Tangan Dingin Roberto Mancini

“Saya menerima pekerjaan itu karena hidup saya selalu menjadi tantangan. Saya juga merasakan dorongan untuk menebus fakta bahwa terlepas dari kualitas yang saya miliki sebagai pemain, saya tidak pernah memenangkan apa pun bersama Italia”, terang Roberto Mancini dalam konferensi pers usai diresmikan sebagai pelatih anyar Italia.

Lelaki kelahiran Jesi itu melanjutkan bahwa dirinya punya misi untuk membawa Gli Azzurri meraih prestasi.

Dan ajang Piala Eropa 2020 merupakan target paling dekat sekaligus realistis baginya kendati saat ditunjuk, ia punya tugas berat membenahi performa Italia yang amburadul kala dibesut Giampiero Ventura.

Kegagalan menembus Piala Dunia 2018 merupakan sebuah aib bagi negara dengan tradisi sepakbola sekental Italia yang memiliki empat gelar juara dunia.

Wajar bila kemudian hasrat untuk berbenah meledak-ledak di dada para petinggi FIGC dan tifosi Gli Azzurri.

Mancini sendiri bukan pelatih kemarin sore. Namanya sudah diakui sebagai figur dengan tangan dingin karena sanggup menggondol banyak prestasi saat melatih beberapa kesebelasan top Eropa.

Pasca-pensiun, kiprah Mancini di bidang kepelatihan dimulai bersama Fiorentina pada tahun 2001.

Walau cuma semusim menangani tim yang berkandang di Stadion Artemio Franchi tersebut, Mancini sukses mempersembahkan gelar Piala Italia.

Karirnya lantas berlanjut bersama tim yang pernah ia bela semasa bermain, Lazio, per tahun 2002. Momen ini juga yang bikin nama Mancini semakin diperhitungkan sebagai allenatore jempolan.

Lazio asuhannya acap menampilkan performa menawan kendati skuad diisi pemain seadanya karena bintang seperti Hernan Crespo dan Alessandro Nesta dilego klub.

Musim pertama, ia sukses mengantar Lazio finis di posisi empat Serie A sekaligus memenangkan Piala Italia. Sementara pada musim kedua, rival bebuyutan AS Roma ini nangkring di peringkat enam klasemen akhir.

Lesatan Mancini semakin terasa kala dirinya didapuk sebagai pelatih Inter Milan mulai musim panas 2004. Berbekal skuad berkualitas dan taktik mumpuni, sang arsitek menghadirkan siklus kemenangan seraya mendominasi persepakbolaan Negeri Pizza.

Ia membawa I Nerazzurri meraup tiga Scudetto, dan masing-masing dua Piala Italia serta Piala Super Italia.

BACA JUGA:  Refleksi Karier Sergio Aguero

Ketika memenangkan Scudetto 2006/2007, Inter besutan mengukir rekor 17 kemenangan beruntun di ajang Serie A. Sebuah catatan apik yang bertahan hingga kini.

Sayangnya, kiprah Mancini di Stadion Giuseppe Meazza disudahi pada 2008 setelah menerima surat pemecatan. Alasan utamanya karena sang pelatih dianggap tak mampu membawa Inter melaju jauh pada ajang Liga Champions.

Sempat beristirahat dari ingar-bingar sepakbola selama setahun, Mancini kembali ke bangku cadangan setelah menerima pinangan klub kaya baru, Manchester City, pada tahun 2009.

Dirinya tertarik dengan proyek yang dicanangkan pemilik baru The Citizens, Abu Dhabi United Group.

Bermodal duit tak berseri, mereka mencaplok pemain-pemain berkualitas saban musimnya. Alhasil, City pun mulai mampu bersaing di papan atas klasemen. Sesuatu yang sudah lama sekali tak mereka lakukan.

Pada musim 2010/2011, Mancini menyumbangkan trofi pertama bagi klub yang bermukim di Stadion Etihad itu.

Penampilan konsisten di Piala FA berujung gelar kelima sepanjang sejarah klub setelah menekuk Stoke City dengan skor 1-0 dalam partai final.

Sampai akhirnya, pada musim 2011/2012 mimpi City untuk menjadi raja di Inggris terwujud.

Lewat perjuangan dramatis hingga pekan terakhir kompetisi, mereka berhasil mengunci titel Premier League perdananya. Keberhasilan itu disambut dengan gegap gempita oleh petinggi klub maupun fans setia The Citizens.

Sayangnya, kiprah Mancini di Negeri Tiga Singa kudu berakhir pada 2012/2013 karena dipecat. Makin mengenaskan, hal itu disebabkan oleh kekalahan dari tim provinsial, Wigan Athletic, di laga final Piala FA.

Perjalanan karir sang pelatih kemudian berlanjut di Galatasaray, Inter untuk periode kedua, dan Zenit St. Petersburg.

Namun berbeda dengan kisah-kisah sebelumnya, Mancini bersalin rupa menjadi pelatih yang kering gelar. Praktis, dari ketiga tim tersebut cuma Galatasaray yang dihadiahinya dengan titel Piala Turki 2013/2014.

Meski popularitasnya mulai menurun, tetapi FIGC tetap meyakini bahwa Mancini adalah figur terbaik untuk menangani Gli Azzurri per tahun 2018.

Berbeda dengan para pendahulunya, lelaki yang memiliki 36 caps dan 4 gol untuk Italia ini mengubah citra tim secara keseluruhan.

BACA JUGA:  Jalan Sunyi Mario Balotelli

Italia disulapnya menjadi tim yang atraktif dan ofensif alih-alih defensif dengan ciri khas Catenaccio yang selama ini melekat.

Pakem 4-3-3 menjadi favoritnya dengan fullback yang rajin naik membantu serangan serta winger yang tak statis bermain di sayap tetapi juga menusuk ke halfspace dan area tengah.

Kendati begitu, darah bertahan yang sudah mengalir di dalam tubuh Italia sejak lampau tetap terlihat dengan jelas di banyak momen.

Terlebih, Mancini memang piawai membuat anak asuhnya bermain kompak dan rapat saat tidak menguasai bola.

Selain itu, Gli Azzurri arahannya juga lebih ramah kepada pemain-pemain antah berantah. Mancini menekankan bahwa yang terpenting dari timnya adalah kesatuan dan soliditas, bukan keglamoran akibat dihuni banyak pemain bintang.

Benar saja, ketika menjalani kualifikasi Piala Eropa 2020, Italia tampil sempurna dengan mencatat 100 persen kemenangan. Walau demikian, mereka tetap bukan unggulan utama di putaran final.

Segenap catatan tersebut tak bikin Italia silau. Mereka tetap membumi dan ingin tampil sebaik-baiknya di Piala Eropa 2020.

Sebuah keinginan yang kemudian berujung pada kesuksesan merengkuh gelar juara usai mengalahkan Inggris di partai final via adu penalti.

Pencapaian Italia terasa semakin manis lantaran gelar Piala Eropa kedua sepanjang sejarah itu didapat lewat rekor tak terkalahkan Mancini sebagai pelatih dalam 34 pertandingan! Sungguh fantastis, bukan?

Walau curriculum vitae-nya tak semengkilap Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, maupun Jose Mourinho, rasanya tidak salah untuk menyebut Mancini sebagai juru taktik bertangan dingin.

Kini, seusai merengkuh Piala Eropa, trofi UEFA Nations League ada di depan mata dan bisa dibawa pulang Italia yang bakal menjadi tuan rumah laga semifinal dan final.

Di luar itu, publik juga masih penasaran dengan penampilan Gli Azzurri di Piala Dunia 2022 mendatang andai lolos kualifikasi. Tak cuma menyoroti kiprah para pemain yang berkualitas, tetapi juga sentuhan ajaib Mancini yang diharapkan berlanjut.

Komentar
Menyukai sepakbola. Menggemari klub yang sudah tiada. Bisa disapa via akun Twitter @ramawombar