Menentang Opini Arsene Wenger

Arsene Wenger sebagai Chief of Global Football Development dari FIFA pernah mengungkapkan sesuatu yang bikin dahi publik sepakbola berkernyit.

“Jika kamu bertanya kepada orang-orang apa itu Nations League? Kamu takkan menemukan yang dapat menjelaskannya. Kita tak butuh kejuaraan seperti itu. Satu Piala Dunia dan Piala Eropa yang diselenggarakan berselang-seling tiap tahunnya sudah cukup bagi persepakbolaan modern”, ungkap Wenger seperti dilansir Eurosport.

Menurut Wenger, ajang Nations League yang diselenggarakan asosiasi sepakbola Eropa (UEFA) dan Amerika Utara (CONCACAF) agar jeda internasional lebih berwarna sangat tidak relevan serta sulit dimengerti esensinya.

Lelaki asal Prancis ini merasa bahwa ajang sekelas Piala Dunia dan Piala Eropa tetap lebih bergengsi dan menarik atensi. Tak melulu soal jeda waktu di antara keduanya, tetapi kualitas permainannya.

Beberapa bulan lalu, FIFA sempat mencetuskan ide untuk menggelar Piala Dunia dua tahun sekali usai Arab Saudi melakukan penelitian tentang hal tersebut. Kabarnya, 166 negara anggota FIFA juga menyetujuinya.

Wacana tentang Piala Dunia digelar dua tahun sekali sebetulnya telah mengemuka sejak 1999 silam kala Sepp Blatter masih duduk sebagai presiden FIFA, tetapi saat itu banyak yang menolak dan mengecam ide tersebut.

Sebelum kita membahas dampak turnamen prestisius macam Piala Dunia digelar dua tahun sekali, perlu kita ketahui lebih dulu kenapa sebelumnya ajang-ajang seperti Piala Dunia, Piala Eropa, dan bahkan Olimpiade dilangsungkan empat tahun sekali.

Hal ini sendiri bisa ditarik hingga lebih dari dua milenia lalu. Dahulu kala, Yunani Kuno belum mengenal sistem tahun yang terdiri dari 365 hari seperti sekarang. Mereka mengenal Olympiad yang sekarang setara dengan empat tahun.

Sejak dibangkitkan oleh Pierre de Coubertin pada 1896, Olimpiade selalu berjalan empat tahun sekali kecuali pada saat Perang Dunia II yang mengakibatkan jeda 12 tahun. Karena tidak ingin memiliki jadwal yang bertabrakan dengan Olimpiade, para pencetus ide Piala Dunia pun ingin kompetisi dilangsungkan pada tahun yang berbeda.

Saat itu pertanyaan yang diajukan bukan mengapa, tetapi bisakah? Ketika Piala Dunia diadakan pertama kali pada tahun 1930 di Uruguay, hanya ada tujuh negara dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara yang berpartisipasi.

Alasan paling logis yang dikemukakan adalah susahnya moda transportasi. Uruguay masih sulit untuk dijangkau sementara banyak tim yang menuju ke sana via jalur darat dan laut sehingga membutuhkan waktu tempuh yang lama.

Selain itu, perencanaannya juga membutuhkan biaya sangat besar dan tidak bisa disiapkan dalam waktu singkat. Sebagai contoh, Brasil membutuhkan dana empat triliun dolar Amerika Serikat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Rusia mengeluarkan dana tiga kali lipatnya guna menyelenggarakan Piala Dunia 2018.

BACA JUGA:  Mengapa Fans Liverpool Enggan Mengheningkan Cipta untuk Ratu Elizabeth II?

Walau harus menyiapkan dana sangat besar, ada keuntungan yang didapat dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Tentunya dengan perencanaan yang matang sebelumnya. Salah satunya adalah diplomasi budaya.

Pada Piala Dunia 2018 lalu, ada dua kota tidak terkenal di Rusia yakni Kaliningrad dan Saransk yang menjadi tuan rumah. Penunjukkan kedua kota itu memberikan pandangan yang lebih luas kepada fans internasional terhadap Negeri Beruang Merah, mendorong pendapatan dan popularitas kedua kota sehingga memunculkan dampak yang diharapkan setelah turnamen berakhir.

Di luar itu, mengingat jumlah pengguna bahasa Inggris lebih sedikit di Rusia, mau tidak mau turis akan lebih memperhatikan bahasa Rusia yang merupakan identitas bagi mereka.

Secara politis, gelaran Piala Dunia 2018 juga bisa dimanfaatkan presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk berbincang dengan para pemimpin negara yang datang ke ajang tersebut. Pada akhirnya, secara sosial dan budaya Rusia diuntungkan oleh penyelenggaraan Piala Dunia.

Penyelenggaraan Piala Dunia juga bisa ditinjau dari sisi ekonomi. Menurut Worldfinance, final Piala Dunia 1994 merupakan salah satu yang paling sukses karena pedapatannya mengalahkan ajang Super Bowl di Amerika Serikat. Padahal, Super Bowl merupakan final kejuaraan American Football, cabang olahraga paling ternama di Negeri Paman Sam.

Piala Dunia 1994 memberi dampak positif yang panjang terhadap kemajuan sepakbola AS, termasuk lahirnya kompetisi Major League Soccer (MLS). Kompetisi liga sepakbola profesional itu bahkan semakin populer dan jadi salah satu destinasi favorit para pemain gaek yang tak lagi berkarier di Eropa.

Kendati demikian, Piala Dunia 1998 tidak terlihat meyakinkan secara ekonomi. Apalagi sepanjang pagelaran, terutama saat final berlangsung di kota Paris, jumlah turis yang datang menurun dibanding biasanya. Hal serupa kembali muncul di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Pertumbuhan ekonomi di Afrika Selatan mengalami penurunan dua persen usai menggelar Piala Dunia. Sementara Brasil, justru lebih parah karena stadion-stadion yang dibangun guna mendukung Piala Dunia 2014 banyak yang mangkrak setelahnya.

Belum lagi kasus korupsi ang meningkat dan banyaknya dana yang digelontorkan untuk turnamen alih-alih digunakan buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, kehidupan di Negeri Samba tak mengalami perubahan signifikan.

Kalau Piala Dunia atau Piala Eropa diselenggarakan dua tahun sekali, bisakah negara-negara yang ditetapkan sebagai tuan rumah mempersiapkan diri secara optimal? Terlebih, wacana penambahan peserta turnamen selalu muncul saban waktu demi mengejar pundi-pundi yang lebih banyak.

Penyelenggaraan Piala Dunia empat tahun sekali juga memunculkan momen spesial bagi para pemain karena cuma memiliki rata-rata kesempatan empat kali tampil di ajang itu. Sejauh ini, cuma ada Gianluigi Buffon, Antonio Carbajal, Rafael Marquez, dan Lothar Matthaus yang terlibat dalam lima Piala Dunia.

BACA JUGA:  Persela yang Beradaptasi Demi Eksistensi

Andai diperpendek jadi dua tahun, pemain yang berusia 20 tahun dan sudah menjadi andalan negaranya bisa turun di delapan hingga sembilan Piala Dunia (dengan asumsi ia pensiun jelang usia 40 tahun). Apakah ini terasa spesial? Rasa-rasanya tidak.

Namun yang paling tidak logis adalah kesempatan para pemain untuk beristirahat dari hiruk-pikuk sepakbola. Para penyelenggara yang berpotensi mendapat uang dan penonton yang beroleh hiburan pasti senang melihat Piala Dunia dihelat dua tahun sekali seperti yang diutarakan Wenger.

Hal sebaliknya malah dirasakan para pemain yang harus memerah keringatnya setiap tahun demi turun di kejuaraan bergengsi seperti Piala Dunia dan Piala Eropa. Misalnya saja per 2030 nanti Piala Dunia dimainkan dua tahun sekali dan per 2032 Piala Eropa dihelat dengan jarak waktu yang sama serta digeser ke tahun ganjil.

Maka sejak saat itu pula kompetisi internasional bakal sangat padat dan pastinya menguras tenaga para pemain. Apakah itu manusiawi untuk mereka?

Saya masih ingat, Wenger pernah ngomel-ngomel di media terkait penyelenggaraan Piala Afrika yang dimainkan dua tahun sekali dan dimainkan pada awal tahun.

Saat itu, ia yang melatih Arsenal kudu kehilangan beberapa pemain pilar yang mudik ke negaranya masing-masing demi tampil dalam kejuaraan tersebut dan merasa kekuatan The Gunners tereduksi buat mengarungi Premier League.

Apakah Wenger lupa akan hal tersebut karena tengah berada di posisi yang berbeda? Apakah belas kasih Wenger sebagai bekas pelatih yang tahu seluk-beluk aktivitas para pemain sudah lenyap?

Segala macam studi yang dilakukan FIFA terkait penyelenggaraan Piala Dunia adalah hal yang lumrah. Namun jangan sampai hal itu menepikan faktor utama dari adanya kejuaraan itu sendiri yakni hadirnya para pemain yang diharapkan menjadi daya pikat utama.

Dengan bermain sepakbola, mereka bisa bergembira dan merasakan kenikmatan tiada tara. Namun bila hal itu dilakukan terlalu sering, kelelahan dan rasa bosan malah jadi hal yang akan menghantui. Bukannya tampil bagus di lapangan, aksi mereka bisa terlihat sebaliknya.

Menggelar Piala Dunia dan Piala Eropa empat tahun sekali adalah pilihan terbaik daripada ide yang dilontarkan Wenger. Sebab para pemain tetap mendapat waktu istirahat yang layak dari padatnya kompetisi sepakbola di era modern.

Selain itu, kesakralan ajang seperti Piala Dunia dan Piala Eropa bisa tetap dipertahankan karena tidak terlalu sering diperebutkan.

Komentar
Mahasiswa penggemar sepakbola yang berasal dari Tangerang Selatan.