Menengok Kembali Kedigdayaan Liga Uni Soviet

Uni Soviet, sebuah negara besar yang sangat disegani pada abad 19 ternyata memiliki sejarah sepak bola yang juga besar. Prestasi negara ini di kancah sepak bola internasional juga cukup bagus dengan prestasi tertinggi adalah juara Euro 1960, dan dua medali emas Olimpiade 1956 dan 1988.

Nama besar dari negara ini yang paling utama tentu Lev Yashin, satu-satunya kiper yang memenangi Ballon d’Or. Namun, bagaimana sebenarnya liga sepak bola Uni Soviet berlangsung pada masanya?

Kompetisi sepak bola Uni Soviet sejatinya sudah diinisiasi pada dekade 1900 dan 1910 ketika Tsar II berkuasa dan kemudian direbut Bolshevik. Namun, kejuaraan yang berlangsung merupakan kejuaraan regional dan setiap juara regional bertanding untuk menjadi yang terbaik di seantero Uni Soviet.

FIFA sendiri tidak mengakui kejuaraan pada era ini sebagai kejuaraan resmi. Pun ketika pemerintahan Uni Soviet benar-benar berdiri pada tahun 1922, tidak ada kejuaraan resmi yang berlangsung secara profesional.

Tonggak sejarah dimulai pada tahun 1936. Fenomena “sport boom” yang mewabah di seluruh negeri waktu itu menjalar sampai sepak bola, sehingga pemimpin tertinggi Uni Soviet, Josef Stalin, mengizinkan liga sepak bola untuk dijalankan.

Pada musim pertama, liga berlangsung dalam dua tahap, yaitu Liga Musim Semi dan Liga Musim Gugur, layaknya Torneo Apertura dan Clausura dulu di Argentina. Empat divisi berlangsung di musim pertama ini dengan total 28 klub sebagai peserta.

Di lain sisi, juga dilangsungkan Union Soviet Football Cup yang diikuti seluruh klub yang terdaftar di liga. Pengelolaan liga sepak bola Uni Soviet berada di bawah kendali All-Union Physical, Physical, Culture and Sport Committee (AUPCSC).

Tujuh tim berpartisipasi di Union Soviet Top League, liga tertinggi untuk musim semi 1936. Klub-klub yang disegani seperti Dynamo Moscow, Spartak Moscow, CSKA Moscow, Lokomotiv Moscow, Dynamo Kiev, Dynamo Leningrad, dan Krasnaya Zarya Leningrad ikut serta. “Tokoh utama” ada pada tim-tim yang berbasis di Moscow.

Dynamo Moscow dikepalai Lavrentiy Beria, chief kemanan dan kepolisian rahasia Uni Soviet yang juga tangan kanan Stalin. Spartak Moscow dimiliki Nikolai Starostin, mantan atlet dan pengusaha ternama waktu itu. CSKA Moscow adalah representasi kekuatan militer. Tak ketinggalan, Lokomotiv Moscow adalah representasi pekerja perkeretaapian dan keluarganya.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Pertama)

Juara pertama Top League diraih Dynamo Moscow setelah menyapu bersih 6 pertandingan. Posisi kedua adalah Dynamo Kiev, sedangkan Spartak Moscow berada di posisi ketiga.

Tim yang promosi ke Top League untuk Musim Gugur 1936 adalah Dynamo Tbilisi yang bermarkas di Georgia (sudah merdeka dan menjadi negara sendiri). Namun, tidak ada tim yang terdegradasi dari Top League ke Divisi Satu. Di sisi lain, Lokomotiv Moscow menjadi juara Piala Uni Soviet untuk pertama kali.

Pada tahun 1940, Soviet Cup dihentikan, dan setahun kemudian, Soviet Top League tidak dilanjutkan karena keikutsertaan Uni Soviet di Perang Dunia II. Spartak Moscow dan Dynamo Moscow berbagi gelar liga sama rata, tiga kali, dalam enam gelaran Top League sebelum Perang Dunia II.

Sebagai tambahan, Spartak Moscow menjuarai dua kali Soviet Cup, sedangkan Dynamo Moscow sekali sebelum Perang Dunia II.

Setelah Perang Dunia Kedua, CSKA Moscow mendominasi liga dengan lima gelar dalam rentang 1946 hingga 1951. Era emas militer Uni Soviet di Perang Dunia II juga berimbas pada kesuksesan CSKA Moscow. Dalam rentang itu, CSKA Moscow dilatih oleh Boris Arkadyev, si jenius yang dianggap sebagai aktor di balik Totaal Voetbal dan Tiki-Taka.

Poros kekuatan kembali berubah pada dekade 1950an. Kemunculan Igor Netto (Spartak Moscow) dan Lev Yashin (Dynamo Moscow) penyebabnya.

Bersama Valentin Ivanov (Torpedo Moscow), dua legenda tersebut menjadi aktor kesuksesan Uni Soviet di Olimpiade 1956 dan EURO 1960, juga kejuaraan internasional mayor lainnya.

Pada dekade ini juga, persepakbolaan negara yang pecah pada tahun 1991 pertama kali menyambut tim dari luar Federasi Rusia, terutama Poros Moskow, yang menjuarai Soviet Cup, yaitu Dynamo Kiev (Federasi Ukraina) pada musim 1954.

Kesuksesan tim dari Kiev tersebut tidak terlalu menular ke tim lain di luar Moskow. Kedua kota ini menjadi poros kekuatan Uni Soviet di kompetisi domestik dan internasional. Secara total, Poros Moskow-Kiev meraih 46 gelar Soviet Top League dari total 54 musim. Ditambah 38 gelar Soviet Cup dari total 51 musim.

Hanya ada enam tim di luar Poros Moskow-Kiev yang menjadi juara Soviet Top League sepanjang sejarah. Satu yang menarik adalah ketika Ararat Yerevan (Federasi Transkaukasia) menjadi juara Soviet Top League dan Soviet Cup di tahun 1973.

BACA JUGA:  Zenit Saint Petersburg: Penantang Ibu Kota yang Agung

Secara umum, Spartak Moscow dan Dynamo Kiev menjadi tim paling sukses di Uni Soviet. Masing-masing meraih 12 dan 13 gelar juara liga. Ditambah juga 10 dan 9 gelar Soviet Cup untuk Spartak Moscow dan Dynamo Kiev.

Sayangnya, prestasi klub-klub Uni Soviet di kancah Eropa tidak terlalu mentereng. Alih-alih, mereka justru lebih sukses sejak berpisah pada 1991. Tercatat, Dynamo Kiev dan Dynamo Tbilisi pernah menjadi juara Piala Winners, masing-masing dua kali (1975 dan 1986) dan sekali (1981).

Kompetisi sepak bola di negara sosialis tersebut pada akhirnya harus berakhir pada awal 1990an seiring keruntuhan Uni Soviet. CSKA Moscow menjadi juara terakhir liga pada 1991, yang dilengkapi dengan double di Soviet Cup. Namun, Soviet Cup sendiri berakhir pada tahun 1992 dengan Spartak Moscow sebagai juara terakhir.

Liga Uni Soviet sendiri telah mencetak legenda di persepakbolaan dunia. Selain Yashin, Netto, Ivanov, dan Arkadyev, terdapat pula nama Oleg Blokhin (top skor Soviet Top League sepanjang masa) dan Valeriy Lobanovsky (pahlawan sepak bola Ukraina).

Tak ketinggalan, Soviet Top League juga menempati ranking kedua untuk koefisien liga di bawah naungan UEFA pada tahun 1987 dan 1988.

Seperti yang (mungkin) dibayangkan banyak orang, persepakbolaan Uni Soviet mengalami banyak intrik dan korupsi. Contoh kasusnya antara lain semifinal Soviet Cup 1939 antara Spartak Moscow Vs Dynamo Tbilisi.

Intrik lain yang terjadi adalah ketika Stalin melakukan intervensi dengan menghilangkan keikutsertaan CSKA Moscow di liga tahun 1952, dan juga pengaturan skor yang hampir tak terpublikasi waktu itu.

Kasus yang paling mencolok adalah propaganda yang memicu Death Match tahun 1942 bagi klub Start (gabungan pemain dari Dynamo Kiev dan Lokomotiv Kiev).

Tulisan ini memang masih jauh dalam menjelaskan kompetisi sepak bola di Uni Soviet. Pastinya banyak sekali detail yang menarik untuk dibahas pada masa kejayaan negara ini.

Lebih dari itu, tulisan ini mengingatkan bahwa pernah ada kompetisi sepak bola yang besar, di salah satu negara terbesar yang pernah ada di muka bumi ini.

 

Komentar
Yudhistira Permana
Mahasiswa Ilmu Ekonomi yang sangat menyukai sepak bola. Bisa dihubungi lewat Twitter @dibyodigdoyo.