Donnarumma dan Momentum Miliknya

Paris Saint-Germain meraih kemenangan pada matchday kedua fase grup Liga Champions 2021/2022 dengan mengalahkan jawara Inggris, Manchester City, lewat skor 2-0 pada Rabu (29/9).

Salah satu hal yang bikin laga itu terus dibicarakan publik adalah keberhasilan Lionel Messi mencetak gol debutnya bagi Les Parisiens.

Uniknya lagi, gol tersebut dianggap sangat Messi sekali. Menerima umpan dari rekannya, ia lantas menggiring bola melewati pemain lawan, bertukar umpan satu-dua dengan rekannya lalu melepaskan sepakan terukur yang susah dibendung kiper manapun.

Keberhasilan La Pulga, julukan Messi, menyarangkan gol pertamanya untuk Paris Saint-Germain menjadi trending di lini masa media sosial.

Hal tersebut wajar adanya karena setelah bergabung dengan raksasa Prancis itu, Messi tampak belum nyetel dengan pemain lain.

Penampilan apik Messi dalam laga melawan City memang mendapat sorotan, tetapi panggung utama sebenarnya di laga itu adalah milik penjaga gawang Italia, Gianluigi Donnarumma.

Pemain berusia 22 tahun itu tampil gemilang dengan 7 penyelamatan krusial yang membuat para pemain The Citizens geleng-geleng kepala.

Situsweb WhoScored pun memberikannya rating penampilan 9.08, tertinggi diantara pemain Paris Saint-Germain.

Penampilan apik Gigio, sapaan akrab Donnarumma merupakan pembuktiannya kepada Mauricio Pochettino, pelatih Les Parisiens, yang kerap mencadangkannya sepanjang awal musim ini.

Pelatih asal Argentina itu lebih memilih Keylor Navas sebagai penjaga gawang utama Paris Saint-Germain dibanding Donnarumma.

Keberhasilan sang kiper muda membawa Italia menjuarai Piala Eropa 2020 tak menggaransi tempat utama di starting eleven.

Keputusan yang diambil pelatih 49 tahun itu dengan terus mencadangkan Donnarumma menjadi kabar baik untuk suporter AC Milan yang memang telanjur membencinya.

Ada banyak sekali olok-olok dari Milanisti yang ditujukan kepada Donnarumma. Hal itu terjadi sebab Donnarumma beserta agennya, Mino Raiola, memasang berbagai klausul bila Milan ingin memperpanjang kontraknya.

BACA JUGA:  Ke Bosnia-Herzegovina, Mengintip Perselisihan di Mostar

Ketiadaan titik temu perihal itu akhirnya menggiring Donnarumma pergi ke ibu kota Prancis yang berkenan menuruti keinginannya dan sang agen.

Sedikit mengingat masa lalu bagaimana kiper muda tersebut menjadi pujaan bersama bagi suporter I Rossoneri.

Donnarumma mendapat debut di usia belia yakni 16 tahun. Sinisa Mihajlovic yang waktu itu menjadi allenatore Milan tak ragu memberi kesempatan Donnarumma untuk turun menghadapi Sassuolo pada 25 Oktober 2015.

Pertandingan yang berkesudahan 2-1 untuk keunggulan Milan itu membuat nama Donnarumma melambung. Berbagai media besar mulai membicarakan bakatnya.

Ia disebut-sebut sebagai pewaris takhta penjaga gawang nomor satu Italia setelah Gianluigi Buffon pensiun.

Benar saja, seiring waktu Donnarumma membuktikan kapasitasnya dengan tampil brilian di bawah mistar Milan. Bersamaan dengan itu, panggilan ke tim nasional Italia didapatkannya.

Pelan tapi pasti, makin banyak Milanisti yang berharap jika Donnarumma kelak bisa menjadi bandiera klub yang baru selepas era Paolo Maldini.

Sayangnya, jalan lain dipilih sang kiper beserta agennya. Alih-alih menjadi pujaan sepanjang masa, ia justru menjadi musuh bagi Milanisti.

Kepindahan salah satu prospek terbaik Negeri Pizza itu memang penuh kontroversi. Milanisti menganggap Donnarumma adalah sosok mata duitan karena menuntut gaji tinggi kepada klub yang memberinya debut profesional.

Di Paris sendiri, Donnarumma menandatangani kontrak selama lima musim dengan gaji sebesar 7 juta Euro per musim. Angka tersebut bisa melejit, melebihi tawaran Milan, karena terselip klausul terkait bonus.

Meski demikian, kiprah Donnarumma bersama Paris Saint-Germain tak semulus perkiraan. Keberadaan Navas menjadi penyebabnya.

Bagaimanapun juga, Navas adalah pilar Les Parisiens sejak beberapa musim lalu. Menggesernya dari pos utama di bawah mistar bukan pekerjaan sepele.

BACA JUGA:  Pembuktian Pantaleo Corvino dan Restorasi Bologna

Donnarumma bahkan sempat mengutarakan rasa jengahnya karena tak kunjung mendapat kepercayaan sang pelatih untuk merumput.

Namun debutnya di Liga Champions melawan City bisa mengubah peruntungannya di Parc des Princes.

Apalagi performanya malam itu begitu fenomenal dan sukses mencatatkan clean-sheet.

“Kami tahu perlu bertahan dengan baik saat bertemu City, dan kami telah melakukannya,” ujar pemilik 36 caps bersama timnas Italia tersebut via situs resmi Paris Saint-Germain.

Penampilan Donnarumma memang pantas mendapat apresiasi. Ia seolah mengirim sinyal bahaya kepada Navas bahwa posisinya di starting eleven bisa digeser kapan saja.

Donnarumma bukan kiper semenjana yang bakal terus menghangatkan bangku cadangan. Posisi utama bisa ia rebut dari Navas seketika.

Pochettino pasti bingung menentukan siapa kiper yang akan diturunkannya di sebuah laga. Walau di sisi lain, ia bersyukur karena skuadnya begitu mewah sehingga tak menyulitkannya buat melakukan rotasi.

Navas adalah kiper yang sangat bagus. Namun Donnarumma juga sama bagusnya. Plus, ia memiliki sejuta potensi untuk melebihi kiper Kosta Rika itu mengingat usianya yang masih muda.

Meski awalnya berjalan sulit, masa depan Donnarumma di Paris Saint-Germain tampaknya akan cerah. Secerah cahaya di ibu kota Prancis tersebut.

Komentar
Mengikuti Serie A sejak 2008 tetapi tumbuh menjadi penggemar Manchester City. Masih menyayangkan kegagalan The Citizens menjuarai Liga Champions musim lalu. Namun, ya, begitulah hidup yang harus terus berjalan. Bisa disapa via Twitter @donjuan______