Menyikapi Akun Pseudonim di Sepakbola Indonesia

Di masa kini, media sosial menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan bagi eksistensi sebuah produk. Tak terkecuali produk yang dihasilkan oleh sepakbola. Mulai dari media-media daring, klub sepakbola profesional sampai kelompok suporter sepakbola. Mereka berlomba-lomba untuk membuat akun media sosial demi memberi informasi kepada khalayak, menggaet pasar sebagai konsumen hingga mendekatkan diri kepada fans atau kesebelasan kesayangan.

Realita ini bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan pada satu setengah dekade yang lalu. Saya harus mengandalkan telepon rumah untuk melakukan panggilan ke kantor sebuah media cetak yang bermarkas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal tersebut saya lakukan dengan tujuan untuk mengetahui skor akhir dari tim kebanggaan saat melawat ke kandang lawan.

Apa yang saya lakukan bahkan tak selalu berhasil. Terkadang, ketika saya menanyakan hal tersebut, para pekerja di kantor justru belum menerima berita paling aktual dari jurnalis atau kontributor yang ada di lapangan. Alhasil, saya harus menggunakan ilmu titen (mengingat dan memperhatikan) jika ingin mengetahui hasil pertandingan. Setidaknya, saya harus menelepon media cetak tersebut kurang lebih 20 menit setelah laga berakhir.

Rasanya mustahil cerita di atas akan terulang pada masa sekarang. Era di mana semua penikmat sepakbola bisa mengetahui skor terkini dari liga-liga di dunia. Tak terkecuali kompetisi di negara yang sepakbolanya ada di peringkat 173 versi FIFA melalui gawai di tangan, asal tersedia koneksi internet.

Warta terbaru, baik mengenai kejadian di atas rumput hijau, tingkah federasi yang kadang tak masuk akal hingga pecahnya keributan antar suporter menjadi asupan menarik bagi penggemar sepakbola Indonesia yang dikenal suka berselancar di media sosial.

Sebuah akun media sosial yang mempunyai fokus utama mengenai sepakbola akan menjangkau banyak kalangan utamanya jika membahas tiga hal yang saya sebutkan di atas. Portal berita daring yang memiliki akun Facebook, Twitter, dan Instagram tentu lebih mudah membagikan kabar yang mereka buat agar banyak dibaca oleh publik.

Selain adanya akun resmi milik suatu perusahaan atau organisasi, saat ini, khususnya di ranah Twitter, muncul fenomena lahirnya akun-akun pseudonim yang membahas tentang sepakbola Indonesia.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pseudonim sendiri bermakna nama yang digunakan seseorang untuk menyembunyikan identitas aslinya.

BACA JUGA:  Polemik Ajang Penghargaan di Kancah Sepakbola

Tak bisa dibantah bahwa setiap aksi yang dilakukan adalah untuk mencapai suatu tujuan. Hal tersebut berlaku pula untuk akun-akun pseudonim yang dirancang sedemikian rupa oleh pembuatnya. Tujuan dari pembentukan akun pseudonim itu sendiri berbeda-beda. Entah sekadar mencari hiburan, memanaskan atau mendinginkan suatu permasalahan non-teknis hingga membongkar hal-hal yang tak pernah diperkirakan oleh warganet yang memiliki antusiasme terhadap sepakbola Indonesia.

Seringkali orang-orang yang bersembunyi di balik akun tersebut menggiring opini publik untuk percaya pada teori-teori yang ia buat. Ditambah lagi, akun pseudonim acap memunculkan dugaan yang sebenarnya tidak memiliki alasan atau dasar kuat atas suatu permasalahan. Namun ada pula beberapa akun pseudonim yang memberikan informasi terbaru dan bisa dibuktikan kemudian hari.

Lantas, berdasarkan ketidakpastian tersebut, mengapa akun-akun pseudonim masih banyak digandrungi dan dipercaya oleh sebagian masyarakat sepakbola kita? Tentu saja konten yang mereka ambil sangatlah berpengaruh terhadap jumlah pengikut serta traffic yang didapatkan.

Berusaha Mengungkap Hal Tersembunyi

Sebagai cabang olahraga yang diklaim paling populer di dunia, sepakbola memiliki pengaruh dan dipengaruhi oleh banyak hal. Termasuk tentang adanya taruhan yang menjadikan sepakbola sebagai sarananya. Dalam perjudian, tentu ada salah satu entitas yang dikenal sebagai bandar judi. Diakui atau tidak, mereka bisa merangkap jadi mafia yang mungkin akan mempengaruhi hasil akhir di lapangan hijau.

Masih lekat di ingatan saya, ada sebuah akun pseudonim yang mungkin menjadi pionir bagi akun sejenis di ranah sepakbola Indonesia. Akun tersebut mengungkap skandal besar mengenai tumbangnya tim nasional Indonesia di final Piala AFF 2010. Dalam cuitannya, para pemegang akun tersebut membahas detail skandal itu.

Percaya atau tidak, banyak publik yang meyakini bahwa hal memalukan itu memang benar adanya. Walaupun sampai saat ini, hal tersebut tidak bisa dibuktikan secara sahih.

Akan tetapi, ada pula akun pseudonim lain yang sering mengatakan secara implisit tentang peran tak seharusnya dari Vigit Waluyo yang dilakukan dalam kancah sepakbola nasional. Sampai akhirnya, sosok yang satu ini ditangkap pihak Kepolisian sebagai tersangka mafia pengaturan skor.

Maraknya pembicaraan tentang klub siluman pun tak lepas dari bahasan akun pseudonim yang ada. Tak jarang para pemegang akun meluruskan bagaimana sebuah klub sepakbola tak melanggar peraturan yang ada dan sah secara hukum. Hal-hal penting untuk mencapai sebuah klub yang benar-benar profesional pun sering dijadikan bahan untuk diskusi dan membuka wawasan para pengikut mereka.

BACA JUGA:  Melihat Klub Sepakbola Indonesia dari Kacamata Media Sosial

Pemanas dan Pendingin

Tak dapat dipungkiri bahwa fanatisme suporter di Indonesia sangatlah besar. Bahkan media sekelas Fox Sports Asia memberikan judul “Indonesia fans have no equals when it comes to passion for the game”, pada salah satu artikelnya. Fanatisme yang kuat tersebut kadang menjadikan para suporter bertindak di luar batas kemanusiaan. Tidak ingin saya sebutkan berapa korban luka maupun yang meregang nyawa dikarenakan sebuah pertandingan sepakbola.

Pecahnya gesekan antar suporter ini dimanfaatkan oleh beberapa akun pseudonim untuk mencari muka. Baik yang ingin menampilkan wajah bijak ataupun wajah muramnya. Pasca-terjadinya kekacauan mereka akan mencuitkan beberapa pembelaan atas dirinya ataupun serangan secara verbal bagi lawannya.

Akun-akun tersebut memiliki kecenderungan untuk menuliskan persoalan psywar. Menurut penilaian saya, psywar yang dilakukan di Indonesia lebih banyak memiliki dampak buruk karena pihak yang tersulut emosinya akan membawa hal itu ke dunia nyata sehingga menimbulkan sesuatu yang tidak semestinya.

Kabar baiknya, saya masih menemui beberapa akun pseudonim yang sering meredakan persaingan yang sudah kelewat batas. Pemegang akun tersebut biasanya akan mengalihkan fokus publik ke hal yang lebih bersifat teknis dalam sepakbola atau menuliskan kata-kata bijak serta tak memiliki tendensi untuk menyalahkan satu pihak.

Bagi sebagian orang, sepakbola merupakan salah satu media hiburan. Begitu pula yang dirasakan oleh para pemilik akun pseudonim yang menjadikan hal itu sebagai hiburan dengan dalih untuk mengaburkan tanggung jawab terhadap cuitannya tersebut.

Jika mereka membuat sebuah kesalahan, maka orang-orang hanya mengingat nama akun tersebut tanpa peduli siapa identitas asli dirinya. Jadi buat saya, akun pseudonim cukup dijadikan sebagai hiburan. Bila suka, dekati saja, dengan tetap berpegang teguh bahwa seluruh informasi yang mereka sampaikan harus tetap dicari validitasnya. Di sisi lain, jauhi akun seperti itu jika merasakan hal sebaliknya.

Komentar
Mahasiswa jurusan teknik industri di salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Yogyakarta. Bisa disapa di akun twitter @aveechena