Harapan Baru Berwujud Giovanni Reyna

Bundesliga Jerman, utamanya Borussia Dortmund, sepertinya tak pernah kehabisan talenta muda berbakat. Kali ini, ada bocah asal Amerika Serikat berumur 17 tahun bernama Giovanni Reyna yang sedang naik daun di Stadion Signal Iduna Park.

Dari namanya, kita pasti ingat kepada gelandang tim nasional AS yang pernah jadi andalan Rangers FC dan Manchester City di era 1990-an dan 2000-an, Claudio Reyna. Ya, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Claudio merupakan ayah dari Giovanni. Ibunya sendiri, Danielle Egan, juga eks pesepakbola profesional.

Ketertarikan sang anak kepada sepakbola sudah terlihat sedari belia. Hal itu juga yang mendorong sang ayah memasukannya ke akademi sepakbola New York City FC medio 2015 kemarin. Pilihan Claudio tepat karena Reyna junior sukses memperlihatkan potensi besar yang ada padanya dan membuat Dortmund kepincut.

Pada 2019, Die Schwarzgelben resmi memboyongnya dari Negeri Paman Sam. Reyna diproyeksikan sebagai pilar masa depan klub bersama nama-nama semisal Jude Bellingham, Erling Braut Haaland, Youssoufa Moukoko, Jadon Sancho, dan Dan-Axel Zagadou. Tentu dengan syarat, mereka tak buru-buru dijual ke klub lain yang menyodorkan segepok duit.

Tak butuh waktu lama buat Reyna untuk melakoni debutnya bareng tim utama Dortmund. Lucien Favre, pelatih Die Schwarzgelben, sudah mempercayainya mengenakan baju kuning-hitam pada 18 Januari 2020 lalu. Kala itu, Reyna turun sebagai pengganti dalam laga Bundesliga melawan Augsburg di usianya yang baru 17 tahun 66 hari.

Alhasil, Reyna memecahkan rekor pemain asal Amerika Serikat termuda yang merumput di Bundesliga. Sebelumnya, rekor ini dipegang oleh bekas pemain Dortmund yang juga kompatriot Reyna di skuad The Yanks, Christian Pulisic.

Berbekal kemampuan apik dan kesempatan yang terus diberikan Favre pada musim 2019/2020, Reyna berhasil mengukir aneka rekor lainnya. Mulai dari pencetak gol termuda di ajang Piala Jerman, pemain termuda ketiga yang mentas di fase gugur Liga Champions, sampai pesepkbola AS termuda yang merumput dan bikin asis di ajang Liga Champions.

Waktu berlalu dan musim 2020/2021 tiba, kepercayaan buat Reyna tumbuh semakin besar. Dirinya pun beroleh dukungan masif dari para suporter Dortmund agar dapat meningkatkan skill bermainnya guna tumbuh sebagai pesepakbola yang komplet.

BACA JUGA:  Luka Demi Luka Luka Modric

Hingga tulisan ini dibuat, Reyna selalu diturunkan oleh Favre di seluruh pertandingan yang dijalani Die Schwarzgelben. Baik di ajang Bundesliga, Piala Jerman maupun Piala Super Jerman. Hebatnya, ia sanggup membukukan 2 gol dan 4 asis dari seluruh aksi tersebut.

Mantapnya lagi, dari empat asis tersebut, tiga di antaranya dibikin Reyna dalam satu laga saja. Hal itu terjadi saat Dortmund bersua Freiburg pada lanjutan Bundesliga (3/10). Pemain bernomor punggung 32 ini menyodorkan asis bagi gol-gol yang diciptakan Haaland (2) dan Emre Can. Klubnya sendiri menang 4-0 pada laga itu.

Gara-gara catatan itu, Reyna membukukan dua rekor sekaligus. Pertama, sebagai pemain termuda yang melakukannya di Bundesliga. Kedua, pesepakbola asal AS pertama yang mencatatkannya di lima liga top Eropa setelah Steve Cherundolo mengukirnya di tahun 2008 silam.

Oleh Favre, Reyna dipasang sebagai gelandang serang dengan peran yang cukup bebas. Ia bisa tiba-tiba menyisir area sayap maupun merangsek langsung dari area tengah. Teknik giringannya bagus sehingga lawan kesulitan merebut bola dari kakinya ketika berduel. Hal ini juga yang mendorong lawan untuk melancarkan pelanggaran terhadapnya.

Selain itu, Reyna punya visi dan kreativitas mumpuni kendati masih muda. Dua hal ini bikin dirinya tahu kapan harus mengalirkan bola ke depan atau sayap dan kapan harus menahan bola untuk mengatur tempo permainan. Apa lagi akurasi umpannya mantap dan jangkauan umpannya luas.

Dalam fase transisi bertahan ke menyerang, Reyna jadi salah satu gacoan utama Dortmund. Bola akan diberikan kepadanya untuk kemudian kaki-kakinya memulai orkestra serangan yang membuat lawan kocar-kacir. Tak hanya sebagai kreator karena di sejumlah momen, bermodal kemampuan menembak yang prima, Reyna dapat mengambil peran sebagai eksekutor.

Harapan Baru Amerika Serikat

Ketika Pulisic melejit sebagai pesepakbola potensial, setitik harapan muncul di dada pengurus United States Soccer Federation (USSF) bahwa persepakbolaan AS bakal makin mengilap di masa yang akan datang. Pasalnya, prestasi The Yanks akhir-akhir ini jeblok. Mereka gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan cuma berstatus runner up di Piala Emas CONCACAF 2019.

BACA JUGA:  Belajar dari Liverpool dan Borussia Dortmund untuk Menjaga Loyalitas Fans pada Klub

Pulisic digadang-gadang sebagai aktor utama yang dapat mengubah peruntungan AS. Namun Pulisic takkan bisa melakukannya sendiri. Beruntung, ada nama-nama lain yang dapat menyokongnya. Mulai dari Sergino Dest, Weston McKennie, Josh Sargent, Sam Vines, hingga Reyna.

Terkhusus Reyna, sampai sekarang ia belum mencicipi debut di level senior yang tengah dibesut Gregg Berhalter. Namun jumlah penampilan di skuad U-17, 18 pertandingan dan mencetak 8 gol, jadi bukti bahwa di masa depan, ia bakal menjadi motor utama di lini tengah AS senior.

Sebelum mengantar The Yanks tampil lagi di Piala Dunia, mengembalikan hegemoni AS sebagai raja di region Amerika Utara, Amerika Tengah dan Karibia dengan memenangkan Piala Emas CONCACAF adalah kewajiban mutlak yang diemban Reyna.

Sebagai wonderkid, ada banyak hal yang mesti dibuktikan oleh Reyna. Terlebih ada segudang tuntutan dari para fans. Namun hal terpenting baginya saat ini beroleh kans untuk merumput sesering mungkin guna mematangkan kemampuan sehingga kualitasnya sebagai pesepakbola juga terkatrol.

Jangan sampai waktu Reyna berkembang justru dirusak oleh ekspektasi tinggi yang membebani. Kondisi tersebut bisa jadi bumerang buat sang pemain. Sinarnya yang sempat berkilau dapat meredup seketika dan membuatnya jadi figur yang biasa saja. Reyna dapat bercermin dari sosok-sosok seperti Renato Sanches, Bojan Krkic dan wonderkid gagal legendaris asal Negeri Paman Sam, Freddy Adu.

Dortmund dan timnas AS jelas bersyukur memiliki penggawa seperti Reyna. Selain keluarganya, dua entitas tersebut juga punya untuk menjaga sang berlian agar tak lekas kusam. Pasalnya, Reyna sendiri punya impian sederhana yaitu memiliki karier sepakbola yang lebih gemilang dari sang ayah.

Sebagai penonton setia laga-laga Dortmund, saya pun berharap Reyna bisa mengeluarkan segenap kemampuannya guna menjadi pemain berkelas dan idola baru di masa depan. Good Luck, Gio.

Komentar
Penggemar sepakbola yang bisa disapa via akun Twitter @ikhsanfirdauss