Satu Dekade Mencapai Liga Indonesia

Satu Dekade Mencapai Liga Indonesia
Satu Dekade Mencapai Liga Indonesia

Haru dan sendu, rasa yang tergambar pada suatu waktu di mana saya melihat anak yang dulu masih berusia 11 tahun, dekil, kecil, dan culun itu sekarang sedang bermain sepakbola dalam suasana yang lain. Satu dekade yang lalu dia masih mengenakan pakaian olahraga sekolah dasar untuk bermain dan berlatih sepakbola di kampungnya.

Sekarang dia sedang mengenakan jersey yang bagus, produk apparel kenamaan, dan dia sedang bermain di liga, bersama Madiun Putra, klub kontestan Liga 3 Nasional dari Jawa Timur.

Kisaran tahun 2009 program pusat pembibitan sepakbola (PUSBIT) digulirkan pengurus cabang Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Kabupaten Purbalingga atau disebut Pengcab PSSI (sekarang asosiasi kabupaten/ASKAB), harapannya program tersebut dapat menjadi solusi akan minimnya ruang berlatih sepakbola anak-anak di desa-desa.

Pusat pembibitan tersebut kemudian menyedot minat anak-anak untuk datang dan berlatih. Saya salah satu pelatih di pusat pembibitan sepakbola tersebut yaitu untuk PUSBIT 3, jabatan saya pada saat itu seorang asisten pelatih.

PUSBIT 3 melingkupi wilayah Kecamatan Kaligondang, Pengadegan, Kejobong, dan sekitarnya. Anak yang saya sebut merupakan salah satu anggota dari pusat pembibitan ini atau anak didik saya, dia berasal dari Kecamatan Pengadegan.

Diakhir tahun program pusat pembibitan dievaluasi dengan diadakan kompetisi, tercatat PUSBIT 3 selalu berprestasi dalam kurun waktu 2009 sampai 2010.

Pada 2011 permasalahan klasik di sepakbola amatir muncul, yaitu masalah keuangan. Di kemudian hari masalah tersebut tak dapat diatasi dan akhirnya pusat pembibitan terpaksa gulung tikar.

Akan tetapi berkat kecintaan para orangtua dan beberapa pelatih akhirnya latihan tetap dapat berjalan dalam lingkup organisasi yang berbeda yaitu berupa paguyuban.

Tahun 2012 paguyuban tersebut berkembang menjadi sekolah sepakbola, yaitu sekolah sepakbola Perwira Timur sebagai pengejawantahan pusat pembibitan sepakbola yang berada di wilayah timur Kabupaten Purbalingga.

Diisi orang-orang yang kompeten di sepakbola dan memiliki kecintaan yang lebih terhadap perkembangan olahraga sebelas melawan sebelas ini, anak-anak semakin bersemangat, dengan habitat yang lebih baik mereka lebih terarah dan terprogram.

Tahun 2013 jadi sebuah momentum di mana anak yang saya maksud berhasil masuk di dalam tim sepakbola Kabupaten Purbalingga untuk pekan olahraga daerah (POPDA) tingkat Sekolah Menengah Pertama.

BACA JUGA:  Ketika Perguruan Silat Berdamai dalam Kesamaan Identitas Suporter Sepak Bola

Pekan olahraga daerah merupakan kejuaraan multicabang yang dihelat tahunan, kemudian diputar berjenjang yaitu tingkat Karesidenan, Provinsi kemudian Nasional.

Untuk tingkat Karesidenan Banyumas pesertanya adalah Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, dan Purbalingga. Bak oase di padang gurun tim sepakbola Kabupaten Purbalingga setelah kurang lebih 8 tahun puasa gelar, akhirnya pada tahun 2013 berhasil meraih gelar juara tingkat Karesidenan dan berhak mendapatkan tiket untuk tampil di tingkat Provinsi.

Tak ayal hal ini menjadi pemompa semangat dan keyakinan bagi anak yang saya maksud, di mana dia yang berasal dari sebuah desa yang sangat minim sejarah prestasi sepakbola sekarang dapat menjadi anggota tim juara walaupun saat itu ukuranya hanya baru tingkat Karesidenan.

Saya melihat semangatnya bertambah, tekadnya semakin kuat, orangtuanya pun bercerita bahwa dia sangat tekun dan serius dapat menghidupi keluarga dari sepakbola.

Tim pemenang POPDA SMP ini yang kemudian menjadi kerangka tim junior Persibangga. Persibangga merupakan tim kebanggaan Kabupaten Purbalingga yang pada saat itu berada di level profesional Liga Indonesia (Divisi Utama). Tahun 2014 hampir semua anggota tim POPDA SMP menjadi anggota Persibangga U-18 (kelompok usia dibawah 18 tahun), termasuk anak yang saya maksud.

Menjadi anggota Persibangga muda mempermudah dirinya masuk atau menjadi anggota tim POPDA SMA di tahun yang sama dan tahun berikutnya. Mulai tahun 2015 berlanjut ke tahun 2016 anak yang saya maksud sudah mulai dipanggil tim senior Persibangga walaupun masih dalam status pemain pendamping latihan dan magang.

Status tersebut tak sepele, karena banyak yang berkeinginan masuk dan banyak yang berkomentar susah sekali masuk menjadi anggota tim senior walaupun sekadar ikut berlatih dan menjadi pemain magang.

Tahun 2017 berkat konsitensinya terus berlatih baik di tim Kabupaten maupun di sekolah sepak bola Perwira Timur dia kembali menjadi anggota tim Kabupaten Purbalingga untuk pekan olahraga Provinsi Jawa Tengah (PORPROV).

Dari sini setelah helatan sepak bola PORPROV, di usianya yang mendekati 20 tahun dia sudah berhasil menjadi anggota tim senior Persibangga untuk Liga 2, kemudian pada tahun 2018 dia sudah dapat secara reguler bermain di luar daerah bersama Madiun Putra FC (Liga 3 Nasional Jawa Timur) dan Persiku Kudus (Liga 3 Regional Jawa Tengah).

BACA JUGA:  Persibo Bojonegoro, Lumpia, dan Buku

Anak yang terus menolak menyerah, dia memahami dirinya bahwa dengan sedikit bakat satu-satunya cara untuk mencapai apa yang dia impikan yaitu menjadi pemain sepak bola profesional adalah dengan kerja keras. Prestasinya belumlah mentereng, dia belum menjadi anggota tim nasional, dia juga belum bermain di level tertinggi liga Indonesia.

Akan tetapi di tengah kemustahilan, di mana dia terlahir dari orangtua yang sama sekali tidak mencintai sepak bola, berlatih di lingkungan sekolah sepak bola yang tidak ternama, tidak disokong nama besar eks-pemain Nasional atau eks-pelatih nasional, relasinya pun minim.

Belum lagi lingkungan sepak bola kabupaten pun tidak begitu baik cerita minor terhadapnya masih menyeruak mulai dari arah pembangunan sepak bola yang tidak jelas, minim kompetisi berkualitas, pembinaan usia dini dan usia muda yang tidak diurus dengan baik, dia terus melawan, dia terus menghadirkan optimisme.

Barangkali satu hal yang terus menguatkan optimisme selain orangtuanya adalah di mana dia didukung suatu habitat yang cocok dengan dirinya, sekolah sepak bola Perwira Timur di mana dia berlatih berisi orang-orang penuh optimisme, kecintaan terhadap sepak bola yang tinggi, terus belajar, dan berusaha untuk mencapai top level sepak bola Indonesia.

Sekali lagi apa pun levelnya dia telah menyentuh tahta Liga Indonesia, atau adik-adiknya di sekolah sepak bola menyebutnya dia sudah menjadi pemain liga. Sepuluh tahun dia lalui, entah berapa kali dia kecewa, entah berapa ribu jam dia habiskan untuk berlatih, entah berapa piala kompetisi kelompok usia ataupun senior yang sudah dia dapat, dia terus bekerja sejauh ini untuk mencapai top level Liga Indonesia.

Satu dekade bisa jadi waktu yang lama ataupun cepat, tergantung sudut pandangnya. Tetapi apa yang kita lihat dan menjadi contoh untuk adik-adiknya adalah bahwa capaian menjadi pemain liga adalah hasil dari suatu proses. Proses yang harus dilalui dan dihidupi dengan konsistensi, tekad, optimisme, kerja keras, dan menolak untuk menyerah.

Komentar
Pelatih Kepala SSB Perwira Timur Purbalingga, pemegang Licence C AFC, aktif melatih mulai tahun 2008, penulis bisa dihubungi lewat akun Twitter @sigitpratama23.