Pada hari Jumat (25/10) kemarin, Komite Disiplin (Komdis) federasi sepakbola Indonesia (PSSI) menggelar sidang terkait beberapa masalah yang muncul dari kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Salah satu pihak yang menjadi terdakwa dalam sidang tersebut adalah penggawa PSIM Yogyakarta, Ahmad Hisyam Tolle.
Seperti dirilis oleh bola.net, pemain kelahiran Makassar itu mendapat sanksi berat dari Komdis PSSI berupa larangan beraktivitas di kancah sepakbola yang ada dalam lingkungan PSSI selama lima tahun akibat perbuatan tercelanya yakni menendang pemain Persis Solo, M. Sulthon, dan mengintimidasi fotografer Goal Indonesia, Budi Cahyono, pada laga PSIM versus Persis Solo di Stadion Mandala Krida (21/10).
Vonis dari Komdis PSSI tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan pencinta sepakbola nasional. Ada yang merasa bahwa hukuman itu pantas dijatuhkan kepada Tolle sebagai akibat dari perbuatannya dengan harapan memberi efek jera (kepada seluruh pesepakbola di Indonesia supaya tidak melakukan hal serupa). Apalagi Tolle cukup kondang sebagai pemain yang perangainya kasar di lapangan.
Rekomendasi Jersey Fantasy dan Jaket Bertema Garuda yang Keren
Sementara yang kontra menganggap sanksi tersebut kelewat berat lantaran berisiko mematikan karier Tolle. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, masa edar Tolle sebagai pesepakbola sebenarnya masih amat panjang. Dengan hukuman tersebut, dirinya baru dapat berpartisipasi lagi di kompetisi yang dinaungi PSSI saat umurnya menyentuh 30 tahun. Mungkinkah Tolle menganggur selama lima tahun sampai akhirnya kembali merumput?
Walau demikian, Tolle dan tentu saja PSIM sebagai klubnya saat ini, berhak untuk mengajukan banding atas hukuman itu. Namun diterima atau tidaknya banding tersebut, sepenuhnya jadi wewenang Komite Banding (Komding) PSSI.
Akan tetapi, banyak pihak yang merasa kalau banding Tolle diterima lalu hukumannya dikurangi, para pesepakbola di Indonesia yang melakukan tindak kekerasan tidak akan merasa kapok sehingga kasus-kasus semacam itu muncul lagi ke permukaan.
Diakui atau tidak, publik teramat sering mendengar kasus kekerasan dalam sepakbola Indonesia yang dilakukan para pemain. Berdasarkan rilis Indosport, setidaknya ada empat pesepakbola yang pernah mendapat sanksi larangan bermain seumur hidup di kompetisi garapan PSSI gara-gara bertindak anarkis dan dicurigai terlibat pengaturan skor. Mereka adalah Aldo Claudio dan Pieter Rumaropen (Persiwa Wamena), Krisna Adi (PSMP Mojokerto), dan Stanley Mamuaya (Persibom Bolaang Mongondow).
Khusus pada Rumaropen, lucunya malah ada kesimpangsiuran tentang penerapan hukuman tersebut. Awalnya ia memang dihukum larangan bertanding seumur hidup pasca-menganiaya wasit. Namun Komding PSSI kabarnya meringankan sanksi tersebut jadi satu tahun saja.
Lebih jauh, dalam pengakuannya seperti dilansir goal.com, Rumaropen diyakinkan oleh manajemen Persiwa sehingga berani merumput kalau hukumannya cuma berlaku di Liga Super Indonesia (kasta teratas sepakbola Indonesia pada saat itu), tapi tidak di Divisi Utama (kasta kedua).
Alhasil, tenaga Rumaropen bisa diberdayakan Persiwa saat tampil di kasta kedua usai terdegradasi dari Liga Super Indonesia musim sebelumnya. Hal seperti ini tentu menimbulkan kontroversi tersendiri.
Di luar itu, sudah tak terhitung lagi hukuman-hukuman, mulai dari larangan bertanding, denda uang sampai teguran keras, yang dilayangkan PSSI kepada para pemain dengan perbuatan tercela di lapangan.
Bergeser ke sepakbola internasional, para penggemar sepakbola mungkin belum lupa akan kasus yang dialami Eric Cantona, Paolo Di Canio, Patrice Evra sampai Luis Suarez. Kuartet tersebut sama-sama pernah melakukan tindakan buruk di lapangan dengan korbannya adalah sesama pemain, suporter hingga wasit.
Bulan Januari 1995 jadi momen di mana Cantona yang saat itu memperkuat Manchester United melepaskan tendangan kungfu ke arah fans Crystal Palace, Matthew Simmons. Cantona melakukan itu lantaran kesal dengan ejekan yang diucapkan Simmons. Akibat dari perbuatannya itu, Cantona dihukum larangan bertanding selama delapan bulan, membayar denda uang serta melaksanakan kerja sosial.
Di Canio mendapat suspensi sebelas pertandingan dan wajib membayar denda gara-gara mendorong wasit usai dihadiahi kartu merah kala membela Sheffield Wednesday di bulan September 1998.
Ketika bermain untuk Olympique Marseille pada November 2017, performa Evra yang tidak memuaskan bikin seorang fans memakinya. Tak terima dengan itu, ia mendekati sang suporter dan menendangnya. Akibat dari tindakan tersebut, Evra dijatuhi sanksi menepi dari lapangan selama tujuh bulan serta membayar denda. Lebih jauh, kontraknya langsung diputus oleh Marseille.
Sedangkan Suarez diganjar hukuman tidak boleh merumput selama empat bulan (di level klub maupun tim nasional) usai kedapatan menggigit Giorgio Chiellini di Piala Dunia 2014 (Juni 2014) saat Uruguay berjumpa Italia. Padahal, musim panas itu Suarez baru saja merampungkan kepindahannya dari Liverpool ke Barcelona.
Jika dikomparasi dengan hukuman Cantona, Di Canio, Evra dan Suarez, apa yang diterima Tolle memang sangat berat. Namun Komdis PSSI pasti memiliki dasar yang kuat sehingga memberi hukuman seperti itu (terlepas dari adanya kesempatan banding dan sebagainya).
Meski demikian, dibutuhkan kesungguhan dan ketegasan lebih dari PSSI agar preseden serupa dapat ditekan atau bahkan dihilangkan pada masa yang akan datang. Sebagai federasi yang menaungi sepakbola Indonesia, PSSI wajib merumuskan regulasi berikut hukuman yang jelas terkait segala tindak kekerasan yang terjadi di lapangan, baik dilakukan oleh pemain, pelatih, ofisial, wasit maupun suporter.
Tak lupa pula, PSSI kudu menyampaikan semua aturan tersebut kepada seluruh klub (yang dapat meneruskannya ke pihak suporter), komite wasit, asosiasi provinsi/kota/kabupaten yang bernaung di bawah mereka serta para pesepakbola yang berkiprah di Indonesia, baik yang menjadi anggota Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) maupun tidak.
Dengan adanya regulasi dan hukuman yang jelas, harapannya adalah para pemain, pelatih, ofisial, wasit dan suporter memiliki kontrol yang kuat untuk diri mereka sendiri supaya tidak melakukan hal-hal yang buruk. Berbuat anarkis di lapangan sama artinya mereka siap menerima semua konsekuensi yang ada berdasarkan aturan berlaku.
Jangan membiarkan hal seperti ini awet di zona abu-abu karena semuanya berimbas pada iklim sepakbola nasional yang ruwet dan jauh dari kata profesional. Percayalah, sepakbola Indonesia akan baik jika PSSI-nya baik.