Saatnya Memuja Aaron Ramsey

Beberapa minggu belakangan, saya seperti mulai diragukan oleh beberapa orang di lingkaran hidup saya sebagai seorang suporter Arsenal yang sahih. Walau sama sekali tak ambil pusing, nyatanya, beberapa performa brilian dari segelintir pemain Arsenal musim ini memaksa saya untuk kembali merekonstruksi dan menumbuhkan kembali ke-Arsenal-an dalam diri saya.

**

Aaron Ramsey adalah salah satu pemain Arsenal yang mulai konsisten sejak dua tahun lalu. Ramsey pula salah satu pemain aktif yang cukup saya idolai di Arsenal, selain Nacho Monreal dan Jack Wilshere.

Sejak patah kaki pada tahun 2010 lalu, dengan sok akrab, saya merasa menemukan diri saya dalam Aaron Ramsey. Kenapa? Karena patah kaki pada dua tulang di daerah lutut kanan Ramsey adalah cedera yang persis sama pernah saya alami ketika masa SMP lalu. Cedera patah kaki membuat saya waktu itu berhenti bermain bola dan mengubur impian menjadi The Next Firman Utina (dulu saya pesepak bola yang cukup lumayan).

Saya menonton langsung proses patahnya lutut kanan Ramsey, karena kebetulan pertandingan melawan Stoke City saat itu disiarkan di televisi. Saya juga melihat ekspresi pucat kapten brengsek idola saya saat itu, Cesc Fabregas, memandangi Ramsey yang terkapar dan meringis.

Lalu muncullah kekhawatiran pribadi dari saya bahwa Ramsey mungkin akan punya masa depan karier di Arsenal yang cukup berat. Belum lagi, mengingat usia Ramsey saat itu yang masih relatif muda, bisa meninggalkan trauma cedera yang akut.

Kekhawatiran itu sempat membesar karena beberapa bulan pasca-cedera dan pulih, Ramsey harus dua kali dipinjamkan ke masing-masing Nottingham Forest dan Cardiff City. Dan sekembalinya dari peminjaman pun, karier dan permainan Ramsey tak kunjung membaik dan berkembang. Hanya jalan di tempat dan stagnan.

Piers Morgan, salah satu selebritis Amerika Serikat yang juga seorang Gooner, suatu kali pernah berujar bahwa Aaron Ramsey adalah omong kosong dan pemain sampah, laiknya Emmanuel Frimpong dan penyerang hebat nan haus gol yang dipuja Real Madrid dan Barcelona, Nicklas Bendtner.

BACA JUGA:  Ramang, Macan Bola Indonesia yang Terlupakan

Trivia di atas adalah sekelumit gambaran tentang betapa fluktuatifnya permainan dan perkembangan Ramsey. Pria Wales ini kerapkali dimainkan Arsene Wenger di segala sisi lapangan tengah. Sebutkan semua role gelandang tengah yang pernah Anda gunakan di Football Manager, niscaya semuanya pernah dibebankan kepada Ramsey selama periode berseragam Arsenal.

Mulai dari pemain sayap, gelandang bertahan, box to box hingga playmaker. Utamanya, karena masih bercokolnya kapten bajingan loyal nan setia bernama Cesc Fabregas, Ramsey harus rela digeser bolak-balik di sayap kiri atau kanan.

Andaikata performa di musim 2013/2014 tak mengilap betul, saya berasumsi Ramsey mungkin akan dimainkan sebagai penyerang tengah atau bek sayap oleh dorongan rasa khilaf Wenger. Untungnya, itu tak terjadi, karena di musim tersebut Ramsey menunjukkan progresi permainan dan kualitas puncaknya sebagai salah satu gelandang tengah terbaik yang dimiliki Arsenal setelah era Samir Nasri dan Fabregas.

Meningkatnya performa Ramsey bertepatan dengan makin komplitnya skuat lini tengah Arsenal dengan kedatangan Santiago Cazorla dan Mesut Ozil. Sejak musim 2013/2014, Ramsey praktis menjadi tak tergantikan.

Dan jangan lupakan mitos tentang beberapa orang terkenal yang kerapkali tewas pasca-Ramsey mencetak gol. Sebutlah Steve Jobs, Muammar Gaddafi, Whitney Houston hingga konon, Osama Bin Laden. Luar biasa, bukan?

Saya pun kadang takut ketika Ramsey cetak gol. Walaupun saya tak terkenal betul laiknya Bin Laden atau Gaddafi. Bayangkan betapa mengerikannya mitos itu karena di musim 2013/2014, rekening gol Ramsey menembus dua digit, yaitu 16 gol, di semua ajang.

Untungnya, tidak sampai 16 orang terkenal harus tewas karena performa brilian Ramsey musim itu. Konon, penolakan Arsene Wenger untuk merekrut kembali Cesc Fabregas musim lalu pun karena berharap banyak pada perkembangan Aaron Ramsey dan tentunya, si kaki rapuh, Jack Wilshere.

Musim ini, Rambo—panggilan akrab Aaron Ramsey—benar-benar menunjukkan kontribusi penting permainannya bagi Arsenal. Mencuatnya badak muda dari Prancis bernama Francis Coquelin tak membuat Ramsey tergeser dari tim inti. Wenger bahkan mencadangkan duo pelari Olimpiade macam Theo Walcott dan Alex Chamberlain guna memberikan posisi kanan untuk Aaron Ramsey.

BACA JUGA:  Michael Jackson dan Kisahnya dengan Sepak Bola

Dan bagi Ramsey, beberapa permutasi posisi yang selama ini dialami dalam rentang karier di Arsenal membuat dia fasih ditempatkan di manapun. Walau sempat cedera dan menepi selama sebulan lebih, ketika kembali pun, utamanya dalam tiga pertandingan terakhir, Ramsey sukses bermain baik dan mengoleksi dua gol serta dua asis.

Selain itu, badai cedera di tim utama membuat Rambo kembali ke posisi favoritnya di gelandang tengah. Posisi ideal yang konon membuat Steven Gerrard memujinya sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di Liga Inggris.

Jangan lupakan pula fakta unik, bahwa setelah moncernya performa Ramsey sejak 2013/2014, Arsenal pun menjuarai Piala FA dua kali beruntun. Puasa gelar sembilan tahun berhenti tepat ketika Ramsey makin moncer. Bahkan, gol penentu kemenangan atas Hull City di final Piala FA dua tahun lalu dicetak oleh kompatriot Gareth Bale ini.

Stabilnya performa Rambo juga bisa membuat Arsenal menggapai mimpi untuk finis setinggi mungkin di Liga Inggris musim ini. Saya tak mau bilang juara, nanti kualat.

Jadi lebih baik, berharap performa brilian Rambo dan catatan asis non-stop Mesut Ozil mampu membawa mimpi indah bagi para loyalis-loyalis Arsenal di luar sana. Dan siapa tahu, beberapa musim depan, Barcelona atau Real Madrid makin tertarik menguras kas uang mereka untuk Aaron Ramsey, bukan? Gareth Bale saja bisa 100 juta, Ramsey dibanderol 80 juta masih boleh tidak?

**

Ngomong-ngomong, saya merasa menemukan kembali ke-Arsenal-an saya dengan membahas Aaron Ramsey. Dengan kumis dan janggut yang perlu dilebatkan lagi serta nantinya berencana saya cat pirang, niscaya saya akan bisa mirip Aaron Ramsey. Doakan, ya.

Tabique.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.