Mutan Itu Bernama Manuel Neuer

Kisah ini dimulai dari pertandingan di ajang Piala Dunia 1990 Italia, ketika Republik Irlandia berhadapan dengan Mesir. Sebuah pertandingan membosankan yang digambarkan oleh Paul Simpson, jurnalis FourFourTwo, dalam laporannya yang berjudul Back Pass!, “sekering padang pasir tertandus di dunia, Gurun Atacama.”

Penjaga gawang Rep. Irlandia, Packie Bonner, melakukan tindakan yang membuat pertandingan berjalan begitu membosankan. Hampir enam menit, Bonner memainkan bola di kotak penaltinya sendiri. Ia letakkan bola, mendribelnya sedikit-sedikit, dan begitu penyerang Mesir hendak merebut, Bonner menangkapnya kembali. Begitu seterusnya.

Aksi memuakkan ini kemudian mendapatkan perhatian khusus dari FIFA. Bagaimana jika semua tim melakukan hal serupa untuk mempertahankan kedudukan? Tentu pertandingan sepak bola bakal jadi drama membosankan.

FIFA kemudian memberlakukan aturan back pass sejak musim 1992/93 sebagai antisipasi. Aturan ini melarang seorang penjaga gawang menangkap bola yang sengaja dioper menggunakan kaki dari rekan setimnya. Penjaga gawang juga dilarang menangkap lagi bola yang sudah diletakkan. Jika melanggar, tendangan bebas di dalam kotak penalti akan diberikan untuk lawan.

Perubahan ini kesannya memang “kecil”, bahkan sepele jika dibandingkan dengan perubahan aturan pada offside atau teknologi garis gawang. Namun jika dilihat lagi, sepak bola yang dulu “hanya” dimainkan oleh 10 pemain, dengan aturan baru back pass, kini benar-benar dimainkan oleh 11 pemain aktif.

“Aturan baru ini memberi memberi dampak positif karena membuat kami jadi bagian dari permainan sepak bola, bukan sekedar penunggu gawang,” ujar Guillaume Warmuz, penjaga gawang Lens era 1992-2002.

Mengubah penjaga gawang jadi pemain sepak bola

Aturan back pass sempat dianggap berpotensi menghancurkan karier penjaga gawang yang agak nyentrik atau nyleneh. Sudah banyak kasus di mana kecerobohan penjaga gawang soal aturan back pass jadi pemandangan buruk yang tak akan dilupakan. Meskipun begitu, di sisi lain, tidak sedikit yang menanggapi bahwa revolusi peraturan back pass merupakan stimulus yang merangsang terjadinya evolusi jenis pemain baru dalam sepak bola modern.

Laporan Paul Simpson juga mengisahkan soal ramalan Bernard Lama. Seakan terinspirasi dari film-film Marvel, mantan penjaga gawang Prancis ini meramalkan bahwa esok hari akan lahir pemain yang memiliki bakat ganda; gesit menangkap bola tapi juga lihai menggiring bola. Seorang pemain yang tidak akan bermasalah dengan peraturan back pass. Jenis pemain yang disebutnya dengan istilah rada aneh; “ras mutan”.

BACA JUGA:  Antoine Griezmann: Setan Kecil dari Prancis

Kemampuan yang dianggap Lama sebagai kemampuan “mutan” inilah yang kemudian mewujud dalam sosok seorang Manuel Neuer. Keberanian Neuer dalam melakukan tugas-tugas seorang sweeper—menghadang penyerang lawan di luar kotak dan melakukan sapuan, mengkreasi sebuah serangan, atau bahkan melakukan gerak tipu untuk mempecundangi penyerang lawan, adalah beberapa aksi “bukan penjaga gawang” yang tidak jarang dilakukannya.

Ya, kita tidak bisa menampik, Neuer membuat istilah sweeper-keeper—penjaga gawang merangkap sweeper—mulai familiar (lagi) di telinga.

Pertanyaannya, apakah Neuer adalah yang pertama? Jelas tidak.

Ada beberapa nama lain macam Rene “El Loco” Higuita, atau bahkan seorang Victor Valdes, yang cukup sering melakukan aksi “gila” yang sebaiknya tidak dilakukan oleh seorang penjaga gawang. Aksi penjaga gawang macam mereka memang cukup menghibur, sayangnya publik akan lebih ingat dengan kegagalan daripada keberhasilan mereka.

Sesuai julukannya, “Si Sinting” Higuita pernah nekat menggiring bola pada ajang sekelas Piala Dunia 1990. Bermaksud pamer skill, Higuita malah dipecundangi Roger Milla yang berhasil merebut bola untuk kemudian mencetak gol dengan mudah.

Kegagalan semacam ini sejenak membuat publik lupa ingatan, bahwa “El Loco” pernah dengan brilian melakukan hal serupa pada sebuah pertandingan eksebisi internasional tahun 1988 di Wembley. Bedanya, Higuita berhasil mempecundangi pemain sekelas Gary Lineker kala itu.

Aksi seorang Valdes kala memperkuat Barcelona dalam ajang sekelas El Clasico juga sama. Penampilan Valdes relatif cukup gemilang saat jadi seorang penjaga gawang, tapi terkadang tolol sebagai seorang sweeper. Paling tidak, dua kali Valdes melakukan kesalahan elementer tersebut.

Pertama, di Santiago Bernabeu, November 2011. Berusaha menipu Karim Benzema, Valdes malah kehilangan bola dan gawang Barcelona justru bobol pada menit pertama. Kedua, saat pertandingan pertama Piala Super Spanyol di Camp Nou, Agustus 2012. Menerima umpan dari Adriano, Valdes gagal mengontrol bola dan membuat Angel Di Maria mampu mencetak gol untuk Real Madrid.

Kecerobohan-kecerobohan semacam itu segera menutup gemilangnya aksi seorang Victor Valdes kala masih di bawah asuhan sang maestro, Josep “Pep” Guardiola.

BACA JUGA:  Lima Pesepak Bola Asia Tenggara yang Sukses Berkarier di Indonesia

“Victor Valdes mewakili figur penjaga gawang modern yang berperan dalam sirkulasi bola untuk menentukan kemenangan timnya dalam pertandingan,” ujar Carlos Fernando Navarro Montoya, penjaga gawang Boca Juniors era 90-an awal.

Sebelum nama Neuer dikenal publik, Valdes sejatinya merupakan gambaran bagaimana aktifnya keterlibatan seorang penjaga gawang dalam permainan tim. Harus diakui, Valdes punya andil besar pada permainan tiki-taka Barcelona yang mendominasi Spanyol dan Eropa selama lebih dari enam musim sejak 2008 sebagai seorang sweeper-keeper.

Penjaga gawang yang tetap menjaga gawang

Kemampuan olah bola yang lihai, sanggup merangkap jadi pemain bertahan, atau bahkan kemampuan seperti libero yang jadi tonggak serangan awal tim memang bakal jadi nilai plus seorang penjaga gawang. Namun, kemampuan semacam itu sejatinya hanyalah atribut pelengkap.

Seorang penjaga gawang yang hebat tetap akan dicatat karena kemampuannya mencegah gawangnya kebobolan, bukan karena sebaliknya. Valdes barangkali seorang penjaga gawang komplit, tapi apakah kemudian ia jadi pilihan utama untuk timnas Spanyol? Hmm, tidak juga. Valdes mungkin lebih jago saat ada bola di kakinya, tapi soal tugas mengamankan gawang, Iker Cassilas lebih baik darinya—paling tidak pada masa keemasannya.

Rogerio Ceni adalah contoh lain kalau penjaga gawang terbaik dinilai dari aksi penyelamatannya, bukan karena gol-golnya. Rentetan jumlah golnya lebih dari 100, tapi apakah prestasi tersebut membuat Ceni jadi penjaga gawang terbaik dunia? Tidak.

Sebagai seorang eksekutor tendangan bebas dan penalti mungkin Ceni dianggap salah satu yang terbaik tapi coba letakkan ia di posisi aslinya, niscaya Ceni tidak akan terlihat terlalu istimewa.

Hal-hal dasar semacam itulah yang membuat Manuel Neuer jadi punya nilai istimewa. Tidak hanya lihai sebagai sweeper tim, sebagai penjaga gawang, Neuer pun tak kalah hebat. Kemampuan Neuer ini tak ubahnya hasil kawin silang antara keberanian Higuita dan kecerdasan Valdes, dengan—tentu saja—menghapus aspek kecerobohan keduanya.

Hasilnya adalah seorang penjaga gawang hebat sekaligus menghibur untuk ditonton. Seorang mutan yang pernah diramalkan Bernard Lama cukup lama hingga akhirnya benar-benar muncul di dunia. Dan mutan itu bernama Manuel Neuer.

 

*) Tulisan ini pernah dimuat di jakartabeat.net dan diubah untuk fandom.id dengan perubahan seperlunya.

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab