Viktor Fischer: Cemerlang di Football Manager, Redup di Dunia Nyata

Viktor Fischer: Cemerlang di Football Manager, Redup di Dunia Nyata

Para penggemar game Football Manager pasti tidak asing dengan nama pesepakbola asal Denmark, Viktor Fischer. Di dalam permainan yang digemari banyak orang tersebut, Fischer masuk ke dalam kategori wonderkid pada edisi 2011-2013. Berkat label mentereng itu, wajar apabila Fischer menjadi buruan para manajer.

Di dunia nyata, nama pria kelahiran sempat meroket tatkala membela raksasa Belanda, Ajax Amsterdam, dalam rentang 2012-2016. Kala itu, dirinya merumput bersama nama-nama ciamik lain seperti Toby Alderweireld, Daley Blind, Jasper Cillessen sampai Christian Eriksen.

Akan tetapi, kebintangan nama-nama di atas membuat sorotan kepada Fischer tak terlalu besar. Padahal, kemampuannya sudah diakui dan selalu jadi andalan.

Bersama klub yang berkandang di Stadion Johan Cruijff Arena tersebut, Fischer sukses mengecup sepasang titel Eredivisie dan sebiji Johan Cruijff Shield. Dirinya bahkan didapuk sebagai Ajax Talent of The Year pada musim 2012/2013. Sebuah pertanda jika kapabilitas Fischer sangat diapresiasi.

Menariknya, sebelum memutuskan Ajax sebagai tempat menimba ilmu di luar Denmark, Fischer menolak tawaran dari tim-tim sekelas Chelsea, Internazionale Milano dan Manchester United yang kesengsem akan kemampuannya setelah melihat aksi menawan Fischer pada ajang Piala Dunia U-17 tahun 2011 di Meksiko.

Pada tanggal 23 Januari 2016 silam, Fischer menorehkan rekor penampilan ke-100 bareng De Godenzonen. Alhasil, dirinya pun sah menjadi pemain ke-159 dalam Club van 100, sebuah daftar resmi para penggawa yang telah mencatatkan 100 penampilan bersama Ajax.

Bersamaan dengan itu, Fischer mengungkapkan bahwa ia berniat untuk mencari tantangan baru di luar Belanda meski kontraknya tersisa sampai musim panas 2017.

Pindah ke Inggris

Meninggalkan Ajax yang notabene klub top di daratan Belanda, Fischer kemudian terbang ke utara guna melanjutkan kariernya. Inggris menjadi pilihan sosok asal Aarhus tersebut. Namun nyelenehnya, klub papan bawah, Middlesbrough, yang ia pilih sebagai pelabuhan anyar. Banyak pengamat yang tak habis pikir dengan keputusan Fischer.

BACA JUGA:  Bagus Kahfi dan Impian Bermain di Eropa (Bagian Kedua)

Dengan biaya senilai 5 juta euro, The Boro mendaratkannya ke Stadion Riverside. Ia diproyeksikan menjadi andalan sang juru taktik, Aitor Karanka. Berbekal agresivitas di bursa transfer dengan merekrut sejumlah nama lain seperti Antonio Barragan, Marten de Roon, Rudy Gestede, Gaston Ramirez hingga Victor Valdes, keyakinan Middlesbrough untuk berbicara banyak pun mengemuka.

Akan tetapi, segalanya jauh panggang dari api. Ramuan taktik Karanka dianggap kurang memuaskan sehingga di tengah musim, ia didepak dan digantikan Steve Agnew. Tragis, pergantian tersebut tak membuahkan hasil karena The Boro finis di peringkat ke-19 klasemen akhir Liga Primer Inggris 2016/2017. Akibatnya, mereka harus rela terelegasi ke divisi Championship.

Makin mengenaskan, performa Fischer di tanah Inggris juga tak semengilap di Belanda. Hanya bermain di 16 partai dalam semua kompetisi yang dijalani Middlesbrough, Fischer tak pernah mencatatkan namanya di papan skor.

Numpang Lewat di Jerman

Kisah tragis bareng Middlesbrough coba dibuang Fischer dengan menandatangani kontrak bersama FSV Mainz 05 jelang Bundesliga musim 2017/2018 berputar. Kebetulan, pelatih Mainz saat itu, Sandro Schwarz, gencar mendatangkan pemain baru sebagai penguatan armada demi misi lolos dari jurang degradasi.

“Saya tertarik dengan ucapan Direktur Olahraga, Rouven Schroder, dan pelatih, Sandro Schwarz, tentang Die Nullfünfer. Saya ingin menjadi bagian dari tim secepat mungkin, menemukan performa terbaik, dan menunjukkan kualitas saya di atas lapangan”, ucap Fischer seperti dirilis laman resmi Mainz.

Ambisi besar Fischer ternyata semu belaka karena penampilannya di Stadion Opel Arena sangat memble. Ia cuma turun di 12 partai seluruh kompetisi dan mengukir 2 gol. Duit sebesar 3 juta euro yang dikucurkan Mainz pun terasa sia-sia. Lebih ironis lagi, masa bakti Fischer di Mainz hanya berlangsung selama enam bulan.

BACA JUGA:  Yacine Adli : Dimensi Baru Lini Tengah Milan

Mudik ke Kampung Halaman

Pada Januari 2018 ia memutuskan untuk hengkang dari sana dan mudik ke kampung halaman guna membela FC Kobenhavn. Harapan Fischer untuk kembali ke form terbaiknya diamini oleh Stale Solbakken, pelatih dari tim yang berdiri tahun 1992 tersebut.

“Selama beberapa tahun terakhir, dia merupakan salah satu talenta paling menarik di Eropa. Namun setelah petualangan di Ajax, dia belum menemukan klub yang tepat. Kami percaya bahwa Kobenhavn adalah tempat yang tepat untuknya, begitu juga dirinya bagi Kobenhavn”, ujar Solbakken seperti dilansir dari laman resmi klub.

Musim 2018/2019 diakhiri Kobenhavn dengan titel juara Liga Super Denmark. Fischer sendiri menampilkan aksi yang cukup memuaskan dengan tampil di 22 pertandingan seraya mengepak 7 gol dan 9 asis di seluruh ajang.

Sementara di musim ini, Fischer dan rekan-rekannya tengah bersaing dengan FC Midtjylland, yang kebetulan adalah bekas klubnya sebelum menjalani karier profesional di Ajax. Sampai pekan ke-20, kedua kesebelasan hanya terpisah empat poin saja.

Ada banyak faktor yang membuat performa Fischer menurun selepas membela Ajax. Minimnya kesempatan bermain lantaran tak dipercaya pelatih ataupun proses adaptasi yang berjalan tak mulus bisa jadi sejumlah penyebab. Namun yang pasti, Fischer adalah gambaran riil bahwa perjalanan karier pesepakbola di dunia Football Manager dan dunia nyata bisa berbeda 180 derajat.

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Fischer ingin terus melanjutkan penampilan apiknya di Kobenhavn musim ini (sudah merumput di 32 pertandingan pada seluruh kompetisi dan mencetak 5 gol serta 10 asis). Dirinya berharap panggilan dari pelatih tim nasional Denmark, Age Hareide, guna tampil di Piala Eropa 2020 nanti. Tak hanya itu, Fischer pun masih menyimpan asa untuk membela klub mapan Eropa di masa yang akan datang.

Mampukah Fischer mewujudkannya?

Komentar
penggemar klub Chelsea FC yang hobi menghabiskan waktu dengan bermain game Football Manager. Bisa diajak bicara melalui akun twitter @mhmdaldirmdhn