Persela yang Beradaptasi Demi Eksistensi

Walau sudah lama mewarnai belantika sepakbola nasional di kasta tertinggi, nama Persela masih identik sebagai klub pelat merah.

Pengelolaan di tubuh Laskar Joko Tingkir masih bergantung pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan meski sudah berbadan hukum dan ada di bawah naungan PT. Persela Jaya.

Presensi Yuhronur Efendi yang merupakan Bupati Lamongan periode 2021-2024 sebagai Chief Executive Officer (CEO) klub menjadi buktinya.

Beberapa wakta lalu, media-media nasional ramai memberitakan tentang akuisisi Cilegon United oleh salah satu pesohor tanah air, Raffi Ahmad. Aktor yang dianggap mewakili generasi kekinian itu lantas mengganti nama klub menjadi RANS Cilegon FC.

Berselang beberapa pekan selanjutnya, giliran Atta Halilintar dan Gading Marten yang ikut bermain di kancah sepakbola Indonesia.

Nama pertama menanamkan modal di PSG Pati seraya mengganti nama klub menjadi AHHA PS Pati FC sedangkan sosok yang disebut kedua mengambilalih Persikota.

Langkah akuisisi klub sepakbola di Indonesia oleh sejumlah artis dengan modal tajir melintir dinilai pengamat sepakbola nasional sebagai bentuk modernisasi sepakbola nasional yang niscaya terjadi.

Hal itu akan mendorong profesionalitas klub-klub yang ada dan mengubah kultur mayoritas tim-tim era Perserikatan yang berstatus pelat merah.

Dahulu, ketika aturan mengenai penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang memaksa klub-klub nasional membentuk badan hukum agar menjadi profesional, banyak yang langkah awalnya terseok-seok.

Namun seiring berjalannya waktu, tim-tim itu dapat menyesuaikan diri dan manajemennya diisi oleh lebih banyak profesional ketimbang pejabat daerah.

Pergerakan dinamis industri sepakbola nasional yang terus mengarah ke modernitas memang sulit dihindari.

Alih-alih menolak, klub-klub Indonesia justru harus mengikutinya agar tercipta iklim yang lebih sehat. Persela sebagai tim kebanggaan masyarakat Lamongan juga terus melakukannya supaya tak tergerus kerasnya industri sepakbola nasional.

Klub yang bermarkas di pesisir utara Pulau Jawa ini sebetulnya memiliki prestasi yang cukup baik. Sejak promosi ke kasta teratas pada tahun 2003, mereka belum pernah terelegasi walau beberapa musim terakhir acap bersinggungan dengan zona merah.

Selain itu, Laskar Joko Tingkir juga masih tercatat sebagai kampiun Piala Gubernur Jawa Timur terbanyak dengan lima gelar.

Torehan ini sama dengan milik Persik dan mengungguli tim-tim dengan nama besar di region Jawa Timur lainnya seperti Arema FC (1 gelar), dan Persebaya (2 gelar).

Industri sepakbola modern tidak bisa dilepaskan dari faktor utama yaitu modal. Di bawah PT. Persela Jaya dengan modal dasar 50 juta Rupiah dan modal awal disetor sebanyak 12 juta Rupiah.

BACA JUGA:  Persela: Berbenah atau Degradasi?

Kepemilikan tim dibagi kepada dua pemilik yaitu H. M. Fadeli (eks Bupati Lamongan 2010-2020) dan Yuhronur.

Jumlah modal PT.Persela Jaya tergolong sangat kecil untuk klub sekelas Liga 1. Bandingkan dengan Bali United dengan modal dasar sebanyak 60 juta Rupiah.

Bahkan Bali United menjadi pelopor klub yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebuah langkah progresif menuju klub profesional dan modern.

Indikasi sepakbola modern berdasarkan buku karangan Timo Scheunemann yang berjudul “14 Ciri Sepakbola Modern”, menyebut sejumlah faktor.

Antara lain dukungan pemerintah yang total tetapi terbatas keterlibatannya, penerapan sistem bermain dari usia dini sampai tim senior secara rapi dan benar, dan komersialisasi sepakbola modern.

Dukungan Pemerintah yang Total Tetapi Terbatas Keterlibatannya

Laskar Joko Tingkir sudah menjadi ikon kebanggaan tersendiri bagi warga Lamongan.

Dalam buku “Persela Menegaskan Identitas Kami” karangan Miftakhul F.S, orang-orang perantau yang berasal dari Lamongan dahulu menyebut dirinya berasal dari Surabaya.

Pasalnya, ketika mengaku asal Lamongan, banyak orang yang tidak tahu bahwa Lamongan merupakan sebuah daerah tersendiri.

Berkat Persela yang eksis di kasta tertinggi sepakbola nasional, banyak orang yang kemudian familiar dengan Kabupaten Lamongan. Yuhronur dan warga Lamongan pun akhirnya bisa menyebut bahwa Lamongan, ya, Soto Ayam, ya, Persela.

Keterlibatan Pemkab Lamongan dalam totalitas mendukung Persela tidak perlu diragukan, bahkan dalam rangka Hari Jadi Klub yang ke-54, Bupati menghimbau ASN Pemkab Lamongan wajib mengenakan seragam Persela.

Totalitas Yuhronur sebagai Kepala Daerah sekaligus CEO klub juga tidak perlu diragukan.

Semenjak masih menjabat sebagai direktur Bank Daerah Lamongan, beliau juga sudah terlibat dalam pengelolaan klub dengan status asisten manajer.

Penerapan Sistem Bermain dari Usia Dini sampai Tim Senior Secara Rapi dan Benar

Zulham Zamrun, Saddil Ramdani, Marcio Suoza, Fabiano Beltrame, Dendy Sulistyawan, Arif Satria, Hambali Tholib, Gustavo Lopez, Kei Hirose, Rafinha adalah sederet nama yang pernah membela Persela pada awal karir mereka di sepakbola nasional sebelum nama-nama mereka dikenal secara luas.

Persela setiap musim selalu menghasilkan pemain dari yang bukan siapa-siapa dan disulap menjadi pemain top. Seakan-akan mereka punya kekuatan magis.

Bahkan di kompetisi nasional kelompok umur U-21  yang sekarang berubah menjadi Elite Pro Academy, Persela menjadi tim dengan koleksi gelar dua kali usai keluar sebagai kampiun pada 2011 dan 2012.

Laskar Joko Tingkir melalui Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Lamongan tiap musim selalu menyelenggarakan kompetisi internal kelas utama.

Hasilnya pun manis karena mampu melahirkan pemain asli Lamongan seperti Taufiq Kasrun, Choirul Huda, Dendy Sulistyawan, dan Birrul Walidain melalui klub sejumlah klub lokal.

BACA JUGA:  Jadilah Bintang, Marselino!

Pada era sepakbola modern, pengembangan karir dan pembinaan usia dini sangat penting bagi kelangsungan klub sepakbola.

Persela menyadari hal tersebut sehingga mengembangkan bibit-bibit muda asli Lamongan melalui Persela Football Academy dengan kelompok umur 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, dan 16 tahun untuk mengisi slot pemain di Elite Pro Academy.

Pantas dinanti hasil pengembangan sepakbola di Lamongan pada usia dini tersebut. Apakah kelak berhasil menelurkan pemain-pemain yang mampu membawa Persela berprestasi di tingkat nasional.

Komersialisasi Sepakbola Modern

Sepakbola modern tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai komersil mengingat dalam mengarungi satu musim diperlukan biaya yang tidak sedikit. Pada masa lalu, Persela mengandalkan dana APBD untuk tetap eksis di kancah sepakbola nasional.

Namun di tengah perubahan yang ada yakni dilarangnya penggunaan dana APBD, Persela dituntut untuk dapat menghidupi dirinya sendiri.

Merujuk definisi industri olahraga yang menghasilkan suatu produk, maka Persela melalui Perselastore menghasilkan berbagai macam produk yang dijual untuk suporter tercinta guna mendulang pundi-pundi untuk operasional tim.

Ada seragam tim, kaus, kemeja, jaket, celana, hingga topi yang diproduksi dan dijual untuk khalayak.

Dalam rangka ulang tahun klub yang ke-54 lalu, Perselastore merilis baju tempur tim dengan desain dan jumlah yang terbatas. Hasilnya, jersi tersebut habis terjual dalam beberapa jam.

Selain itu, Perselastore juga menjual jersi Persela musim 2006 dan 2007 dengan sistem pre-order. Apa yang dilakukan oleh Perselastore adalah siasat untuk menghidupi klub di tengah kompetisi yang tidak berjalan lebih dari satu tahun.

Persela sedang menyongsong era industri sepakbola modern dengan kemampuan adaptasinya agar tetap eksis di kasta tertinggi sepakbola nasional.

Manajemen tak perlu risau akan keuangan klub karena selalu ada LA Mania dan Curvaboys 1967 yang selalu siap membeli beragam produk keluaran Perselastore sebagaimana lirik dalam anthem berjudul Setia Bersamamu.

Dan setia bersamamu kan bersamamu

Sampai kau meraih kejayaanmu….

Tak kan lelah mendukungmu dan bersamamu..

Persela Lamongan ku tetap setia… Bersamamu… 

Patut ditunggu bagaimana eksistensi Persela pada masa yang akan datang.

Akankah mampu eksis dengan berbagai adaptasi yang dilakukan ataukah harus mencari investor baru seraya menjual lisensinya, mengganti nama dan berpindah markas?

Industrialisasi di sepakbola nasional kudu diikuti pergerakan nyata para klub. Persela, dalam kondisi apa adanya, tentu harus melakukan itu supaya tidak terlindas perputaran zaman.

Komentar
Guru sejarah yang menggemari sepakbola. Bisa disapa via akun Twitter @afifyogay