Patrich Wanggai dan Tak Ada Ruang Debat dalam Melawan Rasisme

Patrich Wanggai tampil brilian pada pertandingan pertamanya di Piala Menpora 2021, Senin (22/2021) lalu. Satu gol cantik dia lesakkan ke gawang Persija dan pada akhir cerita, klub yang diperkuatnya, PSM, meraih kemenangan dengan skor 2-0.

Nahasnya, aksi impresif Wanggai tersebut bikin dirinya jadi sasaran kebencian manusia-manusia berlingkar otak kecil. Akun Instagram pribadi sosok asal Papua itu diserang dengan berbagai komentar rasis. Mereka yang waras langsung membela Wanggai.

Di media sosial Twitter, fenomena buruk itu pertama kali diangkat oleh akun @medioclubID. Mereka membuat utas yang menunjukkan tangkapan layar dari kolom komentar akun Instagram Wanggai. Tak lupa, @medioclubID juga mengecam tindakan keji tersebut.

Kecaman yang dilontarkan @medioclubID direspons positif oleh banyak orang. Sampai Rabu (24/3) pagi Waktu Indonesia Barat (WIB), lebih dari 3.ooo orang meretwit cuitan tersebut dan lebih dari 4.000 orang memberikan likes.

Sikap @medioclubID tegas, mereka menyatakan tidak pada rasisme. Titik. Tidak ada kata tapi, sebab mereka meyakini bahwa tidak ada ruang perdebatan untuk perilaku hina yang satu ini. Namun sayang, tidak semua pihak bisa melakukan itu.

Salah satu akun sepakbola yang cukup berpengaruh lainnya, @suarasupporter, membuat kesalahan besar. Dalam sebuah cuitan, @suarasupporter menyatakan kecaman terhadap tindak rasisme yang dialami mantan pemain Persipura dan Persib itu.

Akan tetapi, dalam rangkaian bahasan mereka ihwal tindak rasialisme tersebut, mereka juga membuka ruang perdebatan.

Sebelum itu, @suarasupporter juga mencantumkan dua bukti buruknya perangai Wanggai. Yakni tekel Wanggai terhadap Marc Klok di laga Piala Menpora 2021 antara Persija kontra PSM serta jari tengah yang diacungkan striker 32 tahun itu ke arah pendukung Persija pada tahun 2019 kala memperkuat Kalteng Putra.

BACA JUGA:  Amarzukih: Gubernur Masa Depan Jakarta

Mereka menyebut Wanggai sebagai pemain yang provokatif dan acap bermain kasar di atas lapangan. Saya pun mengamini itu.

Namun perilaku tersebut tidak membuat suporter (atau pemain maupun ofisial) yang kesal lantaran timnya dikalahkan oleh tim yang dibela Wanggai, berhak untuk melakukan pelecehan rasial kepadanya.

Harus dicamkan bahwa bermain kasar di lapangan dan melakukan pelecehan rasial adalah dua kejahatan yang levelnya berbeda.

Jika Wanggai bermain kasar, serahkan hukumannya kepada wasit. Kartu kuning, kartu merah, sanksi larangan bermain, itu semua sudah ada dalam regulasi.

Apabila Wanggai melakukan provokasi, urusan itu mestinya jadi milik federasi. Ketika David Beckham mengacungkan jari tengah ke arah suporter Inggris pada tahun 2000, FA langsung memberi teguran keras. Barangkali, kasus Beckham itu bisa dijadikan yurisprudensi oleh PSSI.

Di satu sisi, apa yang disampaikan @suarasupporter itu patut diapresiasi. Mereka menunjukkan kesalahan-kesalahan Wanggai yang tak terhukum oleh otoritas berwenang.

Dari segi sepakbola, itu adalah kritikan yang bagus. Memang, PSSI dan organ-organnya harus lebih tegas dan konsisten dalam menegakkan aturan.

Akan tetapi, di sisi lain, penyampaian fakta-fakta buruknya perangai Wanggai dalam konteks sikap anti-rasisme adalah tindakan berbahaya.

Sebab, akan ada orang yang melihat fakta-fakta tadi sebagai pembenaran untuk melecehkan Wanggai, dan pada akhirnya memang ada.

Buktinya bisa terlihat dari cuitan @mildandaru.

Di Indonesia, rasisme masih sering dinafikan keberadaannya. Padahal, sudah banyak bukti yang menunjukkan kekejian kita terhadap liyan, terutama orang-orang keturunan Tionghoa dan orang-orang Papua.

Bahkan, kekerasan rasial terhadap orang-orang Tionghoa dan Papua dilakukan negara ini secara struktural.

Ada perlakuan berbeda terhadap mereka. Orang-orang Tionghoa dan Papua dianggap sebagai “ancaman yang harus dihajar duluan sebelum mereka menghajar kita”.

BACA JUGA:  Italia dan Bayang-Bayang Kegagalan di Piala Eropa

Hal-hal semacam ini sudah tertanam jauh di alam bawah sadar sampai-sampai kita tak lagi menyadari bahwa itu tak bisa dibenarkan.

Inilah mengapa rasisme itu berbahaya. Efeknya tidak akan langsung muncul (slow burn). Ketika kita mengajari anak-anak kita untuk tidak menyukai golongan tertentu, mereka tidak akan langsung berbuat sesuatu.

Mulanya anak-anak kita akan memandang dari kejauhan seraya mencari bukti dan pembenaran dari apa yang kita ajarkan.

Lalu ketika mereka telah dewasa, segalanya sudah terlambat. Mereka akan menjadi pembenci yang bakal menormalisasi kebencian dan kekerasan.

Ketika rasisme tertanam dalam diri seseorang, mendehumanisasi para liyan akan jadi sesuatu yang sangat mudah.

Para liyan itu akan dipandang sebagai manusia-manusia yang “levelnya” ada di bawah kita, dan dengan demikian, kita berhak menindas mereka. Apa ini yang ingin kita wariskan ke anak cucu?

Oleh karena itu, ruang perdebatan dalam upaya membasmi rasisme semestinya tidak boleh dibuka sedikit pun. Rasisme adalah tindakan keji, tak bisa dibenarkan, dan pelakunya mesti dihukum.

Tidak ada zona abu-abu dalam persoalan ini. Cuma ada benar dan salah. Titik.

Komentar
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.