratkan pensiun dari tim nasional Argentina setelah kalah di Final di 3 final berbeda dalam 3 tahun terakhir; final Piala Dunia 2014, final Copa Amerika 2015 dan final Copa America Centenario 2016. Sebuah pagelaran memperingati 100 tahun Copa di tanah Amerika.

Berbagai komentar baik cacian dan pujian memenuhi perdebatan di media sosial pasca-putusan Messi itu. Ada yang menyebut Messi terkena kutukan, ada yang menyebut Messi memang tak beruntung, ada pula yang menyebut Messi yang seorang alien jadi tidak pantas disandingkan dengan Maradona yang seorang tuhan bagi sepak bola Argentina.

Tak jarang di antara netizen di media sosial meminta keadilan kenapa hanya Messi yang harus bertanggung jawab penuh atas Argentina. Kenapa pula tekanan yang dihadapi Messi tak juga didapatkan Ronaldo, si robot, di timnas Portugal.

BACA JUGA:  Paul Pogba dan Bagaimana Menyeimbangkan Puasa dengan (Menonton) Sepak Bola

Mungkin karena “robot” itu buatan Manusia sementara “alien” berasal dari dunia di luar kehidupan manusia sama seperti Maradona yang di juluki “tuhan”. Mana yang lebih hebat robot, alien, atau Tuhan?

Kutukan Pangeran Bandung Bondowoso

Ada 2 syarat utama pesepak bola dikatakan hebat. Pertama; dia hebat di klub yang mempekerjakannya. Kedua, dia hebat pula di negara tanah kelahirannya.

Persepsi inilah yang terbangun hingga hari ini. Jika tak memenuhi kedua syarat itu, kehebatan seorang pesepak bola masih sering diperdebatkan. Tak terkecuali bagi seorang Legenda hidup Brasil, Pele yang memenangkan 3 Piala Dunia dan telah mencetak 1.000 Goal dalam kariernya ikut diperdebatkan para penggemar sepak bola.

Sebab dalam kariernya, Pele tak pernah mencicipi rumput sepak bola Eropa, sebuah tempat yang menjadi barometer habitat pesepak bola hebat. Standardisasi itu pula yang menjadi bahan utama perdebatan siapa yang menjadi pesepak bola terbaik sepanjang masa Pele atau Maradona yang hebat di Barcelona dan Napoli juga hebat pula di Argentina.

Di bagian berbeda, mungkin tak pernah ada yang memperdebatkan kehebatan seorang Zinedine Zidane, pesepak bola yang mungkin telah meraih segalanya baik untuk klub juga untuk negara.

Bahkan jikapun ada standardisasi tambahan hebat juga sebagai pelatih. Zidane sudah masuk kriteria itu. Sebab sekitar sebulan lalu dia telah memenangkan Liga Champions kesebelas (La Undecima) bagi Real Madrid.

Piala Dunia memang seksi, terlalu seksi. Sebab, bagi seorang pesepak bola yang ingin tampil bersama negaranya. Dia pula harus bermain bagus di klub yang mempekerjakannya.

Jadi langkah pertama tentu bagus di klub kemudian mengikuti langkah kedua bermain bagus dan berprestasi untuk negaranya. Messi telah melewati dengan mudah langkah pertamanya. Messi telah memenangkan segalanya bagi Barcelona karena kehebatannya.

Namun, tak ayal apa yang dirasakan Messi juga sama seperti apa yang dirasakan Pangeran Bandung Bondowoso dalam cerita Legenda Candi Prambanan. Kecantikan, keindahan, dan keseksian Roro Jongrang tak jauh beda dengan Piala Dunia yang dikejar-kejar Messi selama ini.

BACA JUGA:  Menanti Persaingan Alexandre Pato dengan Radamel Falcao di Chelsea

Setelah kerajaan Baka jatuh ke dalam kekuasaan Pengging, Pangeran Bandung Bondowoso menyerbu masuk ke dalam Kraton Baka. Dalam penyerangan itu Pangeran Bandung Bodowoso jatuh hati pada kecantikan putri kerajaan Baka; Puti Roro Jongrang.

Namun, Roro Jongrang menolak lamaran sang Pangeran karena dia tidak mau menikahi pembunuh ayahnya dan penjajah kerajaannya. Karena bujukan dan paksaan akhirnya Roro Jongrang berhasil membuka sedikit ruang bagi Pangeran bandung Bondowoso dengan 2 syarat.

Pertama, Pangeran Bandung Bondowoso harus mampu membuat Sumur Jalatunda. Sementara syarat kedua, Pangeran Bandung Bondowoso harus mampu membuat 1.000 candi dalam satu malam. Pangeran Bandung Bondowoso menyanggupi kedua syarat tersebut.

Sama seperti Messi, Pangeran Bandung Bondowoso tak memiliki kesulitan menyelesaikan syarat pertama dengan membuat sumur Jalatunda berkat kehebatannya.

Namun, dalam syarat kedua, kesaktian Pangeran Bandung Bondowoso yang dibantu roh-roh ajaib tak kuasa  saat Roro Jongrang melakukan kecurangan dengan membangunkan dayang-dayang istana untuk mulai menumbuk padi tanda fajar tiba meski saat itu hari masih malam.

Di akhir cerita Pangeran Bandung Bondowoso hanya mampu menyelasaikan 999 candi dan kurang satu candi. Pangeran sangat marah dan mengutuk Roro Jonggrang agar menjadi batu. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir di kisah Candi Prambanan.

Messi telah berusaha semampunya untuk mempersembahkan gelar bagi negaranya. Sementara Pangeran Bandung Bondowoso telah berusaha pula untuk memenuhi permintaan Putri Cantik Roro Jongrang.

Messi dan Pangeran Bandung Bondowoso memiliki persamaan tak mampu menyelesaikan 2 syarat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hidup memang tak selalu tentang apa yang kita inginkan.

Messi tak mengutuki siapa pun ketika dia gagal di Copa America Centenario lalu. Messi hanya mencoba untuk menuruti keinginan si tangan tuhan Maradona untuk tak pulang jika gagal menjuarai Copa Amerika Centenario.

Messi akhirnya pensiun saat umurnya masih 29 tahun. Saat masih dalam keadaan bugar dan kuat. Sebab Messi sangat menyadari alien tak lebih baik daripada tuhan.

 

Komentar
Penulis adalah blogger sepak bola, menulis juga untuk Detiksport. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @anwargigi.