Hukuman Maroko bagi Belgia

Pemain Maroko tengah merayakan gol ke gawang Belgia (skysports.com)
Pemain Maroko tengah merayakan gol ke gawang Belgia (skysports.com)

“Tidak ada kans, kami terlalu tua”. Itu adalah kutipan dari pernyataan Kevin De Bruyne saat menjawab pertanyaan wartawan The Guardians (26/11) terkait kans Belgia menjuarai Piala Dunia 2022. Sehari setelahnya, ucapan bintang Manchester City tersebut mulai mendekati kenyataan. Pasalnya De Rode harus tumbang 0-2 dari Maroko pada laga kedua Grup F. Hasil tersebut membuat tipis kans Belgia untuk lolos dan rekor tidak pernah kalah mereka dari tim Afrika akhirnya terhenti.

Secara statistik anak asuh, Roberto Martinez, tentu lebih unggul dari skuad Singa Atlas. Mereka praktis menguasai pertandingan dengan 67% penguasaan bola, 10 tembakan, membuat 2 peluang emas, dan memenangi duel-duel yang terjadi di lapangan.

Hanya saja mereka tampak buntu untuk menjebol gawang Maroko. Jangankan gol, untuk menciptakan peluang saja Eden Hazard dkk sangat kepayahan. Angka xG mereka hanya 0,70 karena berdasarkan heatmap permainan, mereka banyak menguasai bola hanya di area tengah wilayahnya sendiri.

Selain gagal meng-create peluang, Belgia juga sering salah passing dan kehilangan bola. Hal itu diakibatkan pressing terstruktur dan rapatnya jarak antar lini pemain Maroko. Belgia tercatat melakukan salah passing sebanyak 73 kali dan kehilangan penguasaan bola sebanyak 140 kali. Bandingkan dengan Maroko, meskipun jumlah passing mereka hanya separuh dari Belgia (325) mereka hanya salah passing sebanyak 51 kali.

Melihat Belgia mengalami deadlock, pelatih Maroko, Walid Regragui, memberanikan diri memasukan beberapa pemain bertipikal menyerang dan punya kecepatan. Walhasil, dengan skema serangan balik cepat mengandalkan long ball, dua pemain yang ia masukan di babak kedua berhasil mencetak gol, yakni Abdelhamid Sabiri dan Zakaria Aboukhlal di menit ke-73 dan 92.

BACA JUGA:  Maroko: Sang Penakluk Semenanjung Iberia

Secara permainan di babak kedua, Maroko memang unggul dalam hal efektivitas permainan. Meskipun Singa Satelit tidak banyak mengusai bola, akan tetapi mereka hanya butuh 4 kali tembakan ke arah gawang untuk membobol gawang Thibaut Courtois sebanyak dua kali. 

https://twitter.com/WilliamHill/status/1596882033334448129?s=20&t=pH291Qdrp4TnKjH12QB0Tg

Maroko di tangan Walid Regragui, memang punya catatan impresif. Di enam laga terakhir mereka  tidak pernah kalah dan tidak pernah kebobolan.  Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa pelatih berusia 47 tahun tersebut sangat memperhatikan sektor pertahanan dan efektifitas dalam bermain.

Selain Abdelhamid Sabiri dan Zakaria Aboukhlal, yang menjadi pahlawan bagi Maroko, ada satu pemain lagi yang tampil sangat bagus pada laga kali ini yakni, Hakim Ziyech. Winger Chelsea tersebut benar-benar menjadi motor serangan Maroko selama 90 menit. Ia sangat aktif menyerang maupun bertahan, hingga di menit ke-92 ia berhasil menyumbang satu asis untuk Zakaria Aboukhlal.

https://twitter.com/Squawka/status/1596886563908001792?s=20&t=1TEiKD6Qbiln6JB3iSuHEw

 

Komentar
Medioker yang bisa diandalkan. Kadang dukung Manchester United kadang dukung AC Milan. Bisa kalian sapa di twitter @CandraBantara