Jun Misugi, Christian Eriksen, dan Asa yang Terus Berdetak

Penggemar manga atau anime Captain Tsubasa pasti tidak asing dengan nama Jun Misugi.

Ya, dia merupakan teman sekaligus rival Tsubasa Ozora, sang tokoh utama, di kancah sepakbola.

Misugi bermain untuk tim Sekolah Dasar (SD) Musashi dan sempat merepotkan Tsubasa yang memperkuat SD Nankatsu kala berjumpa di atas lapangan untuk kali pertama.

Seiring waktu, ketika beranjak remaja dan dewasa, Misugi ikut berperan dalam keberhasilan tim nasional Jepang menjadi juara dunia.

Banyak yang mengatakan bahwa Misugi sebenarnya pesepakbola yang jauh lebih baik dari Tsubasa. Ia serbabisa dan mampu bermain di sejumlah posisi berbeda.

Pemahaman taktikalnya juga prima sehingga ia selalu didapuk sebagai andalan. Bahkan ia pernah berperan sebagai asisten pelatih.

Jiwa kepemimpinannya yang kuat juga bikin Misugi didapuk sebagai kapten tim ketika bermain.

Sayangnya, sampai manga dan anime Captain Tsubasa tamat, sosok yang identik dengan nomor punggung 24 ini tidak bisa menunjukkan bahwa kemampuannya lebih paripurna dibanding Tsubasa.

Alasan utama mengapa hal tersebut terjadi adalah kelainan jantung yang diderita Misugi sejak lahir. Alhasil, dirinya tak pernah merumput lebih dari 30 menit dalam sebuah pertandingan.

Pada mulanya, para pemain Musashi mengira jika itu adalah bagian dari strategi pelatih Musashi. Mereka menganggap sang juru taktik tak ingin sembarangan memamerkan kartu As-nya kepada lawan.

Akan tetapi, skuad Musashi akhirnya mengetahui sebuah rahasia dari Misugi yang selama ini disimpan rapat-rapat.

Ya, Misugi tidak bisa bermain lebih dari 30 menit dalam suatu pertandingan karena dapat membahayakan nyawanya.

Sebelumnya, rahasia ini cuma diketahui oleh kedua orang tua Misugi, pelatih Musashi, dan manajer tim sekaligus kekasih Misugi, Yayoi Aoba.

BACA JUGA:  Memindai Peran Christian Eriksen di Inter

Tragedi Christian Eriksen

Saat menyaksikan tragedi kolapsnya Christian Eriksen dalam perhelatan Piala Eropa 2020 lalu, saya langsung teringat pada Misugi.

Penyebab kolapsnya Eriksen adalah problem di jantungnya. Persis seperti Misugi. Bedanya, masalah itu tidak diderita Eriksen sejak lahir seperti yang dirasakan Misugi.

Kian pahit, seorang profesor kardiologi dari University of St. George London, Sanjay Sharma, mengungkapkan bahwa karier Eriksen terancam akibat peristiwa itu.

Ya, sang profesor menyebut jika Eriksen tidak akan bisa bermain, andai tetap bisa melakukannya, di level yang sama seperti dahulu karena akan membahayakan nyawanya.

Dalam manga dan anime Captain Tsubasa, ketika membela tim nasional Jepang, Misugi juga pernah kedapatan kolaps di lapangan.

Hal itu terjadi saat Misugi berusaha menghentikan “Fire Shot” striker timnas Jerman, Karl-Heinz Schneider, menggunakan tubuhnya.

Melihat kejadian itu, Tsubasa lantas mempraktikkan RJP (Resusitasi Jantung Paru) agar Misugi tidak kehilangan kesadaran dan nyawanya dapat diselamatkan.

Ketika Eriksen tergeletak, para penggawa Denmark langsung berusaha menyelamatkannya. Simon Kjaer yang merupakan kapten tim berjuang sekuat tenaga demi menyelamatkan rekan setimnya.

Dari dua momen yang mirip tersebut, beruntung akhirnya kita bisa melihat Misugi dan Eriksen berhasil sadar dan bangkit kembali.

Sampai hari ini, masa depan Eriksen di atas lapangan hijau masih menjadi tanda tanya. Bisakah ia melanjutkan kariernya atau terpaksa pensiun dini?

Semenjak kejadian di Piala Eropa 2020 itu, cuma sekali Eriksen kedapatan hadir di Suning Training Center, markas latihan tim yang ia bela sekarang, Inter Milan.

Sesudahnya, aktivitas Eriksen banyak dilakukan di negara asalnya, Denmark. Ya, gelandang elegan ini seakan menjauh dari ingar-bingar sepakbola.

Dalam kisahnya di manga dan anime Captain Tsubasa, Misugi butuh waktu bertahun-tahun untuk merehabilitasi jantungnya sehingga mimpinya untuk bermain sepakbola tetap hidup.

BACA JUGA:  Youri Tielemans yang Esensial bagi Leicester City

Sampai akhirnya, ia diceritakan bergabung dengan salah satu klub profesional Jepang, Bellmare Hiratsuka (kini bernama Shonan Bellmare).

Tak lama kemudian, ia ditransfer ke FC Tokyo dan bermain untuk klub ibu kota tersebut.

Layaknya Misugi, diyakini Eriksen tengah melakukan rehabilitasi jantung. Pemeriksaan intens dan rutin dengan pantauan tim ahli kardiologi dilakukannya agar kejadian tragis yang dialaminya tak terulang dan Eriksen bisa hidup normal seperti sedia kala.

Terkait kariernya, Eriksen maupun perwakilannya juga masih bungkam. Satu yang pasti, Italia, negara di mana Inter Milan berasal, memiliki aturan tersendiri perihal kondisi jantung seorang atlet sehingga diizinkan aktif berkompetisi.

Kasus yang dialami Eriksen membuatnya punya kemungkinan kecil melanjutkan karier bersama I Nerazzurri.

Alhasil, berbagai spekulasi muncul bila Eriksen bisa terus bermain, salah satunya menuju Belanda karena negara ini punya aturan berbeda mengenai atlet yang memiliki kondisi jantung tertentu.

Eriksen sendiri tak asing dengan iklim Negeri Tulip sebab ia pernah membela salah satu klub top di sana, Ajax Amsterdam, pada masa awal kariernya.

Mengingat Eriksen adalah pesepakbola jempolan, banyak yang menyayangkan andai ia harus pensiun dini akibat masalah jantung yang dideritanya.

Asa pun terus berdetak. Rehabilitasi jantung yang dijalani Eriksen bisa membuatnya kembali lintang pukang di atas lapangan hijau seraya memamerkan sihir ajaib lewat umpan presisi dan gol-gol cantiknya. Persis seperti yang dialami Misugi.

Komentar
Penggemar sepakbola yang kini bekerja di salah satu Rumah Sakit di kota Bandung. Bisa disapa di akun Twitter @Wisnu93