Apa yang Terjadi Pada Aston Villa?

Tanggal 26 Mei 1982 menjadi saat di mana stadion De Kuip (kini lazim disebut stadion Feijenoord) menjadi panggung sebuah laga puncak kejuaraan antarklub Eropa paling megah dan mewah, Piala Champions (sekarang Liga Champions). Partai final mempertemukan raksasa Jerman yang pernah mengangkat trofi Si Kuping Besar tiga kali, Bayern Munchen dengan kampiun Liga Inggris musim 1980/1981, Aston Villa.

Diisi nama-nama tenar seperti Klaus Augenthaler, Dieter Hoeness dan Karl-Heinz Rummenigge sudah pasti membuat Die Bayern lebih diunggulkan ketimbang tim tanpa tradisi di Eropa sekelas The Villans, julukan Aston Villa.

Namun keajaiban sepak bola kerap menyihir semaunya, kapan saja, tanpa malu-malu. Sebiji gol Peter Withe, sosok yang pernah menukangi tim nasional Indonesia, sudah lebih dari cukup untuk membawa pulang trofi Piala Champions ke Birmingham untuk pertama kali sepanjang sejarah.

Sayangnya pasca-merengkuh trofi maha prestisius tersebut langkah The Villans justru terseok-seok, bahkan untuk sekadar meraih trofi. Menilik catatan prestasi klub yang bermarkas di stadion Villa Park itu dalam rentang tiga dekade terakhir, praktis hanya sepasang Piala Liga musim 1993/1994 dan 1995/1996 yang mampir ke lemari trofi yang kini mulai usang, penuh debu dan menjadi sarang laba-laba tak tahu adat.

Dan musim ini nama besar Aston Villa seolah terkubur dalam-dalam karena tak jua bangkit dari dasar klasemen Liga Inggris sejak pekan ke-11. The Villans cuma bisa mengoleksi 16 angka dari 29 pertandingan meski telah mengganti sosok di balik kemudi dari tangan Tim Sherwood ke eks pelatih Olympique Lyonnais, Remi Garde.

Hal ini seakan menjadi kulminasi buruknya performa Aston Villa dalam beberapa musim terakhir. Sejak musim 2011/2012 hingga 2014/2015, kesebelasan yang berdiri pada 21 November 1874 ini berkubang di papan bawah klasemen Liga Inggris.

Secara beruntun The Villans mengakhiri musim dengan finis di peringkat ke-16, 15, 15 dan 17. Ini artinya Brad Guzan dkk. selalu bertarung melawan hisapan degradasi dalam kurun waktu 1460 hari. Sama dengan jumlah hari di mana Josep “Pep” Guardiola mengasuh Lionel Messi dkk. pada rentang 2008-2012 yang lalu.

Maka wajar bila suporter The Villans bertanya-tanya ada apa dengan klub kesayangan mereka?

Apabila ditelusuri lebih jauh, jumlah uang yang digelontorkan manajemen klub dalam lima musim terakhir, termasuk musim ini, hanya untuk memboyong muka-muka baru terbilang fantastis. Berdasarkan data yang dihimpun dari transfermarkt.co.uk, klub milik Randy Lerner ini mengeluarkan uang sebesar 139 juta poundsterling. Tapi mengapa The Villans masih tak mampu bangkit?

Di dataran Inggris yang segalanya serba teratur itu, kedudukan para manajer kerapkali terpinggirkan oleh keberadaan komite transfer jika berkaitan soal jual beli pemain. Tanpa mengecilkan kemampuan orang-orang yang duduk di komite itu, namun hal ini justru sering berimbas pada pembelian sosok yang tidak benar-benar dimaui para manajer.

BACA JUGA:  Messi dan Keberuntungan Penggemar Sepakbola

Tak perlu jauh-jauh mencari sebab salah satu klub paling jaya di tanah Inggris, Liverpool juga menganut paham ini. Bahkan Jurgen Klopp yang datang sebagai pelatih gres sampai harus mensyaratkan kekuasaan lebih soal ini bila The Reds mengingkan jasanya.

Keberadaan komite transfer memang tak semata-mata menepikan fungsi manajer serta tak mengajak sang manajer berdiskusi soal kebutuhan pemain. Masalahnya adalah komite inilah yang nanti mengambil keputusan tentang siapa yang pantas dibeli dan tidak.

Meskipun di medan laga nanti manajer-lah yang paling penting mengurusi taktik dan strategi yang dibutuhkan guna membungkam sang lawan. Dan manajer juga yang akan menjadi kambing hitam nomor satu bila dalam perjalanannya, klub yang ia asuh malah tertatih-tatih.

Dalam hatinya yang paling dalam, katakanlah palung hati, Brendan Rodgers sudah pasti kesal betul mengenai hal yang satu ini karena semasa dirinya menjabat di Liverpool, pria asal Irlandia Utara ini pernah tak mendapat punggawa yang benar-benar diinginkannya. Pada saat Rodgers meminta Alexis Sanchez untuk memperkuat armada, komite transfer The Reds malah memboyong si badung Mario Balotelli. Aneh bin ajaib, bukan?

Dekadensi penampilan Aston Villa pun memiliki korelasi pada hal ini sebab klub yang tujuh kali menjadi penguasa daratan Inggris ini juga memiliki sebuah komite transfer yang dibentuk Lerner, sang pemilik klub. Dan nama-nama seperti Tom Fox (Chief Executive), Paddy Riley (Director of Recruitment) dan Hendrik Almstadt (Sporting Director) adalah para decision maker siapa yang kelak akan mengenakan kostum The Villans.

“Klub ini memiliki sebuah komite transfer, di mana aku (mungkin) termasuk di dalamnya. Maka aku pun menyodorkan nama-nama yang kuinginkan guna mengarungi musim depan. Pada akhirnya klub memboyong 12 pemain anyar”, ungkap Tim Sherwood beberapa pekan usai dipecat seperti dikutip dari birminghammail.co.uk.

“Aku jelas mengajukan nama-nama yang kuyakini bisa membawa klub ini ke arah yang lebih baik. Akan tetapi manajemen malah membawa pemain-pemain itu (yang mayoritas buta soal Liga Inggris karena berasal dari liga lain). Jelas butuh waktu bagi mereka untuk bisa beradaptasi dengan cepat meski punya skill mumpuni”, lanjut Sherwood.

Beberapa nama yang jadi rekrutan anyar The Villans musim ini adalah Jordan Amavi, Jordan Ayew, Jordan Veretout dan Jose Angel Crespo yang berasal dari klub-klub Liga Prancis dan Liga Spanyol. Sialnya, kocek yang diperlukan untuk membawa mereka ke Villa Park mencapai 25 juta poundsterling. Jumlah yang edan, bukan? Padahal kemampuan mereka belum benar-benar teruji di kompetisi nan melelahkan macam Liga Inggris.

“Randy Lerner benar-benar telah menghabiskan uang dalam jumlah banyak hanya untuk kesia-siaan”, tutup pria yang saat ini masih menganggur tersebut.

Berkaca pada keluhan Sherwood tersebut, kita mesti sedikit menjelajahi waktu dan kembali ke tahun 2010. Ketika itu Martin O’Neill yang duduk sebagai manajer di Aston Villa. Namun kekecewaan besar didulang O’Neill di bursa transfer musim panas 2010 ketika klub sepakat untuk melego James Milner sebesar 26 juta poundsterling ke Manchester City, tim yang dianggap punya pohon uang.

BACA JUGA:  Newcastle United Menyongsong Era Baru

Penjualan itu naasnya tak diikuti dengan langkah klub untuk mencari pengganti sepadan. Komite transfer saat itu kekeuh jika klub punya kebijakan baru berkenaan dengan transfer, yaitu sell to buy. Padahal Milner adalah figur yang sangat penting buat permainan The Villans dibawah asuhan O’Neill saat itu. Alhasil O’Neill pun mengirim surat pengunduran dirinya hanya beberapa hari jelang musim 2010/2011 bergulir.

Pendukung Aston Villa jelas terkejut dengan pengunduran diri pelatih yang mereka cintai dan kagumi. Pasalnya di tangan O’Neill, The Villans bisa kembali bersaing di kompetisi Liga Inggris. Tidak untuk menjadi jawara memang, namun bisa konsisten bercokol di papan atas klasemen adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Musim 2006/2007 atau musim perdana O’Neill melatih, Aston Villa memang hanya finis di peringkat ke-11. Namun tiga musim setelah itu The Villans secara mengejutkan mampu mengakhiri musim di peringkat ke-6 secara berturut-turut.

Dan seperti yang telah disebutkan di atas, kepergian O’Neill tersebut juga menandai merosotnya penampilan The Villans pada setiap musimnya. Walau beberapa nama didatangkan guna menjadi manajer semisal Gerard Houllier, Alex McLeish, Paul Lambert serta Sherwood dan Garde namun kebijakan klub yang tetap mempertahankan komite transfer sebagai pihak yang berwenang soal jual beli pemain telah membawa klub ke posisi yang sulit. Para manajer mengeluhkan kekuasaan yang seharusnya mereka miliki menjadi sangat terbatas.

Sudah sepatutnya Lerner kembali mempertimbangkan keberadaan komite ini sekali lagi bila tak ingin klub yang dimilikinya semakin tenggelam. Kini, Aston Villa jelas butuh mukjizat untuk bisa selamat dari jerat degradasi lantaran tertinggal cukup jauh dari para pesaing di zona bawah.

Bila tidak, maka sudah dapat dipastikan jika musim depan The Villans akan mentas di panggung Divisi Championship. Para punggawa tim pun jelas bakal memilih untuk eksodus ketimbang bermain di kasta yang lebih rendah. Naasnya, harga jual mereka nanti takkan memiliki harga yang begitu menjulang.

Di sisi lain sebaiknya The Villans juga harus berkaca pada beberapa mantan penghuni Liga Primer yang terelegasi ke Divisi Championship. Blackburn Rovers, Leeds United dan Nottingham Forest adalah beberapa contohnya.

The Rovers masih kesulitan promosi setelah terbenam di area relegasi pada musim 2011/2012 kemarin. Sementara Leeds tak jua kembali ke Liga Prmier usai terdegradasi musim 2003/2004 lalu. Hal yang lebih parah justru menimpa Forest yang mulai 1998/1999 silam tak kunjung mampu naik level.

Kalian sudah siap, The Villans?

 

Komentar