Piala Dunia 2022, Sepakbola dan Hak Asasi Manusia

Mulai pertengahan Maret 2021, babak kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa resmi dihelat.

Negara-negara di Benua Biru akan beradu kemampuan sampai Maret 2022 mendatang (delapan hingga sepuluh laga yang mesti dilakoni dipecah ke dalam periode jeda internasional) guna lolos ke Qatar.

Seperti biasa, negara-negara unggulan seperti Italia, Jerman, Prancis, dan Spanyol kembali diunggulkan buat menjadi wakil Eropa pada Piala Dunia 2022 nanti. Prancis bahkan berstatus sebagai juara bertahan.

Dari sekian momen yang muncul dalam perhelatan matchday pertama dan kedua lalu (24-25 Maret dan 28-29 Maret), aksi pemain tim nasional Belanda, Jerman, dan Norwegia cukup menarik atensi.

Bukan perihal aksi-aksi mereka di atas lapangan, melainkan baju yang mereka gunakan sebelum sepak mula.

Pemain-pemain timnas Belanda mengenakan kaus dengan tulisan Football Supports Change di dada sebelum bertanding melawan Latvia.

Sebelumnya, penggawa Jerman dan Norwegia memakai kaus dengan tulisan Human Rights (Hak Asasi Manusia), masing-masing saat bertemu Islandia dan Gibraltar serta Turki.

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan standar dari hak dan kebebasan fundamental bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, asalnya, etnisnya, kewarganegaraannya, agamanya dan lain sebagainya yang berkaitan dengan personal diri.

Usut punya usut, aksi yang dilakukan timnas Belanda, Jerman, dan Norwegia itu bukannya tanpa alasan. Inisiatif mereka datang setelah ada gerakan boikot Piala Dunia 2022.

Hal ini terjadi lantaran Qatar sebagai tuan rumah turnamen sepakbola antarnegara paling megah seantero Bumi tersebut dituding tak memperlakukan pekerja migran dengan layak.

Mereka memakai kaus itu sebagai dukungan untuk para pekerja migran yang tengah membangun venue Piala Dunia 2022 di negara kaya minyak tersebut.

Sikap yang ditunjukkan timnas Belanda, Jerman, dan Norwegia adalah bentuk protes kepada Qatar yang dinilai sudah mencederai HAM.

Perdebatan terkait pelanggaran HAM di Qatar memang jadi salah satu isu besar jelang dihelatnya Piala Dunia 2022.

BACA JUGA:  Beban Berat Menyandang Predikat 'The Next'

Kasus ini sudah muncul ke permukaan sejak 2013. Qatar sendiri memenangi bidding sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 pada tahun 2010 silam.

Media kenamaan Inggris, The Guardian, melaporkan bahwa pembangunan stadion-stadion megah dan diklaim ramah lingkungan sebagai arena pertandingan Piala Dunia 2022 beserta fasilitas pendukungnya bakal mengorbankan ribuan pekerja migran yang bekerja siang dan malam.

Hal itu terjadi lantaran rendahnya tingkat keamanan yang didapat pekerja saat membangun venue dan berbagai masalah lain, termasuk upah yang tidak layak, tempat tinggal yang tidak representatif, sampai kekerasan yang dialami para pekerja.

Selama satu dekade terakhir, Qatar gencar membangun proyek besar-besaran demi menyambut ajang olahraga paling digemari di muka Bumi itu.

Mereka ingin menciptakan suasana dan pengalaman berkesan untuk para peserta, suporter dan tentu saja korporat.

Selain mendirikan stadion-stadion baru, Qatar juga membangun fasilitas penunjang seperti jalan raya, jaringan kereta, pelabuhan, bandara, sampai rumah sakit, yang kabarnya meraup biaya sampai 200 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut lembaga pemantau Amnesty International, mayoritas pekerja migran yang dijadikan tumbal penyelenggaraan Piala Dunia 2022 berasal dari kawasan Asia Selatan seperti Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.

Isu HAM tersebut nyatanya dibantah oleh otoritas Qatar. Mereka menyebut bahwa hanya terjadi tiga kematian pekerja migran yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada saat membangun venue. Sementara 35 kasus kematian lain tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Lebih jauh, pada Juni 2020 lalu sempat tersiar kabar jika 100 karyawan subkontraktor Qatar, Qatar Meta Coats (QMC) tidak digaji selama tujuh bulan dan tidak digaji saat mengerjakan proyek Stadion Al Bayt.

Martin Odegaard, kapten timnas Norwegia mengatakan bahwa ia dan seluruh rekan setimnya merasa harus membuat pernyataan tegas.

BACA JUGA:  Dejan Out!

Pemain yang tengah merumput bersama Arsenal dengan status pinjaman dari Real Madrid itu mengaku bahwa mereka sangat peduli dengan isu pelanggaran HAM di Qatar dan ingin melakukan sesuatu dengan cara yang tepat.

Maka mengenakan kaus bertuliskan Human Rights sebelum bertanding dirasa sebagai salah satu cara yang jitu untuk mengekspresikan kepedulian tersebut.

Setali tiga uang, gelandang timnas Jerman, Leon Goretzka, mengatakan bahwa aksi yang dilakukan para penggawa Der Panzer sebagai bentuk perjuangan melawan tirani sekaligus kejahatan.

Apa yang telah dilakukan oleh skuad Belanda, Jerman, dan Norwegia memberi bukti sekali lagi bahwa sepakbola bisa menjadi medium yang tepat untuk mengampanyekan sesuatu. Apalagi yang terkait dengan HAM.

Permasalahan tersebut tentunya sangat disayangkan. Wajar jika kemudian para pesepakbola menyuarakan dugaan adanya pelanggaran HAM tersebut.

Induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) sendiri tidak menghukum ketiga timnas yang menyuarakan masalah tersebut.

Federasi yang diketuai Gianni Infantino ini menegaskan bahwa mereka percaya pada kebebasan berpendapat dan kekuatan sepakbola sebagai pendorong ke arah kebaikan.

Soal kecaman terhadap pelanggaran HAM ini bukanlah hal yang baru. Beberapa waktu sebelumnya, para pesepakbola juga ikut memperjuangkan kebebasan HAM. Mereka mendukung pembebasan muslim Uighur dari penindasan oleh pemerintah China.

Negeri berjuluk Tirai Bambu itu dihujani berbagai kritik dari masyarakat dunia atas perlakuan mereka yang dianggap menindas sejumlah besar warga suku Uighur, kelompok minoritas muslim negeri itu, antara lain dengan menahan mereka di kamp-kamp khusus.

Demba Ba, Antoine Griezmann, Mesut Ozil, dan Franck Ribery adalah pesepakbola yang mengecam aksi tersebut.

Sekali lagi, sebagai permainan yang digemari banyak penduduk planet Bumi, sepakbola merupakan medium yang bisa digunakan untuk melawan hal-hal buruk yang terlihat. Sebuah bukti jika sepakbola memang sangat universal.

Komentar
Khairul Anwar
Penggemar tim nasional Indonesia yang merasa bahwa menonton timnas berlaga adalah kewajiban. Bisa disapa di akun Facebook Khairul Anwar atau Instagram @anwarkhairul17.