Geliat Sepak Bola di Sokola Rimba dan Sokola Asmat

Hari memasuki senja. Awan hitam menggelayut di langit. Suara berbagai jenis binatang saling sahut menyambut senja dan hujan yang akan segera tiba. Angin berhembus pelan, suara gesekan dedaunan yang tertiup angin beradu padu dengan teriakan-teriakan binatang.

Di tepi hutan di halaman bangunan yang semuanya terbuat dari kayu, belasan anak-anak berkumpul. Mereka bersiap bermain sepak bola usai belajar di siang hari selepas bekerja membantu orangtua di hutan, sungai dan ladang.

Mereka adalah anak-anak rimba, murid Sokola Rimba, sebuah program pendidikan yang diselenggarakan untuk memenuhi hak pendidikan komunitas Orang Rimba yang tinggal di Taman Nasional Bukit 12, Jambi.

Berbatasan langsung dengan sungai, dikelilingi hutan belantara dan kebun karet, lapangan seluas 25 meter kali 10 meter dipenuhi anak-anak usia antara 6 hingga 15 tahun. Lapangan yang standar nasional lapangan futsal pun sesungguhnya belum terpenuhi, apalagi lapangan sepak bola.

Bermain bola bersama komunitas Orang Rimba. (dok. pribadi)
Bermain bola bersama komunitas Orang Rimba. (dok. pribadi)

Tapi apa pentingnya ukuran-ukuran dan standar itu bagi mereka? Sama sekali tak ada. Yang mereka butuhkan hanya lahan kosong yang cukup layak, sebuah bola yang kadang hanya sekadar bola plastik saja, kayu-kayu yang kadang tak benar-benar lurus untuk ditancapkan sebagai tiang gawang, dan teman-teman yang bersedia bermain hingga gelap benar-benar menyelimuti bumi.

Hujan mulai turun saat permainan dimulai. Tanpa alas kaki anak-anak rimba menggiring dan menyepak bola.

Hujan yang kian deras sebabkan lapangan menjadi licin akibat lumpur dan genangan air. Permainan semakin seru. Tak ada peraturan-peraturan rumit yang diterapkan. Semua keputusan sesuai kesepakatan, tak ada wasit atau hakim garis.

Meskipun tak ada garis jelas pembatas lapangan, jika bola sudah keluar dari lapangan permainan semua orang akan menyepakatinya. Untuk bola yang menyentuh tangan, kejujuran dibutuhkan.

Jika ada yang melihat bola menyentuh tangan namun ia yang menyentuh bola dengan tangan enggan mengakuinya, perdebatan akan terjadi. Bahkan kadang permainan bisa begitu saja selesai karenanya.

Belum genap 15 tahun anak-anak rimba tahu akan permainan sepak bola. Sebelum 2003, Orang Rimba dan anak-anak rimba tidak mengetahui ada sebuah permainan yang dimainkan oleh dua kesebelasan yang saling berhadapan, memperebutkan sebuah bola dan mencoba memasukkannya ke dalam persegi panjang yang dihiasi jaring. Mereka mengetahui sepak bola dari guru-guru mereka di Sokola Rimba dan interaksi mereka dengan orang-orang di luar komunitas mereka.

Karena ketidaktahuan ini, dan tanpa referensi hasil dari menonton pertandingan sepak bola di televisi atau di stadion, anak-anak rimba memainkan sepak bola sekehendak mereka saja. Syaratnya satu, tak boleh menggunakan tangan. Itu saja.

BACA JUGA:  Shin Tae Yong, K-Pop dan Identitas Indonesia

Aturan-aturan lain mereka buat sesuai kesepakatan saja. Misal, jika penjaga gawang masih terlalu kecil (biasanya di bawah 6 tahun), gol dengan tendangan yang terlalu keras dianggap tidak sah.

Setelah tahu dan mulai menikmati sepak bola, anak-anak rimba mulai mengisi waktu luang mereka dengan sepak bola. Seperti anak-anak di manapun mereka berada, saat ada waktu luang, mereka akan menggunakannya untuk melakukan apa yang mereka suka.

Kadang sepak bola mereka mainkan di siang hari, pagi hari, dan pernah juga di malam hari. Di tengah hutan hanya dengan berbekal terang bulan anak-anak ini bermain sepak bola. Jadi saat bulan purnama tiba, mereka akan dengan antusias bermain sepak bola.

Karena antusiasme anak-anak rimba akan sepak bola usai mereka mengetahui permainan ini, pernah sekali waktu atas permintaan anak-anak, Sokola Rimba mendatangkan seorang sukarelawan yang bertugas khusus untuk melatih anak-anak rimba bermain sepak bola.

Setelah sebulan berlatih mereka memaksa untuk latih tanding dengan anak-anak dari desa luar yang sudah fasih dan tahu lebih lama akan sepak bola. Hasilnya, tim anak-anak rimba dihajar dengan skor 17-1. Setelahnya mereka enggan berlatih, sepak bola dikembalikan sebatas permainan dan bersenang-senang saja bersama teman-teman.

Sepak bola di Mumugu Batas Batu

Beranjak ke timur Indonesia, di pesisir barat sisi selatan Papua, di Agats, ibukota Kabupaten Asmat, sepak bola dimainkan dengan unik. Di Agats dan beberepa distrik lain di Kabupaten Asmat, sepak bola tidak dimainkan di atas lapangan berumput, juga tidak dimainkan di atas lapangan tanah berdebu atau berlumpur.

Di sana, sepak bola dimainkan di lapangan yang tersusun dari ribuan kayu besi yang berada 1 hingga 2 meter di atas permukaan tanah. Tanah yang berlumpur dan terdiri dari rawa-rawa menjadi sebabnya.

Foto bersama orang Asmat selekas bermain bola (dok. pribadi)
Foto bersama orang Asmat selekas bermain bola (dok. pribadi)

Meskipun begitu, sepak bola tetap dimainkan dengan indah dan menawan. Mendengar kata Papua, selain ketidakadilan yang terus menerus terjadi, bagi penggemar olahraga sepak bola, adalah jaminan akan talenta-talenta menawan yang lihai mengolah bola. Tak peduli di bagian manapun di wilayah Papua, entah itu di kota-kota, di pegunungan, atau di pesisir pantai, sepak bola dimainkan sepenuh hati sajikan keindahan dan tontonan menarik.

Bahkan jauh di pedalaman sekalipun, bakat alamiah mengolah si kulit bulat terlihat dengan jelas dan gampang saja ditemukan. Di wilayah bernama Mumugu Batas Batu, Distrik Sawaerma, wilayah yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Asmat dan Kabupaten Nduga yang berjarak kira-kira 200 kilometer dari Agats, mulai dari anak-anak yang belum lama bisa berjalan hingga orang tua di sana begitu fasih memainkan bola.

BACA JUGA:  Wangi Brasil di Italia

Hari jumat adalah hari olahraga bagi anak-anak murid Sokola Asmat di Mumugu Batas Batu. Mereka berkumpul di sekolah untuk kemudian beranjak ke lapangan pasir yang terletak di tepi sungai Pomats. Mereka kemudian dikelompokkan dalam 2 kelompok besar berdasar usia.

Kelompok pertama berisi anak-anak, mereka dipecah dua kemudian bertanding sepak bola. Begitu juga dengan kelompok remaja.

Saat berkata hari jumat sebagai hari olahraga, sesungguhnya tidak begitu tepat, yang lebih tepat tentu saja hari sepak bola. Karena setiap hari jumat tak ada olahraga lain yang dilakukan mereka selain bermain sepak bola.

Jauh di pedalaman, di wilayah Mumugu Batas Batu yang untuk mencapainya dibutuhkan usaha yang keras, biaya yang lebih mahal dibanding ongkos pesawat PP ke Jepang, dan waktu yang cukup panjang, talenta-talenta menawan dalam mengolah bola bertebaran dari berbagai kelompok umur. Mulai dari anak-anak usia 5 tahun hingga remaja mendekati usia 20an begitu banyak yang pandai bermain sepak bola.

Tadius Bisaka, Jeremias Wenera, Tinus Amur, Sempa Pui, Titus Taima, Michael Nemese, Zacarias, Primus Amayr, Anton, Lape Bijen, Yoseph Agapi, Elias Minemo, dan banyak nama lagi yang bisa disebutkan untuk mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Dari kampung kecil yang terdiri dari 90 Kepala Keluarga saja, Mumugu Batas Batu bisa membuat sebuah tim yang kompetitif, dan pastinya akan indah dan menghibur dalam permainannya.

Tak salah jika ada yang menganggap Papua tak beda jauh dengan Brasil dan Argentina yang secara alamiah tak henti-henti menghasilkan pemain berbakat. Namun satu yang sangat menarik dari geliat sepak bola di pedalaman Indonesia.

Sepak bola benar-benar masih dianggap sebagai permainan, sebagai hiburan, olahraga pengisi waktu luang. Ada memang kompetisi dan persaingan, namun itu hanya sekadar tambahan semata, bukan yang utama.

Jadi, mau PSSI hancur lebur dan berantakan seperti beberapa tahun terakhir, atau lebih porak poranda sekalipun, atau malah tak ada PSSI, geliat sepak bola di pedalaman tetap akan terjaga dan menarik tentunya.

 

Komentar