Mentalitas Kokoh ala Vladimir Petkovic

Ada kebahagiaan yang terpancar dari para pemain tim nasional Swiss dan juga pelatih mereka, Vladimir Petkovic, selepas laga melawan Prancis (29/6) di fase 16 besar Piala Eropa 2020.

Bagaimana tidak bahagia kalau pada akhirnya Swiss jadi kubu yang memenangkan laga tersebut via adu penalti.

Dramatis, itulah gambaran laga Prancis melawan Swiss. Selama 90 menit pertandingan, kedua tim menampilkan aksi yang luar biasa.

Swiss unggul lebih dahulu lewat Haris Seferovic. Prancis kemudian membalas via tiga gol yang dilesakkan Karim Benzema (dua gol) dan Paul Pogba.

Skor 3-1 bikin kemenangan mendekat ke Les Bleus. Mungkin begitu pikir penonton. Namun La Nati tak mau menyerah.

Mereka bangkit dan sukses menyamakan kedudukan via Seferovic (lagi) dan Mario Gavranovic. Fantastis!

Pertandingan terpaksa dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Tak ada gol yang tercipta sampai akhirnya adu penalti jadi jalan terakhir mencari pemenang.

Di fase itu, Kylian Mbappe jadi pesakitan. Sementara Yann Sommer melesat sebagai pahlawan.

Ya, sepakan Mbappe sebagai algojo kelima Prancis mampu dimentahkan Sommer. Swiss pun melaju berkat kemenangan 5-4  sedangkan anak asuh Didier Deschamps angkat koper lebih cepat dari perkiraan.

Hasil tersebut bikin khalayak terkejut sesaat. Sampai akhirnya, setelah tersadar, mereka melontarkan puja dan puji kepada skuad La Nati, termasuk kepada Petkovic.

Granit Xhaka dan kawan-kawan resmi menggenggam tiket lolos ke perempatfinal Piala Eropa 2020. Bagi Swiss, itu adalah pencapaian terbaik mereka dalam tiga turnamen mayor terakhir yang diikuti.

“Ini malam terindah bagi kami”, ungkap Haris Seferovic seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

Selamanya, Stadion Arena Nationala di kota Bukarest akan dikenang sebagai tempat yang menyenangkan bagi Swiss. Di sanalah, mereka menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola.

BACA JUGA:  Solusi Tak Terduga Bernama Lee Grant

Bangkit usai penalti yang gagal, dua gol penting untuk menyamakan kedudukan, berjuang sampai babak perpanjangan waktu, dan sebuah penyelamatan krusial di fase tos-tosan menjadi elemen penyusun keberhasilan La Nati.

Jujur saja, siapa yang mengunggulkan Swiss kala bertemu Prancis? Tak ada. Namun hal itu tak membuat Petkovic dan anak asuhnya ciut. Petkovic sendiri tahu betul bahwa armada tempurnya di Piala Eropa 2020 kali ini punya kualitas.

Selain aspek teknis, Petkovic juga membuat mentalitas skuad Swiss teruji dalam situasi sulit. Apa yang terjadi di 16 besar adalah kelanjutan dari perjuangan mereka selama fase grup.

Seperti yang kita tahu, Xhaka dan kawan-kawan tidak lolos dengan mudah dari fase grup. Hasil imbang di laga pertama kontra Wales lalu kekalahan dari Italia pada laga kedua memaksa mereka bekerja mati-matian di pertandingan terakhir melawan Turki.

Lewat persiapan yang mantap dan eksekusi sempurna di atas lapangan, kubu Ay Yildizlilar sukses mereka bungkam dengan skor 3-1.

Empat poin yang mereka koleksi sepanjang fase grup akhirnya mengantar La Nati lolos ke fase gugur sebagai salah satu tim peringkat tiga terbaik bersama Portugal, Republik Ceko, dan Ukraina.

Petkovic bukan pelatih dengan nama besar. Kariernya selama ini banyak dihabiskan di Swiss dengan melatih beberapa tim lokal seperti Bellinzona, Sion, dan Young Boys. Prestasinya pun minim.

Pria kelahiran Sarajevo yang memegang paspor Bosnia-Herzegovina dan Swiss ini sempat merantau ke Italia. Para Laziale, suporter Lazio, tentu ingat betul siapa dirinya.

Walau periode kepelatihannya bareng I Biancoceleste berlangsung singkat, tetapi ia sanggup menghadiahkan sebiji gelar Piala Italia 2012/2013.

Petkovic mulai melatih Swiss pada 2014. Ia ditunjuk sebagai suksesor Ottmar Hitzfeld. Bisa dikatakan, Petkovic mewarisi banyak hal dari pendahulunya itu, salah satunya tentu skuad bertalenta yang dipoles Hitzfeld seperti Rodriguez, Shaqiri, dan Xhaka.

BACA JUGA:  Preview Serie A 2017/2018: Juventus Masih Terdepan, Meski Dengan Catatan

Nama-nama inilah yang menjadi tulang punggung La Nati selama satu dekade terakhir dan membuat mereka jadi kekuatan yang wajib diperhitungkan.

Ada satu aspek yang dianggap publik berhasil ditanamkan Petkovic kepada pasukannya. Ya, kemampuan teknis mumpuni takkan cukup untuk bersaing. Mereka wajib mempunyai mentalitas yang kokoh.

Swiss bukanlah tim besar, tetapi mereka juga ogah dilabeli sebagai lumbung gol oleh tim-tim yang di atas kertas lebih kuat. Swiss tak boleh kalah sebelum bertanding.

Karakter kuat itulah yang kemudian terlihat secara jelas dari skuad asuhan Petkovic selama ini. Kala tersingkir di babak 16 besar Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018, Swiss memperlihatkan perjuangan yang elok. Mereka tidak kalah dengan mudah.

Kini, kita akan menunggu bagaimana pendekatan Petkovic di laga perempatfinal melawan Spanyol (2/7) nanti. La Furia Roja tentu jadi unggulan sementara La Nati dilabeli sebagai underdog. Namun status tersebut bukan halangan bagi anak asuh Petkovic untuk menciptakan hal-hal ajaib.

Menang atas Spanyol jelas bukan perkara mudah, persis seperti laga melawan Prancis. Namun bermodal skuad mumpuni dan mentalitas kuat, kans Swiss untuk menyulitkan atau memberi kejutan kepada tim asuhan Luis Enrique tetap terbuka.

Komentar
Penikmat sepakbola yang kebetulan mencoba tekun membaca. Bisa disapa di Twitter via akun @junaidi_afif.