Maskulinitas dalam Penamaan Suporter Sepak Bola

Selama ini suporter Persebaya lazim disebut dengan Bonek, nama yang populer sejak dekade 1980-an akhir dan awal dekade 1990-an. Dalam perkembangannya, interaksionalisme simbolik yang berkelindan di kalangan suporter Persebaya menelurkan nama khusus bagi suporter Green Force bergender perempuan dengan sebutan Bonita. Kata Bonita sendiri secara kebahasaan adalah akronim dari Bonek Wanita. Sebagaimana dengan politik penamaan berbasis gender di kalangan suporter Persebaya, hampir semua komunitas suporter sepak bola lokal di Indonesia mengenal dikotomi penamaan suporter sepak bola berbasis gender seperti ini.

Sabtu, 24 Oktober 2015, tak jauh dari stadion Maguwoharjo Sleman, penulis berbincang dengan Tulus Budi, Andie Peci dan bang Gatot. Awalnya kami tidak bicara tentang suporter sepak bola, namun seiring kopi yang mengalir di tenggorokan kami, perbincangan kami menyentuh pada ranah kata Bonita sebagai penamaan yang bersifat spesifik bagi suporter Persebaya yang bergender perempuan. Andie Peci menyatakan bahwa suporter Persebaya cukup disebut Bonek, baik bagi yang bergender laki-laki maupun perempuan. Tidak perlu sebutan khusus bagi suporter Persebaya yang bergender perempuan.

Saya menyepakati apa yang disampaikan Andie Peci, bahwa tidak perlu ada terminologi khusus bagi suporter Persebaya yang bergender perempuan. Penamaan secara spesifik pada suporter pada hakikatnya justru menempatkan perempuan pada posisi yang dikeluarkan dari dunia “laki-laki” karena mereka adalah feminim bukan maskulin.

Tentang ini ada baiknya kita menoleh pada pemikiran Michael Foucault tentang relasi kuasa (power) dan pengetahuan (knowledge). Jika pengetahuan dianggap sesuai dengan kuasa, maka pengetahuan mengalami proses inklusi, menjadi bagian dari kuasa. Sebaliknya, jika pengetahuan dianggap tidak sesuai dengan kuasa, maka pengetahuan itu akan mengalami proses eksklusi. Dalam konteks kata Bonita, para suporter perempuan Persebaya mengalami inklusi dengan diterima oleh para suporter laki-laki, namun setelahnya mereka mengalami eksklusi dengan hanya boleh berada di ranah “wanita” kala mereka mendapat pelabelan sebagai Bonita.

BACA JUGA:  Deltras (Bukan) Dari Bali

David Gauntlett dalam bukunya Media, Gender and Identity: An Introduction (2002) menyebutkan bahwa istilah maskulin berimplikasi “being a man” bagi laki-laki, dan sebaliknya kata feminim berimplikasi “being a woman” bagi perempuan (Gauntlett, 2002 : 9-10). Kala perempuan harus “being a woman”, maka serempak stereotype akan melekat pada perempuan, yaitu bahwa mereka harus mau tunduk pada dunia maskulin. Ini juga menempatkan perempuan pada pihak yang harus bersedia diatur pria. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa relasi maskulin-feminim seperti kemudian bisa berartikulasi dalam relasi yang bersifat oposisi biner, yang menempatkan perempuan sebagai “the other” (liyan).

Sederhananya demikian, ketika ada labelling Bonita, maka suporter perempuan klub Persebaya harus berada pada dunia feminim. Pada posisi mereka di dunia feminim, mereka harus takluk pada dunia laki-laki, sehingga relasi dengan Bonek (yang dalam hal ini adalah dunia maskulin) tidak berada dalam posisi yang setara. Dengan demikian, memberi nama Bonita kepada perempuan pendukung Persebaya justru kontraproduktif dalam membangun kesetaraan gender. Potensi perempuan untuk berada di arus utama suporter sepak bola terkuburkan dengan penamaan yang harus berbeda dengan nama yang disematkan pada suporter laki-laki. Mereka harus berada pada ruang wacana yang dikhususkan bagi mereka.

Relasi gender bukanlah relasi yang sifatnya alamiah, namun adalah hasil konstruksi relasi manusia dalam menciptakan interaksionalisme simboliknya. Alih-alih memberi ruang yang setara bagi perempuan, politik penamaan yang berbeda bagi suporter sepak bola yang bergender perempuan justru kontraproduktif dalam usaha membangun kesetaraan gender. Jika penamaan yang berbeda bagi suporter bergender perempuan dianggap sebagai apresiasi dan penghormatan bagi perempuan, maka anggapan tersebut dalam perspektif Karl Marx hanyalah kesadaran palsu (false counciousness).

BACA JUGA:  Mencintai Sepak Bola Lokal dengan Skripsi

Baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak sama untuk mendukung klub sepak bola yang mereka puja dari tribun stadion. Perempuan punya hak yang sama untuk menggunakan nama yang sama yang digunakan oleh laki-laki. Para perempuan suporter Persebaya berhak menggunakan kata Bonek, tanpa harus menambahkan kata “wanita”, sebagai identitas diri mereka.

Kami berempat berbincang dari adzan Ashar sampai matahari semakin dekat dengan peraduannya. Gagasan untuk cukup menyebut suporter Persebaya dengan “Bonek” baik bagi suporter laki-laki maupun perempuan yang mendukung Persebaya tidak boleh tenggelam. Gagasan ini jika dipraktekan dalam interaksi keseharian akan menjadi awal yang baik untuk membangun kesadaran gender di kalangan suporter Persebaya saja, namun juga di kalangan suporter klub lain.

Kopi yang kami minum sudah hampir habis, namun gagasan kesetaraan gender di kalangan suporter sepak bola tidak akan pernah habis. Dengan cukup menyebut satu nama bagi suporter laki-laki maupun perempuan, maka gagasan kesetaraan gender tidak akan tenggelam dan terus bersemi.

 

Komentar
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.