Kredo Untuk Arsenal: Dua Wajah Calum Chambers

“Satu pertandingan, dua babak, dua wajah Calum Chambers.”

Penampilan bernada catastrophic ditunjukkan remaja berusia 20 tahun tersebut kala Arsenal menjamu Liverpool. Membuat kesalahan passing hingga enam kali hanya di babak pertama nyatanya tidak membuat Dewi Fortuna berhenti tersenyum.

Arsene Wenger “dipaksa” menurunkan Calum Chambers berduet dengan Gabriel Paulista setelah Per Mertesacker dan Laurent Koscielny kompak cedera sebelum pertandingan. Mertesacker disebut sedang sakit, sedangkan Koscielny menderita cedera ringan di bagian punggung. Alhasil, untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, Chambers turun sebagai first choice. Gawatnya, Chambers harus langsung meladeni Christian Benteke dan Phillipe Coutinho. Maka, seperti kilasan prosa dengan tema elegi, penampilan Chambers sungguh menyayat nadi jantung. Kesalahan demi kesalahan berbuah ancaman. Dasar masih disayang Dewi Fortuna, Chambers dan Arsenal lolos dari petaka pada 45 menit pertama.

Dua wajah

Dipinang dengan label “calon bintang”, Chambers mampu menunjukkan bahwa dirinya layak dibanderol 16 juta poundsterling. Namun, cedera membuat performanya menurun drastis. Selain itu, puncaknya ketika Chambers “dikerjai” Jefferson Montero, sayap licin milik Swansea City di Liberty Stadium. Seperti seorang pesakitan, Chambers setia menjadi penghangat bangku cadangan, yang harus rela setiap minggu menatap juniornya bersinar di pos bek kanan. Modal percaya diri menguap entah ke mana.

Babak pertama melawan Liverpool berjalan sangat berat untuk Chambers. Sorot kamera dan telunjuk menyalahkan diarahkan kepada mantan bek Southampton tersebut. Kepercayaan diri yang rendah, gugup, dan seperti tidak siap menghadapi tensi tinggi, Chambers nampak seperti pesakitan. Wajah tersiksa dan gelisah menguasai raut Chambers. Wajah orang kalah perang dan pulang dengan menanggung malu.

Namun, setelah turun minum, performa Chambers membaik. Bahkan, di babak kedua, Chambers mencatatkan 100% umpan sukses. Sebuah perubahan yang begitu bertolak belakang ketimbang sajian di babak pertama. Arsene Wenger mengungkapkan bahwa di babak kedua, Chambers bermain dengan “pikiran yang lebih jernih”. Meskipun sangat sederhana, kalimat tersebut menunjukkan sebuah perubahan yang masih dalam aspek state of mind. Perubahan dalam soal pola pikir adalah salah satu syarat bagi pemain muda untuk menemukan pintu menuju sumber bakat dalam dirinya. Seperti menemukan dunia katarsis, Chambers berubah menjadi unsur yang berbeda, wajah yang berbeda, wajah perubahan.

BACA JUGA:  Sepakbola dan Masalah Penguasaan Bahasa

Selaksa kredo

Dua wajah yang ditunjukkan Chambers seperti flashback jernih akan perjalanan Arsenal selama sepuluh tahun terakhir. Menyandang gelar tidak terkalahkan dalam satu musim, Arsenal menyambut era baru. Sebuah era di mana sepak bola modern menuntut upgrade dalam banyak bidang, mulai dari infrastruktur, pengelolaan sumber daya, regenerasi, hingga pengetatan ikat pinggang.

Lalu, dimulailah usaha meratakan jalan menuju era baru. Arsenal mulai tertatih-tatih di liga. Dari yang awalnya sang jawara dengan permainan memikat, turun kasta menjadi klub yang oleh banyak media disebut sebagai pemilik tetap peringkat empat. Sama seperti kisah Calum Chambers bukan? Berangkat sebagai “The Next Tony Adams” terbanting menjadi seperti seorang badut, headless chicken. Namun, di babak kedua, Chambers menunjukkan bahwa pikiran yang jernih dan fokus bisa mengubah peruntungan. Bagi Arsenal, lepas tahun 2015 adalah awal derit roda era baru. Sebuah era di mana Wenger akan dikenang sebagai seorang arsitek dan penerusnya akan dipandang sebagai juara sejati.

Colin Turner, pebisnis kompatriot Arsene Wenger mengungkapkan lewat bukunya yang berjudul Lead to Succeed bahwa, daya bangkit perusahaan yang sedang terpuruk adalah “ideologi inti” yang teguh. Turner menyebutnya kredo (sikap dasar) atau raison d’etre. Untuk bangkit dari keterpurukan, seseorang membutuhkan kredo untuk menata kembali hidup dengan benar. Dari ranah religi, kredo adalah pernyataan atau pengakuan rangkuman mengenai suatu kepercayaan.

Untuk Arsenal, daya bangkit akan selalu ada selama semua sumber daya yang hidup di dalamnya tidak kehilangan keyakinan. Chambers adalah contoh bijak akan besarnya potensi setiap pemain menggapai kebun inspirasi. Tiga laga awal tidak berjalan dengan baik bagi Arsenal. Pada akhirnya, orang-orang tidak akan mengingat keruntuhan seseorang. Orang-orang akan mengingat kisah kebangkitan dan keberhasil menemukan jati diri. Teguhlah Arsenal! Kepakkan sayapmu Chambers! Gooners sedunia selalu meletakkan kredo terindah di sudut doa malam kami, setidaknya penulis, di saat-saat tertentu.

BACA JUGA:  Luka Modrić: Taktis, Kreatif, Visioner

#COYG

 

Komentar
Koki @arsenalskitchen.