Ulang Tahun AC Milan dan Pertanyaan Sejuta Dollar yang Tak Kunjung Terjawab

AC Milan adalah ‘klub sejarah’ karena yang dibicarakan pendukungnya memang melulu soal sejarah. Ketika Anda menghabiskan waktu dengan pendukung klub ini, Anda seperti berbicara dengan seorang tipikal lelaki paruh baya membosankan yang terus menceritakan kisah sukses tanpa henti.

Lalu memangnya, apa yang semestinya dijadikan topik pembicaraan ketika membahas klub ini?

Saya sebetulnya bukan tipe pendukung yang senang mengungkit-ungkit sejarah. Ketika melihat akun Twitter para fans yang mengunggah foto-foto skuat lama yang bertuliskan kata-kata semacam, “Ada berapa banyak legenda sepakbola dunia di foto ini?”, atau semacamnya, saya juga berpikir dalam hati, “Memangnya apa gunanya semua itu?”

Namun karena kemarin (16/12) merupakan hari ulang tahun Milan yang ke-120, saya jadi berpikir bahwa gembar-gembor sejarah, nostalgia, dan juga harapan-harapan tinggi untuk bangkit ternyata ada gunanya. Tidak lain, karena dengan mengungkit sejarah tersebut, klub ini akan memiliki energi dan dapat menetapkan tujuan.

Ketika Anda memiliki harapan, walaupun dalam bentuk abstrak seperti kenangan, Anda tentu berhasrat untuk mengulanginya lagi. Saat Anda sedang terbaring lemah di tempat tidur akibat terserang penyakit, maka memori-memori indah akan membantu proses penyembuhan. Setidaknya, kesuksesan masa lalu dapat dijadikan patokan untuk mengidentifikasi tujuan Anda kembali, mengingat bahwa dulu Anda pernah sehebat itu.

Kadang, apa yang terjadi pada diri Anda merupakan wujud dari apa yang Anda pikirkan. Jika Anda berpikir bahwa Anda akan sukses, maka kemungkinan besar itulah yang terjadi karena seluruh dunia akan berkonspirasi untuk membantu Anda mencapai tujuan.

Sebaliknya, jika dalam pikiran saja Anda sudah menganggap remeh diri sendiri, maka kemungkinan besar Anda juga tidak akan meraih apapun. Tahukah Anda bahwa salah satu ciri tidak mensyukuri nikmat adalah meragukan (potensi) diri sendiri?

Menggemborkan nama besar tentu saja bukan hal percuma jika Anda sedang melakukan presentasi di depan calon sponsor atau agen seorang pemain terkenal. Apabila Kasper Stylsvig, Chief Revenue Officer dari Milan, melakukan presentasi dengan nada lesu dan tidak membawa-bawa kejayaan masa lalu I Rossoneri tentu saja akan sulit untuk meyakinkan pihak lain untuk menempatkan uangnya kepada klub.

Begitu pula ketika Zvonimir Boban atau Paolo Maldini berhadapan dengan Jorge Mendes, Mino Raiola, Alessandro Lucci atau sederet agen pemain papan atas lain. Pemain yang diburu bisa saja langsung mengangguk setuju untuk bergabung sebab mempertimbangkan bahwa Milan dulunya pernah menjadi klub besar.

Dalam beberapa hal, nostalgia memang menjadi hal yang ampuh untuk menarik minat. Lihat saja pertunjukan musik sekarang ini, banyak yang menyodorkan nostalgia sebagai andalan utama, dan terbukti laku keras untuk dijual, bukan?

Pertanyaan Satu Juta Dollar: Kapan Milan Akan Bangkit?

BACA JUGA:  Liga 1 yang Selalu Dinanti

Meski demikian, ada pertanyaan yang rasanya akan bernilai satu juta dollar yang akan ditanyakan pihak-pihak yang berkepentingan yaitu proyek apa yang sedang dicanangkan Milan agar bisa kembali besar seperti dulu. Dan tentu saja, yang namanya juga diskusi serius menyangkut masa depan, akan dijabarkan 5W1H (What, Who, Where, When, Why dan How). Bukan lagi diskusi mengenai tujuh gelar Liga Champions dan sejenisnya.

Rasanya, dibandingkan dengan pembahasan seputar “What, Who, Where, Why, dan How”, pertanyaan terbesarnya berkelindan pada “When”. Ya, kapan Milan bisa kembali berjaya?

Pertanyaan inilah yang perlu dijawab dengan konkret oleh manajemen lewat performa di lapangan karena hal ini amat serius dampaknya bagi masa depan I Rossoneri.

Mengapa demikian? Marilah kita melihat dengan indikator yang sederhana. Apakah acara nonton bareng (nobar) pertandingan Milan sekarang ini masih sama ramainya dengan 10 tahun lalu?

Selanjutnya, apakah peserta nobar ini didominasi oleh mereka yang usianya 30 tahun ke atas atau sebaliknya? Well, jika jawabannya adalah acara nobar senantiasa sepi dan kebanyakan pesertanya sudah berusia di atas 30 tahun, maka masa depan klub ini dapat dibilang berada di tahap yang cukup mengkhawatirkan.

Adalah penting untuk menarik minat dari generasi muda supaya menjadi pendukung Milan karena generasi inilah yang akan memenuhi stadion, menonton siaran langsung, membeli merchandise, hingga melakukan banter di media sosial pada masa yang akan datang. Merekalah konsumen selanjutnya dalam dunia sepakbola yang telah menjadi industri masif ini.

Tentu saja Milan tidak dapat berharap kepada dukungan yang mengalir dari generasi kakak-kakak atau paman-paman kita semua. Memangnya berapa lama lagi mereka ini akan nonton bola?

Kita tidak bisa menyalahkan perilaku supporter yang tidak setia dan berpaling dari Milan. Mungkin mereka tidak akan sampai hati berpaling untuk mendukung klub Serie A lain, tetapi amat mungkin jika mereka berubah menjadi pasif, apatis, dan tidak akan peduli lagi dengan kondisi tim yang ujung-ujungnya akan menghilangkan antusiasme mereka sendiri untuk menonton, mengikuti perkembangan klub, hingga mengoleksi jersey atau mengeluarkan uangnya untuk memberi nafas kepada Milan.

Sekali lagi, hal ini memang tidak salah karena semakin bertambah umur, maka prioritas akan bergeser. Tapi jika Milan menangan, maka kemungkinan besar masih ada semangat bagi kita untuk mewariskan kecintaan terhadap Milan kepada generasi selanjutnya.

Sebagai gambaran, tentu saja lebih mudah bagi anak-anak kecil di era sekarang untuk mencintai klub Italia lain semisal Juventus atau Internazionale Milano, raksasa La Liga Spanyol macam Barcelona atau Real Madrid, kontestan Liga Primer Inggris seperti Manchester City atau Liverpool. Pasalnya, mereka tidak seperti Milan yang kalahan.

Sudah menjadi sifat alami manusia bahwa mereka enggan menjadi pihak yang kalah sebab itu mendekatkan mereka pada hujatan. Bagi anak-anak di usia sekolah, situasi ini tentu tidak menyenangkan, bukan?

BACA JUGA:  Park Ji-Sung: Big Game Player Andalan Ferguson

Saya sendiri berusaha semaksimal mungkin untuk tetap yakin bahwa masa-masa kejayaan ini akan kembali lantaran sudah banyak perbaikan yang dilakukan oleh manajemen. Namun saya sendiri tidak bisa menjawab kapan momen itu datang.

Apa yang Salah?

Saat ini, Milan dilanda permasalahan yang cukup pelik yakni sulit mencetak gol. Inilah persoalan yang mungkin saja bernilai lebih dari sejuta dollar. Hal ini sungguh aneh mengingat Milan terbiasa dihuni penyerang-penyerang yang bisa mencetak gol dengan cara apapun. Namun I Rossoneri yang sekarang tidak bisa disamakan dengan Milan yang dulu.

Seperti yang terjadi musim 2019/2020, permasalahan Milan ketika di depan gawang lawan adalah hilangnya rasa percaya kepada kawan. Kelihatan sekali para penggawa Milan sering terburu-buru melepas tendangan langsung ke gawang lawan meski kesempatan yang dimilikinya amat kecil dan ruang tembak masih sempit.

Milan amat membutuhkan sosok seperti Gianni Rivera. Tatkala ia berhasil melewati penjaga gawang lawan, sang legenda masih sempat untuk melambatkan gerakan untuk melihat posisi kawan yang lebih lowong, lalu memberikan umpan setengah lambung dengan presisi kepada Pierino Prati yang sedang berlari.

Selanjutnya, Milan juga butuh sosok seperti Manuel Rui Costa. Seorang playmaker dengan mata yang selalu awas plus otak yang senantiasa bergerak buat melihat situasi sekelilingnya. Hal ini membantunya untuk menentukan kapan harus mengumpan, menembak atau menggiring bola.

Terakhir, Milan juga membutuhkan sosok bernaluri tajam semisal Filippo Inzaghi. Penyerang klinis yang tidak perlu mengeluarkan tenaga besar untuk menyepak bola, tapi terus melainkan berpikir dan bergerak guna mencari sekaligus menafsirkan ruang dan menerka ke mana arah bola selanjutnya yang dapat ia manfaatkan.

Amat disayangkan apabila klub tidak juga merespon persoalan ini dengan serius. Bayangkan, klub ini sudah punya pelari cepat dan pencetak gol ulung bernama Theo Hernandez, petarung alot pada diri Ismael Bennacer, juara crossbar challenge anak ajaib berwujud Rafael Leao, bek tengah elegan yang bernama Alessio Romagnoli, penjaga gawang prodigy yaitu Gianluigi Donnarumma, hingga penyintas cedera parah dalam diri Andrea Conti dan Mattia Caldara.

Saya tidak bisa membayangkan jika sosok-sosok mengagumkan ini gagal mencuri kesempatan bermain di ajang sekelas Liga Champions dengan memakai seragam merah-hitam.

Pada hari ulang tahun ke-120 klub yang telah menjadi bagian dari perjalanan saya (dan mungkin juga Anda) dalam menonton sepakbola, pasti kita semua berharap bahwa pertanyaan sejuta dollar ini akan segera terjawab. Semoga saja.

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast