Kazuyoshi Miura: Raja yang Menantang Renta

Para penggemar sepakbola tentu tak asing dengan nama Kazuyoshi Miura. Selain dikenal sebagai pemain sepuh yang masih aktif bermain sampai sekarang, publik juga mengenangnya sebagai pemuda yang dahulu begitu berani merantau ke luar negeri demi mewujudkan mimpinya jadi pesepakbola profesional.

Ia sempat bergabung dengan klub profesional asal Brasil, Palmeiras dan Santos, lalu mencicipi sengitnya persepakbolaan Eropa bareng klub Italia, Genoa, dan kesebelasan beken Kroasia, Dinamo Zagreb.

Di tanah kelahirannya, pemain yang dikenal dengan sebutan King Kazu ini pernah meraup kesuksesan bersama bersama dengan klub Verdy Kawasaki (kini bernama Tokyo Verdy), baik pada kompetisi yang waktu itu masih berstatus amatir (Japan Soccer League/JSL) maupun profesional (J.League), sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 1994.

Bersamaan dengan itu, ada pelbagai prestasi individu yang bikin nama Miura kian melambung. Antara lain menyabet status Japan’s Footballer of the Year dua kali pada tahun 1992 dan 1993, dua kali menjadi pencetak gol terbanyak J1 League pada musim 94/95 dan 95/96, sekali menjadi pencetak gol terbanyak J.League Cup pada musim 91/92, dan menjadi pemain asal Negeri Matahari Terbit pertama yang ditahbiskan sebagai Asian Footballer of the Year pada tahun 1992.

Seiring dengan kejayaan Verdy yang berangsur-angsur menurun, Miura memilih hengkang dan berpindah-pindah klub. Ya, dirinya dikenal sebagai salah satu pemain Jepang paling nomaden. Sampai akhirnya pada tahun 2005 silam, Miura menemukan rumah bernama Yokohama FC. Bareng klub sekota Yokohama F. Marinos ini pula, dirinya menjalani sebuah karier yang panjang di sebuah kesebelasan.

Walau jumlah penampilan semakin berkurang dari tahun ke tahun, tetapi sampai hari ini, Miura tetap dipercaya untuk menjadi salah satu anggota skuad utama kesebelasan yang bermarkas di Stadion NHK Spring Mitsuzawa itu. Terbaru, Miura baru saja menandatangani kontrak anyar berdurasi semusim dengan Yokohama.

BACA JUGA:  Cinta Kiko Insa yang Bertepuk Sebelah Tangan

Keputusan manajemen Yokohama selaras dengan keinginan King Kazu yang belum mau berhenti berlari kendati usianya sudah mencapai 53 tahun. Ya, Miura adalah pesepakbola tertua di muka Bumi yang masih aktif hingga sekarang. Durasi aktifnya bahkan melebihi eksistensi J.League sendiri.

Miura memang anomali. Ketika banyak pesepakbola sudah pensiun saat usianya mencapai kepala lima, dirinya justru ingin terus beraksi. Sang kakak, Yasutoshi, yang dua tahun lebih tua, bahkan sudah pensiun sebagai pemain profesional sedari tahun 2003 silam!

“Saya belum pernah memikirkan apa motivasi atau alasan untuk tetap bermain. Satu yang pasti, perasaan saya terhadap sepakbola dan keinginan untuk meraih kesuksesan tidak pernah berubah sejak saya menjadi pemain profesional di Brasil pada tahun 1986. Gairah saya (kepada sepakbola) tidak pernah berubah,” jelasnya saat diwawancarai oleh Reuters.

Salah satu hal yang pasti beranak-pinak di kepala fans sepakbola terkait Miura adalah kemampuannya menjaga kondisi fisik. Siapapun tahu, gerusan usia akan menurunkan kekuatan tubuh atlet sehingga performanya kian turun kala menua.

Akan tetapi, Miura membuktikan bahwa hal itu tidak mutlak. Ia tetap mampu bermain sepakbola di usianya yang menembus setengah abad. Bahkan, bersaing dengan nama-nama muda yang tenaganya lebih besar dan kuat dibanding dirinya.

Saat diwawancarai oleh Nikkei pada tahun 2017 silam, Miura mengaku bahwa ia menerapkan aturan ketat dalam kesehariannya guna menjaga kondisi tubuh. Ia tidur lebih awal pada malam hari sehingga dapat memulihkan diri guna datang latihan lebih awal keesokan harinya.

Latihannya juga lebih difokuskan pada pergerakan persendian dan saraf. Selain itu, pria yang pernah jadi andalan tim nasional Jepang ini juga melakukan contrast bath therapy, sebuah metode untuk memulihkan kondisi fisiknya dengan membenamkan bagian tubuhnya ke dalam air panas (tapi tidak mendidih) dan air dingin secara bergantian.

BACA JUGA:  J-League dengan Nama Klub yang Unik dan Menarik

“Lebih baik mempertahankan kekuatan dan kualitas tertentu setiap hari (dengan berlatih) dan tetap dalam kondisi terbaik daripada mencetak gol. Hal-hal seperti itu penting dan sulit untuk dilakukan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Miura juga membeberkan rahasia agar berumur panjang yaitu dengan memperkuat pondasi kekuatan fisik untuk berlari dan memolesnya setiap hari. Mentalitas untuk senantiasa menantang diri sendiri dan tidak berleha-leha saat berlatih juga sangat diperlukan.

“Sekitar setahun yang lalu, aku memaksakan diri untuk berlari dari jam enam pagi. Aku bisa saja berjalan, tetapi aku berusaha melawan diriku sendiri yang mudah bersantai-santai. Kalah (secara mental) pada diri sendiri itu lebih menyebalkan daripada merasa kesakitan secara fisik,” tambahnya.

Selain berlatih bersama klub, King Kazu juga menyempatkan diri untuk mengikuti kamp pelatihan di negara Guam selama beberapa hari saat libur kompetisi, termasuk tahun ini (berganti tempat di Okinawa karena pandemi COVID-19).

Bersama pelatih pribadinya, ia menerapkan jadwal latihan yang ketat setiap harinya dari pagi sampai sore. Seperti lari interval, lari cepat, jogging, latihan otot di gym, dan lain-lain. Itu semua dilakukannya agar bugar dan siap menghadapi kompetisi di musim selanjutnya.

J1 League musim 2021 akan mulai bergulir pada Februari mendatang, Miura pun menyimpan sejuta peluang buat menambah jumlah penampilannya di kasta teratas sepakbola Jepang. Satu hal yang ditunggu-tunggu publik adalah selebrasi ikonik Kazu Dance yang terlihat terakhir kali pada 2017 silam. Siapa tahu, hal itu akan terlihat lagi pada tahun keenambelas pengabdiannya di Yokohama.

Komentar
penggemar klub Chelsea FC yang hobi menghabiskan waktu dengan bermain game Football Manager. Bisa diajak bicara melalui akun twitter @mhmdaldirmdhn