Ode untuk yang Terabaikan: West Ham United

Sudah bukan barang aneh di dunia ini, ketika hal-hal kecil diabaikan. Hal itu nampak begitu normal, apa yang dianggap usang, tidak relevan, tidak signifikan akan hilang dari perhatian orang. Selayaknya irisan mentimun dalam sajian nasi goreng, eksistensinya menjadi “ada ya sudah, tidak ada pun tidak akan dicari”.

Namun, bukan berarti bagian dari kelompok itu seperti ini tidak pernah mencoba memasukkan diri mereka dalam narasi besar. Secara konstan, selalu ada contoh-contoh manusia yang mencoba membuat mereka menjadi lebih terdengar, membuat dirinya mendapatkan atensi.

Siapa? Manusia biasa – orang-orang pada umumnya yang ditemui di jalan, di warung kopi, aku percaya demikian. Mereka mencoba memberikan rasa yang berbeda, mengupayakan untuk tidak lagi memberikan cecapkan rasa “biasa” pada diri mereka.

Mereka adalah orang-orang yang berupaya untuk tidak lagi disingkirkan, direndahkan, dianggap tidak signifikan, irrelevan, hingga pada akhirnya mendapatkan porsi narasi yang diinginkan.

Perjuangan demikian, adalah perjuangan yang aku rasa paling bisa aku hubungkan dengan diriku. Perjuangan dari seorang anak lelaki biasa, dari keluarga biasa, dari kelompok minoritas, mencoba memberikan rasa berbeda pada tiap orang-orang yang ditemui.

**

Perspektif demikian, tidak datang tanpa ada latar belakang. West Ham United adalah pembuka jalan bagi pemikiran semacam di atas. Sebuah klub biasa dari London Timur, dengan sejarah biasa, dengan prestasi biasa.

Mengikuti mereka selama sepuluh tahun dan dua bulan, rasa “biasa” West Ham ini yang membuatnya begitu dekat. Prestasi mereka, selayaknya orang-orang biasa, terjadi dalam percik-percik kecil yang singkat dan kemudian entah kapan baru akan berpijar kembali.

Narasi mereka adalah narasi yang perlu atensi lebih untuk ditemukan dan menuntut kemauan untuk memperhatikan – tidak hanya melihat. Sebuah narasi yang sangat manusiawi.

Awalnya, percik narasi mereka mulai menarik perhatian pada 20 November 2005, saat mereka bertandang ke Tottenham Hotspur. Baru sedikit melebihi deri seperempat jam dari peluit pertama, West Ham sudah tertinggal karena sundulan Ahmed Mido.

Melalui televisi tua berukuran 14 inch, aku menyaksikan bagaimana West Ham berupaya menyamakan kedudukan. Teddy Sheringham, Marlon Harewood, Bobby Zamora, Matthew Etherington, Yossi Benayoun, orang-orang ini gagal hingga menjelang menit akhir pertandingan.

Entah mengapa, aku yang sebelumnya hanya pernah mendengar West Ham, begitu terikat perhatiannya dan terbawa emosi dengan tiap menit yang berjalan dan kegagalan upaya West Ham menjebol gawang Tottenham.

Aku ingat, bahwa itu baru pertama kali aku merasakan benar-benar menunggu hasil dari pertandingan sepak bola, menonton dengan sebenar-benarnya. Mungkin, itu semua tentang keinginan untuk menang atau bahkan sekadar tidak kalah. Keinginan untuk membuat satu percik yang berbeda, lepas dari rasa “biasa”, lepas dari narasi “klub kecil” dari London.

Waktu itu, penantianku berakhir menyenangkan. West Ham berhasil menyamakan kedudukan setelah Anton Ferdinand berhasil menyambar bola hasil dari tendangan pojok pada menit 90.

BACA JUGA:  Dekade 1990-an: Transisi pada Satu Era, Perkenalan dan Cinta untuk FC Internazionale Milano

Saat itu, seketika bola masuk ke gawang Paul Robinson, aku bangun dari posisi tiduran. Aku acungkan tangan ke udara, berteriak-teriak, kegirangan atas sundulan adik dari Rio Ferdinand. Tidak dengan tim nasional, tidak dengan tim mana pun, sensasi seperti itu hanya aku rasakan ketika menjadi suporter bagi SMA-ku dan West Ham.

Semenjak musim itu, aku mencoba mengklaim diri sebagai suporter West Ham, dengan dasar kecintaan setelah kejadian di 20 November itu, lalu ditambah dengan aku menemukan kembali sosok Teddy Sheringham, kemudian kesemuanya dipuncaki dengan perjuangan West Ham hingga ke final FA Cup – di mana West Ham kalah dalam adu penalti dan hanya Teddy Sheringham yang berhasil menceploskan bola dari empat penendang West Ham.

Selepas musim itu, West Ham kembali seperti manusia biasa, mencoba bertahan untuk hidup, tepatnya berjuang melawan degradasi. West Ham beruntung punya Carlos Tevez, yang menjadi kebangkitan tim untuk bertahan tidak terdegradasi. Tanpa dia, West Ham tidak akan seperti ini.

Puncaknya, di pertandingan terakhir musim 2006/2007, Tevez adalah pencetak gol kemenangan West Ham atas Manchester United dan dengan kemenangan itu memastikan bahwa West Ham lolos dari degradasi.

Sejak itu, apa yang West Ham lakukan adalah memperkuat sisi rasa biasa dari mereka. Mereka kembali menjadi manusia biasa, menjadi seperti orang-orang yang terabaikan. Narasi atas mereka kembali ke seperti sebelumnya, tim kecil.

Mereka berkutat di mediokritas dan hingga pada akhirnya di tangan Avram Grant, mereka terdegradasi. Jujur, aku tidak banyak memperhatikan mereka karena aku merasa pedih melihat tim ini. Tim yang aku pilih untuk kudukung nampak terombang-ambing, hilang arah, terkena kasus, bahkan hingga pada akhirnya harus turun kasta.

Ada ego dan rasa tidak sadar yang berpengaruh, mempertanyakan apakah tim seperti ini patut didukung. Kalah adalah keniscayaan yang mengintip dan seakan siap menyergap, imbang adalah sebuah harapan, dan menang adalah mimpi yang jarang-jarang bisa tergapai.

Tidak kah ingin berpaling, pada kegelimangan tim-tim sebelah, yang menunjukkan bahwa kemenangan begitu mudah. Diraih di minggu ini dan depannya, kemenangan begitu sering hingga merasakan kekalahan seperti sebuah anomali besar yang perlu dijadikan diskursus.

***

Namun, keputusan untuk mendukung West Ham pada akhirnya kembali bulat, tidak lagi berkabut kalut seperti sebelumnya. West Ham kemudian menjadi pilihan, ia ialah hasil dari ketetapan hati bahwa mencinta memang lah tidak pernah mudah.

Melihat West Ham berulang kali kalah, melihat berulang kali harus kehilangan tiga angka karena skor berhasil disamakan, melihat kemenangan hilang dalam sekejap – bahkan berubah menjadi kekalahan, adalah kewajaran. Rasa kecewa, kesal, jengkel, menjadi sebuah kejadian yang berlangsung terlalu sering – hingga pada akhirnya terasa biasa, lalu diwajarkan, dan bahkan ditebak-tebak akan muncul.

BACA JUGA:  Ihwal Cinta untuk Persebaya dan PSS

Keputusan itu, di mana West Ham menjadi tim yang benar-benar dijadikan titik atensi, hadir di musim 2011/2012. Keteguhan itu hadir bukan saat West Ham sedang melambung, seperti saat di final FA Cup 2006, The Great Escape 2007, atau bahkan sekarang ketika West Ham bermimpi bersama Slaven Bilic.

Keteguhan itu hadir ketika West Ham harus terperosok ke kasta kedua, Championship. Momen di mana West Ham harus berkubang di kasta kedua, kemudian mencoba mengamankan posisi untuk tetap berada di Premier League.

Di momen ini, rasanya seperti melihat seorang manusia, mencoba bangkit dari keterpurukan, sebuah momen yang sepertinya dimiliki orang-orang biasa. Narasi atas West Ham mencerminkan narasi atas manusia biasa, cerita manusia-manusia yang diabaikan karena terlalu biasa.

Kekecewaan, kesal, jengkel, dan rasa biasa itu baru banyak berkurang di era Bilic kini. Sebelumnya, Sam Allardyce adalah persamaan yang tepat untuk sepak bola yang mengutamakan hasil, tanpa terlalu peduli estetika dalam memperolehnya.

Sayangnya, Allardyce jarang bisa menerapkan persamaan itu dengan benar-benar ideal. Idealnya, hasil adalah kemenangan, atau imbang – realistis, dengan permainan yang buruk.

Realitanya, Big Fat Sam lebih sering gagal, sudah kalah, mainnya buruk pula. Musim terakhirnya di West Ham adalah musim terburuk sebagai full-time-fans-of-West Ham. Hasil buruk, kekecewaan atas cara permainan yang membosankan, gaya permainan yang monoton, beruntunglah Slaven Bilic datang sebagai mesias atas keterpurukan dan masa kelam permainan Allardyce.

Melihat Slaven Bilic dan West Ham sekarang, adalah bentuk dari upaya West Ham untuk keluar dari narasi normal mereka, narasi sebagai tim kecil, tim medioker. Seakan West Ham seperti manusia yang sedang mencoba berkata bahwa dia punya cerita, dan cerita itu patut disajikan di laman utama.

Sementara ini, West Ham masih di papan atas, di luar kebiasaan sebagai tim papan tengah, atau lebih tepatnya bottom-half. Harapan tinggi atas hasil untuk bisa masuk ke kompetisi Eropa musim depan, namun sisi realistis dan pengalaman berkata bahwa,”West Ham breaks your heart and hopes from time to time.”

Mencintai West Ham, bukan tim-tim besar lainnya, ibarat memeluk segala kekecewaan itu, segala hal-hal normal dalam hidup. Mencintai West Ham tidak pernah tentang piala apa yang akan didapatkan esok, tidak seperti tim-tim besar langganan juara. Mencintai West Ham adalah tentang menciptakan percik-percik kecil, dan menikmati percik-percik itu selagi ada, sebelum semuanya kembali kelam, kembali ke “narasi biasa”.

Mencintai West Ham adalah memuja keterabaian-dari-perhatian, dengan cara mengindahkannya. Membuat apa yang biasanya tidak dipedulikan, menjadi mendapatkan tempat. West Ham yang mengajarkan tentang mengapresiasi percik-percik kecil mudah terabaikan, memperhatikannya, merawatnya, karena bisa jadi hanya itu yang akan kita punya.

 

Komentar
Jack of all trades, aces of some. Jatuh cinta dengan topik-topik sejarah, politik, sepakbola, Timur-Tengah, dan tentang keseharianmu.