Berproses Seperti Leeds United

Saya cukup terkejut saat beberapa lalu menyaksikan sebuah video pendek yang disebar oleh akun bernama @TheBuildupPlay di jejaring sosial Twitter. Bukan video pendek biasa menurut saya, karena berisi potongan sebuah rangkaian permainan mengesankan dari kesebelasan yang bermain di kompetisi divisi Championship Inggris, Leeds United. Dari video pendek tersebut, meski perlu dilakukan penelusuran lebih dalam, saya cukup percaya bahwa kesebelasan asal Yorkshire ini berisi kumpulan orang yang begitu menghargai proses.

Dalam vdeo itu, jika boleh saya gambarkan, para pemain Leeds tengah menghadapi Stoke City yang bertahan dengan blok rendah sekaligus menumpuk begitu banyak pemain di wilayah mereka sendiri dalam situasi tendangan sudut.

Sekilas, nyaris tidak tersisa celah untuk bisa dilalui para penggawa The Whites buat melakukan penetrasi. Namun klub asuhan Marcelo Bielsa ini dengan sabar melakukan umpan-umpan pendek presisi, memindahkan bola dari satu sisi ke sisi yang lain, melakukan rotasi posisi dan overloading, hingga membentuk segitiga untuk menambah opsi umpan.

Proses demi proses membongkar pertahanan lawan ini dilakukan dengan telaten dan terukur, sampai akhirnya momen yang ditunggu-tunggu tiba. Pablo Hernandez, gelandang serang asal Spanyol, menjadi kunci dalam permainan sederhana tetapi efektif ini. Mendapat umpan pendek skema tendangan sudut dari sisi kiri lapangan, ia menggeser permainan dengan mengirim umpan ke arah Calvin Phillips, rekannya yang berada di half-space kanan.

Setelah melakukan pergantian umpan dengan Helder Costa yang berada di pinggir kanan lapangan, Phillips kembali mengirim umpan kepada Hernandez, yang tanpa mampu diawasi pemain bertahan Stoke, telah berada di sisi kanan kotak penalti dalam posis bebas.

Kemunculan tiba-tiba Hernandez di kotak penalti inilah yang mengacaukan pertahanan The Potters. Satu-dua pemain mencoba menghalangi Hernandez dan menutup ruang geraknya, namun memang inilah yang diharapkan. Situasi ini membuat Liam Cooper, bek Leeds, menjadi tak terkawal di dalam kotak penalti. Ia kemudian melepas tendangan akurat ke gawang Jack Butland yang mengawal jala Stoke. Gol pun tercipta lewat skema yang begitu rapi, cerdik, dan mematikan.

Jika kita hanya memandang sepakbola hanya dari skor yang tertera di layar atau siapa pencetak golnya, maka akan sulit menghargai sebuah proses yang terjadi di belakang itu semua. Skema-skema seperti ini tidaklah tercipta melalui insting semata, melainkan sudah dirancang, dan dilatih berulang-ulang di Thorp Arch, markas latihan Leeds.

Marcelo Bielsa, Sang Guru Pemersatu

Untuk mengarsiteki permainan seperti ini, diperlukan orang yang tepat, dan mungkin agak “gila” seperti Bielsa. Iker Muniain, mantan pemainnya semasa berkarier di Athletic Bilbao, mengungkapkan bahwa Bielsa memang seperti itu. “Menurut Anda, ia (Bielsa) gila? Tidak. Ia lebih gila lagi!”

Bagi penggila trofi, nama Bielsa mungkin sulit diingat. Namun bukan tanpa alasan jika majalah berpengaruh France Football menempatkannya sebagai satu dari 50 pelatih terbaik sepanjang masa. Salah satu syarat untuk masuk ke jajaran elite ini adalah pengaruh besar dan warisan yang ditinggalkan untuk permainan sepakbola. Dalam hal ini, tak terbantahkan bahwa lelaki gaek berpaspor Argentina itu telah mematri sosoknya karena ia dianggap guru bagi pelatih-pelatih hebat lain semisal Pep Guardiola, Mauricio Pochettino, hingga Zinedine Zidane.

BACA JUGA:  Juventus dalam Pusaran Transfer Paul Pogba

Bagi Leeds, Bielsa lebih dari sekadar pelatih sepakbola. Anthony Clavane, penulis olahraga Inggris menggambarkan bahwa kedisiplinan, metode latihan yang revolusioner, permainan atraktif The Whites yang kemudian diiringi sikap simpatik dan rendah hati dari keseharian El Loco, julukan Bielsa, disebutnya mampu membawa gairah dan menyatukan penduduk kota.

Para penduduk mencintai tim ini, menggubah chant dan lagu untuknya. Begitu terpesona melihat “work of wonder” yang Bielsa lakukan kepada kesebelasan yang satu setengah dekade silam luluh lantak akibat ambisi presiden klub bernama Peter Ridsdale. Sebagaimana kita tahu, “Doing The Leeds” yang dilakukan Ridsdale menjadi semacam terminologi yang disepakati untuk presiden klub yang abai pada kondisi finansial hingga tim yang dipimpinnya masuk ke badan administrasi.

Transformasi Rancangan Andrea Radrizzani

Namun ketika berbicara soal Bielsa, rasanya tak lengkap tanpa mengapresiasi presiden klub saat ini, Andrea Radrizzani. Pria asal Italia yang sempat ramai diberitakan akan mengakuisisi klub Bari dan pernah menjadi penasihat Suning Group kala mengakuisisi Inter Milan beberapa tahun silam inilah yang melakukan serangkaian perubahan manajerial.

Ketika pria kelahiran Rho ini resmi menjadi pemegang saham mayoritas Leeds pada tahun 2017, klub yang berdiri pada tahun 1919 ini telah mengalami pergantian pemilik sebanyak lima kali. Mereka juga sempat dibesut oleh 12 pelatih berbeda, dan telah 13 tahun menghabiskan waktu jauh dari ingar-bingar Liga Primer Inggris.

Hal pertama yang dilakukan Radrizzani adalah membeli kembali Elland Road, stadion legendaris penuh memori kejayaan sekaligus kegetiran yang sebetulnya telah melekat pada The Whites. Sebagaimana diketahui, Leeds melepas kepemilikan stadion berkapasitas 37 ribu penonton itu pada tahun 2004 akibat krisis finansial. Pembelian kembali stadion tidak hanya memberi dampak finansial yang besar, tetapi juga mengembalikan antusiasme pada pendukung. Di samping itu, Radrizzani juga menghidupkan kembali kesebelasan wanita Leeds. Tak heran jika sosoknya makin populer di mata pendukung.

Radrizzani menyadari bahwa Direktur Olahraga yang mumpuni adalah sosok kunci yang mengarahkan klub pada tujuan yang lebih besar. Victor Orta, pria asal Spanyol yang kenyang pengalaman di Sevilla, Zenit St. Petersburg, hingga Middlesbrough ditunjuknya untuk mengarahkan “kapal” Leeds berlayar. Dari pengamatan Orta dan timnya, datanglah pelatih-pelatih dan pemain-pemain yang kelak menjadi tulang punggung tim.

Kedekatan Orta dengan mantan klub yang pernah mempekerjakannya, Middlesbrough, menjadikan Leeds dalam posisi yang lebih mudah dalam merekrut talenta-talenta jempolan milik The Boro. Dalam dua musim, Adam Forshaw dan Patrick Bamford datang, meski dengan total biaya transfer 13 juta Paun yang cukup besar untuk ukuran Leeds.

BACA JUGA:  Cavani Menghapus Geruh Nomor Punggung Tujuh

Koneksi Spanyol miliknya juga berperan besar dalam mendatangkan Hernandez, Kiko Casilla, maupun Samu Saiz, mereka adalah pemain yang dianggap sudah habis di level tertinggi namun diyakini mampu berkontribusi besar dalam transformasi Leeds.

Penunjukan pelatih juga menjadi perhatian besar. Selepas Gary Monk hengkang hanya beberapa hari setelah Radrizzani menjadi pemilik klub, Leeds mendekati Thomas Christiansen, pelatih asal Spanyol yang sebelumnya sukses berkarier di kompetisi sepakbola Siprus. Selain pertimbangan asal usul, yang diharap memudahkan integrasi dengan pemain-pemain kunci tadi, Christiansen diyakini akan membawa mentalitas pemenang.

Namun singkat cerita, Christiansen tidak bertahan semusim penuh akibat rangkaian hasil buruk yang diderita. Paul Heckingbottom “dibajak” dari Barnsley untuk menggantikan Christiansen, hanya untuk bertahan empat bulan saja sebelum Leeds menunjuk Bielsa untuk melatih mulai musim 2018/2019.

Hasil kerja El Loco memang tidak langsung berbuah tiket promosi ke Liga Primer Inggris pada musim pertamanya. Secara dramatis, Hernandez dan kolega rontok di babak semifinal playoff promosi di tangan Derby County asuhan Frank Lampard. Aston Villa yang kemudian memenangi babak tersebut setelah mengandaskan The Rams pada babak final dan berhak atas tiket naik kasta ke Liga Primer Inggris musim 2019/2020.

Leeds kemudian tak tertahankan pada tahun kedua Bielsa. Cooper dan kawan-kawan jadi kampiun divisi Championship musim 2019/2020 lewat performa meyakinkan. Memang tidak ada jaminan bagi Leeds untuk dapat bertahan dari terpaan badai Liga Primer Inggris, kompetisi yang penuh dengan pemain-pemain bintang dunia berharga mahal, dan disebut amat kompetitif. Namun dengan filosofi yang telah dibangun, antusiasme tinggi para pendukung dan penghargaan terhadap proses, harapan Leeds untuk setidaknya bertahan cukup besar.

Andai tidak mampu dan akhirnya Leeds terdegradasi kembali ke divisi Championship, paling tidak Leeds akan menikmati “kelezatan” parachute payment. Sebuah sistem yang ironisnya dikritik Radrizzani sendiri karena dianggap terlalu menguntungkan penerimanya sekaligus menyulitkan klub-klub yang sudah lama berada di divisi Championship untuk bersaing memperebutkan tiket promosi.

Apabila Bielsa masih mampu menjaga semangat dan motivasinya sendiri untuk terus memandu Leeds di panggung besar Liga Primer Inggris dan Stadion Elland Road tetap semarak serta tak dihiasi tangis kesedihan seperti belasan tahun silam? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Satu yang pasti, menyaksikan Bielsa di pinggir lapangan untuk beradu strategi dengan Jurgen Klopp, Brendan Rodgers, Mikel Arteta, Ole Gunnar Solksjaer, Lampard, Jose Mourinho, hingga sang murid, Guardiola, akan menjadi pemandangan baru yang menyenangkan untuk disaksikan.

Marching on Together!

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast