Trofi Prestisius yang Memunggungi Michael Ballack

Pandemi Corona yang melanda Bumi selama beberapa bulan terakhir memaksa banyak kompetisi sepakbola di dunia dihentikan. Sebagai cara mengobati kerinduan akan laga atau tayangan sepakbola, induk organisasi sepakbola dunia, FIFA, rutin mengunggah laga-laga klasik di akun Youtube resmi mereka. Salah satu laga yang ditayangkan kembali adalah semifinal Piala Dunia 2006 antara Jerman kontra Italia. Laga ini sendiri bikin perhatian saya mengarah kepada Michael Ballack, kapten Die Mannschaft saat itu.

Melejit sebagai gelandang elegan semenjak membela Kaiserslautern, nama Ballack selalu jadi langganan Jerman di kancah internasional. Saat pindah ke Bayer Leverkusen, Bayern Muenchen dan Chelsea, status Ballack di tubuh Die Mannschaft tak berubah.

Bagi saya pribadi, Ballack merupakan salah satu gelandang tengah terbaik di eranya. Lelaki kelahiran Goerlitz ini menjadi pemimpin sekaligus nyawa permainan dari klub yang diperkuatnya. Kalau saya tidak salah ingat, momen pertama kali saya menyaksikan aksi Ballack terjadi pada perempatfinal Liga Champions 2001/2002 antara Leverkusen versus Liverpool.

Bersama Lucio, Oliver Neuville, Carsten Ramelow, Bernd Schneider, dan Ze Roberto, Ballack memimpin Die Werkself memupus asa The Reds yang kala itu sedang moncer di bawah arahan Gerard Houllier. Kekalahan 0-1 di Stadion Anfield pada leg pertama sukses dibalas secara meyakinkan di leg kedua. Beraksi di Stadion BayArena, Leverkusen menang 4-2 guna memastikan langkahnya ke semifinal. Ballack sendiri jadi bintang di partai tersebut usai mengemas dua gol.

Dalam fase semifinal, Leverkusen berjumpa wakil Inggris lainnya, Manchester United. Sepasang laga kandang dan tandang selalu berujung imbang, masing-masing dengan skor 2-2 dan 1-1. Namun keberhasilan Ballack dan kawan-kawan menciptakan dua gol di Stadion Old Trafford membuat Die Werkself berhak melenggang ke final karena agresivitas gol tandang.

Untuk pertama kali sepanjang sejarah klub, Leverkusen menembus babak puncak di ajang antarklub Eropa paling prestisius. Mimpi membawa pulang trofi Si Kuping Besar pun mengemuka. Namun sial, Real Madrid sebagai lawan membuyarkan hal tersebut. Ballack dan rekan-rekannya terisak setelah wasit meniup peluit panjang akibat kalah 1-2. Zinedine Zidane mencuri atensi di laga ini setelah mencetak gol indah via tendangan voli guna memenangkan sang raksasa Spanyol.

Musim 2001/2002 barangkali jadi peristiwa yang amat pahit untuk seluruh penggawa Leverkusen. Mempunyai kans memenangkan tiga gelar sekaligus yakni Bundesliga, Piala Jerman, dan Liga Champions, tapi tak ada satu pun gelar yang sukses dibawa pulang. Tak heran bila klub yang berdiri tahun 1904 ini beroleh julukan Neverkusen (mengacu pada serentetan kegagalan itu).

BACA JUGA:  Memperbincangkan Penambahan Jumlah Peserta Piala Dunia 2026

Usai membela Leverkusen, karier Ballack berlanjut di Bayern. Narasi yang ia dapatkan berbeda jauh karena di sana Ballack bermandikan kesuksesan. Selama tiga musim beruntun, lelaki setinggi 189 sentimeter ini mengecup trofi Bundesliga dan Piala Jerman.

Catatan apik tersebut berhasil ia replikasi saat mengenakan baju Chelsea. Masing-masing sebiji gelar Liga Primer Inggris, Piala Liga, dan Community Shield serta dua buah Piala FA mampir ke pelukan Ballack yang senantiasa haus akan prestasi.

Satu-satunya kekurangan Ballack hanyalah kegagalannya mengecup titel Liga Champions. Saat membela Bayern, ia tak pernah mentas di final. Sementara di Chelsea, mimpi itu kembali pupus gara-gara The Blues tumbang di tangan Manchester United via adu penalti pada final musim 2007/2008.

Kisah pahit Ballack di ajang seprestisius Liga Champions setali tiga uang dengan kiprahnya bareng Jerman di turnamen kelas wahid. Tahun 1999 menjadi debut Ballack mengenakan kostum Die Mannschaft yang saat itu ditukangi oleh Erich Ribbeck.

Debut pada ajang mayor dilakoninya pada Piala Eropa 2000. Namun apes, perjalanan Jerman sungguh kacau saat itu. Mereka rontok di fase grup dan harus mengepak kopernya lebih cepat.

Kala Jerman dibesut Rudi Voeller, peran Ballack sebagai motor di lini tengah semakin sentral. Ia pun dijadikan pilar utama tim bersama Dietmar Hammann, Oliver Kahn, Miroslav Klose, Neuville dan Schneider pada Piala Dunia 2002.

Aksi solidnya sepanjang 90 menit di semifinal melawan Korea Selatan, termasuk saat mencetak gol penentu kemenangan Jerman, harus dibayar mahal dengan kartu kuning yang ia terima pada menit ke-71. Kondisi itu bikin dirinya mendapat akumulasi kartu dan dilarang tampil di final.

Bertanding di Stadion Internasional Yokohama, Jerman bertemu Brasil guna memperebutkan gelar Piala Dunia. Namun kekuatan tim Samba yang diperkuat trio R yakni Rivaldo, Ronaldinho, dan Ronaldo bikin Die Mannschaft pulang kampung dengan kepala tertunduk. Mereka kalah 0-2 dari wakil Amerika Latin tersebut. Absensi Ballack pada laga pamungkas disebut-sebut sebagai biang keladi ambruknya Jerman.

Ambisi mengecup titel juara kembali disemai Jerman saat mentas di Piala Eropa 2004. Apa lacur, dalam turnamen yang diselenggarakan di Portugal ini, Ballack dan kawan-kawan yang masih dilatih Voeller gagal berbicara banyak. Mereka remuk di babak penyisihan grup lantaran kalah bersaing dari Republik Ceko dan Belanda.

Kesempatan terbaik bagi Ballack untuk berprestasi di Piala Dunia 2006. Ketika itu, Jerman berstatus sebagai tuan rumah. Ekspektasi publik jelas melambung, terlebih pelatih Juergen Klinsmann dianggap punya ramuan ajaib guna tampil sebagai kampiun.

BACA JUGA:  Catatan Hitam Rasisme dalam Sepakbola

Bermain sangat prima sejak babak penyisihan, laju Ballack dan rekan-rekannya ke partai puncak digagalkan oleh Italia. Dalam laga yang amat seru serta menghabiskan waktu 120 menit, Gli Azzurri menumbangkan Die Mannschaft via kedudukan akhir 2-0 lewat sepasang gol dari kaki Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero. Di Stadion Westfalen, air mata kekecewaan penggawa Jerman dan pendukung setianya tumpah. Keinginan untuk menggenggam trofi prestisius kandas sekali lagi.

Akan tetapi, bukan Ballack namanya jika menyerah begitu saja. Piala Eropa 2008 jadi sasaran berikutnya untuk meraup kesuksesan. Jerman sendiri menjadi salah satu kandidat juara ketika itu meski tampuk kepelatihan sudah berpindah tangan, dari Klinsmann ke Joachim Loew.

Bekerja sama dengan Klose, Phillip Lahm dan Bastian Schweinsteiger, Ballack mampu mengantar Jerman ke partai final. Sayangnya, usaha mereka dipatahkan generasi emas Spanyol besutan Luis Aragones yang unggul lewat kedudukan akhir tipis 1-0. Sekali lagi, Ballack dibuat menangis kecewa.

Sejatinya, Ballack punya peluang mewujudkan mimpi beroleh titel prestisius bersama Jerman di Piala Dunia 2010. Namun cedera engkel yang didapatnya pada final Piala FA 2009/2010 kala membela Chelsea, membuyarkan hal tersebut. Ballack terpaksa dicoret oleh Loew dari skuat yang dibawanya ke Afrika Selatan. Die Mannschaft sendiri mengakhiri turnamen pada babak semifinal lantaran keok dari Spanyol.

Selepas itu, Ballack tak pernah lagi mengenakan baju timnas. Apalagi hubungannya dengan Loew juga memburuk karena sang pelatih dianggap mengabaikan keberadaannya sebagai salah satu figur esensial. Di sisi lain, sikap Loew juga bisa dimaklumi karena pada saat itu Jerman sedang dibanjiri talenta-talenta muda brilian dalam wujud Sami Khedira, Toni Kroos, Thomas Mueller, Mesut Oezil, dan Schweinsteiger sebagai andalan di sektor tengah.

Meski pulang dari Piala Eropa 2012 hanya dengan label semifinalis, tapi bareng nama-nama itu juga, puasa gelar prestisius Jerman akhirnya selesai pada ajang Piala Dunia 2014 seusai membungkam Argentina yang dimotori Lionel Messi di partai final.

Siapapun pasti tak menampik buat menyatakan bahwa Ballack adalah satu dari sekian gelandang hebat milik Jerman di era 2000-an. Kemampuannya komplet dan karismanya tinggi sehingga tetap mendapat respek dari lawan.

Karier sepakbolanya pun berjalan cukup elok. Satu-satunya kekurangan dalam curriculum vitae lelaki yang pernah menjadi analis di kanal ESPN tersebut hanyalah raihan trofi prestisius di level klub maupun timnas. Entah kenapa Dewi Fortuna seolah enggan berada di sisi Ballack tatkala kesempatan merengkuh gelar mayor sudah hadir di depan mata.

Komentar
Penggemar Manchester United dan pemerhati sepakbola lokal. Hobi minum kopi sambil mendengarkan lagu-lagu Iksan Skuter. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @topikprasetya