Merindukan Kehangatan Rumah Bernama Stadion Merpati

Sesungguhnya tak ada yang lebih indah dari rumah. Walau atapnya bocor ketika hujan tiba, walau sampah berserakan di mana-mana, walau bangku-bangku yang tersusun tak terawat dan rusak berantakan.

Meski begitu, rumah selalu jadi hal pertama yang kurindukan, tempat bermuaranya cinta, dan tempat di mana selalu ada alasan untuk pulang. Rumah itu adalah stadion Merpati, Depok.

Meski tampilan rumah tak nyaman, namun menyimpan banyak kebahagiaan. Aku tak sendiri di rumah ini, ribuan orang lainnya juga membaur menjadi satu di sini.

Meski tak saling kenal, tetapi semuanya memiliki kesamaan, yakni rasa cinta untuk mendukung Persikad Depok, klub profesional dan satu-satunya kebanggan kota Depok. Bisa dibilang, cintalah yang menyatukan kami semua, di rumah besar yang kehangatannya bisa dinikmati siapa saja yang ingin tinggal atau sekadar singgah.

Rumah ini tak hanya bercorak satu warna saja, setidaknya ada tiga basis warna yang sukarela menjadi suporter klub Persikad Depok. Pertama, Depok Mania (Dema) memakai kaos warna biru-kuning, (terkadang orange-nya Persija J).

Kedua, Super Depok yang menggunakan kaos warna biru. Dan ketiga, Ultras Persikad yang identik dengan baju warna hitam dan beberapa berpakaian casual ala hooligan. Namun semuanya satu, melebur di sana. Tak pernah ada permusuhan di antara kami.

Depok Mania yang menjadi warna dominan mau berbagi dengan cabang suporter Persikad Depok lainnya. Sebagai mayoritas suporter, Depok Mania bersikap dewasa untuk tetap melindungi dan mengayomi kubu suporter minoritas lainnya.

Hal inilah yang membuat aku percaya, bahwa basis pendukung Depok, meski berbeda warna, tetap satu tujuan yang terangkai rapi dalam kebhinekaan, sebuah kemewahan yang (mungkin) tidak ada di rumah-rumah lainnya.

BACA JUGA:  Stadion, Patung dan Identitas Kota

Di dalam rumah, semuanya membaur menjadi satu, bernyanyi dan menari dengan melodi nada dan rima yang sama. Mulai dari lagu penyemangat hingga lagu ejekan bagi wasit bergelora sepanjang pertandingan. Selain itu, tak lupa sumpah serapah ribuan kalimat kasar menjurus kotor yang disematkan bagi kubu lawan menjadi kalimat yang tak pernah terlewatkan. Ah, kapan lagi bisa seperti itu, kalau bukan di rumah sendiri.

Mungkin persatuan ini terawat karena adanya cinta. Mungkin terlalu klise untuk menyebut cinta (lagi). Boleh dibilang, selain cinta, kesamaan nasiblah yang membawa kita berada di jalur yang sama.

Sebagai suporter, kami dibenci dan termarjinalkan. Tak hanya suporter dari kubu rival, tetapi juga masyarakat Depok sendiri. Alasannya sederhana, suporter sering dijadikan kambing hitam atas serangkaian aksi keributan dan kerusuhan yang terjadi di wilayah Depok, baik pra atau pasca-pertandingan.

Bila Persikad bermain di kandang, tiga jalan sebagai jalur akses suporter Persikad Depok, yakni jalan Merpati, jalan Nusantara, dan jalan Arif Rahman Hakim bisa mendadak macet lantaran disteril oleh pihak kepolisian untuk suporter lewat, banyak di antaranya dilalui dengan berjalan kaki. Hal ini pastilah dikutuk oleh orang-orang yang menggunakan jalan untuk berkendara. Jalan yang biasanya sudah macet, menjadi lebih macet dari biasanya.

Kemacetan juga bisa bertambah parah apabila suporter kubu rival, yakni Kabomania, suporter Persikabo Bogor melakukan awaydays ke Depok. Mereka  melalukan hal yang sama, yakni long march dari stasiun Depok Baru ke stadion Merpati yang berjarak 3 km dengan dijaga polisi, baik saat datang atau pun saat pulang.

Seringkali, aksi ini menjadi awal mula adanya keributan. Oknum suporter yang tidak bertanggung jawab dari kedua kubu, saling melepar batu atau saling ejek menjadi pemantik. Sumbunya? Jelas saja, Derby Kali Ciliwung. Bila sudah begini, Porles Depok sering jadi tempat singgah sementara bagi korban atau biang kerusuhan untuk bermalam di sana.

BACA JUGA:  Stadion Batoro Katong dan Potret Sepakbola Ponorogo yang Tak Terawat

Itulah sedikit ingatan akan stadion Merpati dan Persikad Depok yang kini hanya bisa dirawat dalam bentuk kenangan. Sejak kepergian Persikad Depok ke Kota Purwakarta pada awal 2015 lalu dan berubah nama menjadi Persikad Purwakarta, rumah tak lagi berpenghuni.

Kepergian Sang Serigala Margonda telah menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Ketika cinta sudah tumbuh mekar dan rasa nyaman sudah melekat, seketika itu pula harus merasakan pilu lantaran hubungan ini harus terpisahkan oleh sebuah hal bernama jarak.

Namun pada akhirnya, aku percaya suatu saat Persikad akan menemukan jalan untuk pulang ke rumah, menjamah kehangatan yang sampai ke hati, di mana rindu selalu pasti, dan cinta selalu berarti. Toh sebelumnya kita memang pernah LDR-an kan, tepatnya saat Persikad hijrah ke Cirebon tahun 2009 lalu yang pada akhirnya sang Pendekar Ciliwung memilih untuk pulang kembali.

Semoga.

 

Komentar
Penjaga gawang @id_fm yang jadi idaman setiap calon mertua. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @handyfernandy.