Upaya Le Coq Sportif Mempertahankan Eksistensi

Our products have a simple, almost timeless quality. It’s a fundamental part of our brand’s heritage. It makes us who we are. – Le Coq Sportif.

Dewasa ini, dunia usaha, baik yang mikro atau makro, sering menawarkan satu aktivitas yang dinamakan dengan workshop. Satu pemahaman umum yang berarti berkumpulnya para pelaku usaha dalam suatu ruang untuk melakukan komunikasi terkait ide-ide yang akan dipertukarkan.

Dalam workshop sendiri terdapat syarat-syarat yang harus terpenuhi seperti adanya seorang pemateri yang mengetahui permasalahan, seorang peserta yang ingin menemukan jawaban dari permasalahan yang mereka alami dan yang paling penting adalah memahami dan menemukan solusi berupa interaksi dalam kegiatan tersebut.

Dunia workshop sendiri tak hanya dinikmati oleh generasi millennial atau Z, tapi juga para boomer seperti Émile Camuset yang meninggalkan dunia perkereta apian dan mengambil rIsiko dengan mengabadikan dirinya untuk membuat suatu atelier, workshop, guna melanjutkan usaha tekstil yang dijalankan oleh bibinya yang diberi nama Café des Sports serta diinisiasi pada tahun 1882 di comune Romilly-sur-Seine, Kota Aube, Troyes, Prancis.

Di kota dengan luas 6 ribu kilometer persegi itu, ia bersama kedua anaknya yaitu Roland dan Mireille, memproduksi kaus, celana pendek dan pakaian olahraga dari sepakbola hingga rugby.

Lalu Émile membuat sweatpants atau celana olahraga berbahan katun atau polyester, tali elastis di pinggang, tak berkantong dan membuat variasi seperti fashion pants atau muscle pants dengan logo berbentuk segitiga untuk menandakan hubungan keluarga yang disertai ayam jantan simbol Wallonia guna membedakannya dari produk sejenis buatan Inggris pada masa itu.

Akan tetapi, usahanya mengalami penutupan pada masa pendudukan Nazi-Jerman di kawasan Prancis selama Perang Dunia II. Hingga akhirnya, jenama kepunyaan Emile bangkit serta dilekatkan nama baru yakni Le Coq Sportif (LCS) selepas peperangan tersebut.

Analisis tajam tentang jatuh dan bangunnya Le Coq Sportif dituturkan oleh Martin Soma di situs capital.fr. seraya jadi rujukan banyak pihak. Menjadi pemasok resmi perlengkapan olahraga di bidang sepakbola maupun balap sepeda bergengsi, Tour De France, adalah cara yang ditempuh Le Coq Sportif guna memperlihatkan eksistensinya.

Roland Camuset, putra dari Émile, mengatakan bahwa reputasi dibangun dengan menandatangani kemitraan dengan federasi internasional, memainkan peran para bintang seperti Johan Cruyff hingga Michel Platini, bahkan menyusup ke wilayah lain seperti media dan periklanan.

BACA JUGA:  Kisah Hernandez Bersaudara: Diusir dari Rumah hingga Ditinggal Sang Ayah

Upaya Roland mengingatkan pada istilah entrisme yaitu strategi politik dari satu organisasi untuk bergabung dengan organisasi lain demi memperluas pengaruh, ide atau program. Benar saja, di era 1960-an, Le Coq Sportif melesat sebagai salah satu jenama perlengkapan olahraga paling bonafide di muka Bumi.

Sayangnya, kepopuleran yang digapai terlalu cepat bikin manajemen Le Coq Sportif keburu puas sehingga akhirnya mereka terkulai tak berdaya saat para pesaing memperlihatkan pelbagai inovasi brilian.

Momen-momen suram dirasakan oleh Le Coq Sportif ketika mengalami kesulitan finansial akibat kesalahan strategi manakala menggabungkan semua pabrik di bangunan lama dengan pinjaman besar. Padahal jenama-jenama lain memilih melakukan outsourcing secara masif. Ketika perekonomian lesu, hanya ada dua pilihan yang tersedia, gulung tikar atau mencari mitra keuangan.

Salah satu jenama perlengkapan olahraga raksasa dari Jerman, Adidas, melihat ketidakberdayaan Le Coq Sportif. Mereka pun berinisiatif untuk menyelamatkan sang ayam jantan dengan menjadikannya sebagai anak perusahaan di bawah kepemimpinan Horst Dassler yang mengagumi kualitas tekstil Le Coq Sportif.

Ketika Nike mulai menyasar benua Eropa, Le Coq Sportif di bawah arahan Adidas tak ingin kalah dan mulai bergerilya. Mereka akhirnya sepakat jadi pemasok seragam tim nasional Italia di Piala Dunia 1982 dan tim nasional Argentina di Piala Dunia 1986. Fantastisnya, kedua negara itu sukses menjadi kampiun dunia saat mengenakan kostum buatan Le Coq Sportif.

Tak berhenti sampai di situ, mereka juga mensponsori banyak kesebelasan sepakbola di dunia, baik yang profesional maupun amatir. Membuka pabrik di Asia pun jadi salah satu cara yang ditempuh guna meningkatkan produksi. Progresi itu membuat Adidas tak kuasa untuk menawarkan Le Coq Sportif ke berbagai investor sampai akhirnya resmi jatuh ke tangan American Brown Shœ.

Pada tahun 2005, Le Coq Sportif kembali masuk bursa jual. Perusahaan Swiss, Airesis, jadi pihak yang sepakat melakukan akuisisi saham. Di bawah kendali Airesis, Le Coq Sportif semakin maju dengan lonjakan omzet mencapai 100 juta euro atau naik empat kali lipat.

BACA JUGA:  Sepatu Berbahan Daur Ulang Adidas Khusus untuk Lionel Messi

Ada 4 juta pasang sepatu Le Coq Sportif yang terjual dalam setahun serta menghasilkan omzet ¾ dari keseluruhan omzet yang mereka peroleh. Sepatu-sepatu itu sendiri dibuat di sejumlah pabrik di Asia dan Portugal. Alhasil, geliat Le Coq Sportif pun makin terasa.

Pengusaha Robert Louis-Dreyfus dan Christophe Morize, bos Airesis, tak ingin berhenti sampai di situ. Mereka mencoba peruntungan agar reputasi Le Coq Sportif terangkat lagi dengan menggandeng sejumlah atlet dan mantan atlet tenar seperti Yannick Noah (tenis), Sebastien Loeb (reli dunia), dan Frederic Michalak (rugby) sebagai ikon mereka.

Geliat Le Coq Sportif juga merambah dunia sepakbola lagi dengan mensponsori beberapa klub profesional seperti Atletico Mineiro, Fiorentina, Saint-Etienne dan tim nasional Kamerun.

Wajib diakui bila Le Coq Sportif, layaknya jenama lain, berlomba-lomba untuk mengembalikan daya tarik dengan menciptakan produk yang menjangkau segala tingkatan umur serta melekatkan diri sebagai bagian dari identitas tim-tim sepakbola, balap sepeda dan lain sebagainya.

Pada tahun 2014, Le Coq Sportif mengintegrasikan tahap produksi dan industrialisasi untuk menjaga kualitas, daya tahan dan menginvestasikan sumber daya manusia dengan merekrut pekerja berpengalaman serta menambah alat teknologi berupa mesin cutting edge kala dipimpin Frank Heissat yang memiliki pengetahuan tentang rantai produksi jenama setelah berkecimpung selama 18 tahun bersama Nike dan Oakley. Heissat menggantikan Chief Executive Officer (CEO) sebelumnya, Marc-Henri Beausire.

Meski sudah berusia lanjut, Le Coq Sportif ingin memperlihatkan eksistensinya dalam industri perlengkapan olahraga. Mereka tentu ogah kehilangan nama besarnya di hadapan jenama-jenama baru yang belakangan ini semakin masif berekspansi.

Le Coq Sportif tetap ingin menjadi satu jenama andalan dalam masyarakat industri olahraga modern seperti pembacaan Bouchet dan Hillairet dalam Marques de sport (Management et sport).

Dari ruang kecil dengan suatu atelier, workshop di Café des Sports, sang ayam jantan mencoba bertahan selama lebih dari 130 tahun dengan membusungkan dada, mengangkat kepala, menaikkan ekor dan berkokok nyaring seperti logo barunya.

Diktum simbol Wallonia pun bergema: berkokoknya sang ayam jantan di setiap pagi yang baru membuatnya jadi simbol kemenangan di hari terang atas kegelapan.

 

Komentar