Josip Skoblar: Monsieur Goal bagi Olympique de Marseille

Saat membicarakan Liga Prancis, nama Zlatan Ibrahimovic akan selalu muncul dalam perbincangan. Entah karena gol-gol menakjubkan atau tingkah dan perkataannya yang “aneh” tapi dinanti oleh banyak orang.

Ibra mampu terus mendominasi Ligue 1 bersama PSG sejak kedatangannya pada 2012, memecahkan rekor gol PSG, dan mampu menarik perhatian publik Prancis dengan kharismanya.

Setelah berkiprah di sepak bola Prancis selama 4 tahun, Ibra sering disebut sebagai pemain asing terbaik yang pernah bermain di Prancis. Nama-nama lain yang bersaing dengan Ibra memperebutkan gelar ini di antaranya Juninho Pernambucano, yang akan selalu dipuja oleh pendukung Olympique Lyon, dan George Weah, satu-satunya pemain Ligue 1 yang memenangkan Ballon d’Or.

Seperti Ibrahimovic, Juninho dan Weah memiliki karier yang cemerlang di luar Prancis. Juninho bermain untuk Vasco de Gama sebelum bergabung dengan Les Gones, Olympique Lyon, sedangkan Weah lebih dikenal saat berseragam hitam dan merah milik AC Milan.

Majalah sepak bola Prancis, France Football, memberikan penghargaan pemain asing terbaik sepanjang masa di Ligue 1 kepada Safet Susic. Namun, jika kita tanyakan hal ini kepada orang-orang yang memiliki pengalaman menonton Liga Prancis beberapa puluh tahun lalu, akan ada satu nama lain yang akan selalu muncul.

Dengan sedikit senyum mengingat permainannya, orang-orang tidak akan ragu menyebut nama l’Aigle Dalmate, Elang Dalmation, Monsieur Goal, Josip Skoblar.

Josip Skoblar, pemain asal Kroasia, akan selalu diingat oleh pendukung Olympique Marseille sebagai Monsieur Goal, Mr. Goal. Skoblar bermain untuk L’OM pada 1966 hingga 1975.

Seperti julukan yang diberikan kepadanya, Skoblar adalah seorang striker yang mampu tetap bermain baik di kedua sisi lapangan. Dia adalah pemain dengan kemampuan kaki kanan dan kaki kiri yang sama baiknya, memiliki kecepatan, kekuatan, dan pada dasarnya diingat karena satu hal, kemampuannya mencetak gol.

Skoblar memulai karier sepak bola di negara kelahirannya, Kroasia. Skoblar kecil bergabung dengan NZ Zadar, pada 1957 saat berusia 16 tahun. Sebuah klub lokal yang tidak jauh dari kota kelahirannya, Privlaka.

Pada 1958, Skoblar bergabung dengan OFK Beograd setelah kiper Beograd, Perica Radenkovic, tidak sengaja melihat permainan Skoblar saat dia bertugas dalam pelayanan militer di Zadar. Radenkovic memuji kekuatan fisik dan ketajaman matanya dalam mencetak gol.

BACA JUGA:  Victor Osimhen: Monster di Lini Depan Lille

Di Beograd, Skoblar berkembang menjadi penyerang yang menakutkan. Dia berhasil mencetak 63 gol dari 162 pertandingan untuk Beograd sebelum meninggalkan klub pada 1966 untuk bergabung dengan Hannover 96.

Tiba di Jerman, Hannover langsung meminjamkan Skoblar ke klub Liga Prancis, Olympique Marseille. Skoblar bergabung dengan L’OM pada pertengahan musim 1966/1967 dan mampu langsung bermain baik bagi klub barunya itu.

Setelah mencetak 13 gol dalam 15 pertandingan bersama Marseille, Skoblar kembali ke Jerman pada akhir musim. Produktivitas Skoblar tidak hilang bersama Hannover, mencetak 30 gol dalam 57 penampilannya. Petualangan Skoblar bersama Hannover hanya berlangsung singkat setelah Marseille memintanya bergabung pada musim 1969/1970.

Tidak mudah bagi Marcel Leclerc, pemilik Marseille saat itu, untuk mendatangkan Skoblar. Tarik ulur terjadi antara Hannover yang tidak ingin kehilangan salah satu pemain terbaiknya dan Marseille yang kala itu sedang mengalami paceklik gelar selama 21 tahun.

Permasalahan ini berakhir saat Leclerc secara pribadi berkunjung ke Jerman untuk meminta Skoblar secara langsung guna bergabung dengan Marseille. Rumor mengatakan bahwa Leclerc sangat ingin mendatangkan Skoblar sehingga dia pergi seorang diri ke Hannover dengan sudah menyiapkan dua tiket untuk kembali ke Prancis, satu untuk dirinya sendiri, satu untuk sang Monsieur Goal, Josip Skoblar.

Pada musim pertama Skoblar kembali ke Prancis, 1969/1970, Marseille berhasil menyelesaikan kompetisi di peringkat 2, di bawah Saint-Etienne yang waktu itu berhasil memenangkan Liga Prancis untuk keempat kali secara beruntun. Lagi-lagi Skoblar berhasil mencetak 13 gol walau hanya bermain setengah musim.

Telah menjadi pemain favorit para pendukung sebelum dimulainya musim 1970/1971, Skoblar menutup musim keduanya bersama Marseille sebagai pahlawan. Sejak pertandingan pertama, Skoblar langsung memberikan dampak positif bagi timnya.

l’Aigle Dalmate berhasil mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir saat melawan Nantes. Hal ini terus berlanjut sepanjang musim. Skoblar selalu mampu mencetak gol-gol penting selama kompetisi berlangsung.

Pada musim itu selain mengantarkan L’OM mengakhiri 23 tahun puasa gelar, Skoblar juga berhasil mencatatkan diri sebagai top skor dengan 44 gol. Sebuah torehan gol yang menjadi sebuah rekor yang hingga sekarang belum dapat dilewati oleh pemain lain di Liga Prancis.

BACA JUGA:  Kisah Hernandez Bersaudara: Diusir dari Rumah hingga Ditinggal Sang Ayah

Skoblar tidak hanya memiliki kemampuan individu yang bagus, tetapi juga mampu bermain sebagai tim dengan sangat baik. Duetnya di lini depan Marseille bersama Roger Magnusson, merupakan salah satu duet terbaik di Eropa saat itu. Bersama, Magnusson dan Skoblar sudah mencetak hampir 200 gol untuk Marseille selama dekade 1970-an.

Marseille kembali menjadi tim papan atas sepak bola Prancis. Pada musim berikutnya, dengan tetap mengandalkan Skoblar, L’OM berhasil mempertahankan gelar Liga Prancis dan mengawinkannya dengan Coupe de France.

Pada pertandingan final, Marseille berhasil mengalahkan Bastia dengan skor 2-1. Pencetak gol penentu kemenangan? Tentu, Josip Skoblar. Dalam kesempatan keduanya membela Marseille ini, Monsieur Goal mampu mencetak 138 gol dalam 159 pertandingan. Berhasil menjadi top skor di Divisi 1 Prancis (Ligue 1 saat ini) selama tiga musim berturut-turut.

Pada musim 1974/1975, kedatangan pemain Brasil, Jairzinho, dan Paul Cesar membuat kesempatan bermain Skoblar menjadi sangat berkurang dan akhirnya memilih pulang kampung untuk bergabung bersama HNK Rijeka.

Skoblar mungkin tidak memiliki karier yang panjang di Prancis seperti Safet Susic yang mampu bermain baik selama lebih dari satu dekade. Namun, kemampuan Skoblar dalam mencetak gol melalui berbagai cara; tendangan jarak jauh, chip, tendangan keras setengah voli, tendangan bebas, sundulan keras; akan selalu meninggalkan kenangan bagi sepak bola Prancis.

Just Fontaine, salah satu pesepak bola terbaik Prancis, memuji Skoblar sebagai pemain yang unik.

“Saat aku melihatnya (Skoblar) di depan gawang, setiap waktu, saat saya berpikir, tendang menggunakan kaki kiri bagian dalam, kaki kanan bagian luar, sundulan, sekarang! Saat itu dia sudah melakukannya. Mencetak gol setiap saat, menggunakan berbagai cara yang mungkin untuk mencetak gol, hanya dalam waktu sepersekian detik. Dalam 30 tahun terakhir, dia adalah satu-satunya penyerang yang saya lihat memiliki kemampuan tersebut di Prancis,” kata Fontaine.

Melihat prestasi secara individu maupun secara tim, pantas rasanya menyebut Monsieur Goal, Josip Skoblar, sebagai salah satu pemain asing terbaik yang pernah bermain di Prancis. Terlebih lagi, rekor 44 gol dalam semusim yang ditorehkannya di Liga Prancis masih belum mampu dijangkau oleh pemain lainnya, oleh seorang Zlatan Ibrahimovic sekalipun.

 

Komentar
Mendampingi Coach Seto Nurdiyantoro juara Liga 2 musim 2018 dan promosi ke Liga 1. Terbang ke Barito Putera hingga akhir musim 2020. Kini menemani Elite Pro Academy PSS musim 2020. Bisa dihubungi melalui akun @DaniBRayoga.