Jawa Pos dan Sepak Bola: Pembentukan Identitas Anak Muda Kota Berbasis Sepak Bola

  • Budi Windekind

    Saya asli Surabaya tp hdp di Lombok. Syng nya gk ada klub bola lokal dr Lombok yg bs mentas di tingkat nasional. Terakhir Ps Sumbawa Barat namun mreka bkan asli Lombok sehingga fanatisme masyarakat pun kurang. Pdhl di Lombok jg ad anak Jawa Pos berwujud Lombok Post yg bs dijadikan wadah promosi.

  • fajarjun

    Matur nuwun sekali infonya mas Budi Windekind.

  • Zzzeen

    Semuanya gara-gara pak Dahlan abis nonton Chelsea di Stamford Bridge. Apa yang ada di stadion diadopsi untuk Persebaya.

  • is h

    Sepanjang pengalaman saya yang singkat bergabung dengan Jawa Pos, belum pernah saya temui adanya “instruksi” atau apapun bentuknya untuk mengutamakan Persebaya atau klub lain.
    Bahwa antara Dahlan Iskan dengan Persebaya pernah ada ikatan, itu benar. tetapi itu adalah Dahlan pribadi, bukan Jawa Posnya. Bahkan fakta sejarahnya adalah, DAhlan pernah “ditendang” dan “ditelikung” oleh oknum pengurus persebaya., baik yang sekarang maupun yang sebelum-sebelumnya.

    Bahwa Jawa Pos sesekali memuat headline seputar Persebaya itu benar, tetapi itu lebih dikarenakan pertimbangan “nilai jual isu” dan sedikit proximity ketimbang hal lain. endorsement, misalnya.

    Bahwa sebagian pekerja di JP adalah tifosi Persebaya juga benar, namun itupun bukan suatu alasan untuk menganakemaskan Persebaya. Ada juga fans-fans Arema, Persema, Persela, Gresik United, PSS Sleman, PSIS Semarang, dan bahkan Persipura Jayapura, Persikoba Batu, dan lainnya di sana. Dan itu jumlahnya tidak satu-dua orang.

    Bahkan mungkin yang terlewatkan oleh penulis di sini adalah bahwa justru Jawa Pos pernah berkali-kali “diserbu” gelombang demonstrasi bonek tepat di depan kantor pusatnya. Ini terjadi ketika saya masih bergabung di JP. Selain itu pernah beberapa kali pula didemo bonek lantaran dianggap kurang mendukung persebaya atau memberitakan hal-hal yang kritis terhadap persebaya.

    Bahkan istilah “bonek” dan ikon laki-laki mangap itu juga bukan diciptakan Jawa Pos, Green Force, melainkan oleh kalangan suporter persebaya sendiri yang “disahkan” oleh pengurusnya di zaman itu. Jawa Pos hanya memopulerkan saja, dan itupun tidak dilakukan sendirian oleh Jawa Pos maupun grup media di bawahnya. Melainkan oleh semua media lokal dan nasional saat itu.

    Akan hal opini bahwa JP turut memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan identitas dan budaya masyarakat Surabaya khususnya kaum muda dan bonekmania, apa boleh buat mungkin itu dikarenakan memang oplah JP adalah yang terbesar di Surabaya, bahkan Jatim dan Indonesia, setidaknya sampai hari ini. Tidak lebih demikian.

    Salam.