Plus dan Minus Kejuaraan Sepakbola Antarnegara

Selama beberapa pekan terakhir, pencinta sepakbola di muka Bumi sedang dimanjakan dengan adanya dua kejuaraan antarnegara bertajuk Piala Eropa 2020 dan Copa America 2021 (sebetulnya dua ajang ini dihelat pada 2020 silam, tetapi adanya pandemi Covid-19 bikin jadwalnya digeser ke tahun 2021.

Seperti Piala Dunia atau kejuaraan sepakbola antarnegara lainnya, perhelatannya dilaksanakan selepas musim kompetisi sepakbola (mayoritas di Eropa) selesai atau pada pertengahan tahun.

Layaknya kompetisi liga domestik atau turnamen antarklub regional, kejuaraan sepakbola antarnegara juga memiliki daya tariknya sendiri.

Dengan status membela negara, maka sebelum pertandingan dimulai, kita akan diperdengarkan lagu kebangsaan dari tim nasional negara yang bertanding.

Pada momen tersbeut, kita bisa menyaksikan bagaimana perasaan bangga para pemain, pelatih, ofisial sampai suporter di tribun saat lagu kebangsaan negaranya diperdendangkan.

Satu yang paling ikonik adalah para pemain tim nasional Italia yang begitu berapi-api saat lagu Fratelli d’Italia dikumandangkan. Bahkan pernah suatu ketika, para pendamping pesepakbola saat memasuki lapangan yang umumnya anak kecil, menutup telinga karena tak tahan dengan teriakan pemain Italia saat bernyanyi.

Situasi itu tak cuma berlangsung di antara para pemain. Ada begitu banyak suporter yang juga melakukannya di tribun atau bahkan di depan televisi.

Selain itu, kejuaraan sepakbola antarnegara merupakan momen di mana kita bisa melihat para pesepakbola terbaik dari suatu negara ada dalam satu tim yang sama.

Kapan lagi kita bisa menyaksikan Rivaldo dan Ronaldo, Alessandro Del Piero dan Francesco Totti, sampai Gerard Pique dan Sergio Ramos menjadi kawan di lapangan alih-alih bertanding sebagai lawan seperti saat membela klubnya masing-masing?

Aksi-aksi yang dipamerkan para pemain, biasanya juga lebih ngotot dibanding biasanya. Bukan berarti saat membela panji klub mereka tampil ogah-ogahan, tetapi selalu ada aura yang berbeda saat bertarung demi tim nasional.

Bukankah salah satu tujuan menjadi pesepakbola hebat adalah membela tim nasional? Maka ketika saat itu tiba, mereka tidak ingin menyia-nyiakannya dengan tampil semaksimal mungkin di setiap laga.

Selain pemain, daya tarik lain ada di kualitas pertandingan. Membela tim nasional, apalagi jika tampil pada ajang yang prestisius seperti Piala Dunia, Piala Eropa atau Copa America, memunculkan motivasi yang cukup kuat untuk tampil mati-matian guna mengharumkan negara di hadapan dunia.

BACA JUGA:  Anomali Chelsea yang Mengerikan

Tidak ada jaminan kalau pertandingan-pertandingan di kejuaraan sepakbola antarnegara akan selalu seru dan kualitasnya bagus. Namun paling tidak, kita boleh menaruh harapan bahwa laga yang berlangsung tak menjemukan.

Dan daya tarik terakhir dari kejuaraan sepakbola antarnegara ada pada waktu penyelenggaraannya. Umumnya, entah itu Piala Dunia, Piala Eropa atau Copa America diselenggarakan selama kurang lebih satu bulan.

Kondisi demikian membuat kita, para penggemar sepakbola, dimanjakan dengan adanya satu hingga tiga pertandingan dalam sehari, khususnya saat ada dalam fase grup.

Hal ini tentu membahagiakan kita yang penat dengan rutinitas dan menjadikan tayangan sepakbola sebagai hiburan. Apalagi kejuaraan sepakbola antarnegara biasanya digelar empat tahun sekali sehingga ada perasaan enggan melewatkannya begitu saja.

Daya tarik seperti itulah yang sekiranya membuat ajang semisal Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America dan lain sebagainya mempunyai magis tersendiri bagi orang-orang yang bahkan awam soal sepakbola.

Orang yang dahulunya tidak tertarik atau jarang menonton sepakbola, bisa ikut larut dan aktif menonton pertandingan pada kejuaraan sepakbola antarnegara.

Kita pasti sering melihat orang-orang yang berkumpul buat nonton bareng pertandingan Piala Dunia atau Piala Eropa, entah itu di rumah bersama keluarganya atau di kafe bersama kawan-kawannya. Tidak hanya menyaksikan laga, mereka juga ingin menikmati euforia dari kejuaraan tersebut bareng orang-orang terdekat.

Contoh paling dekat bisa kita temukan saat tim nasional Indonesia bertanding. Bukan hanya di level senior, melainkan sampai level U-16 orang-orang bakal berkerumun untuk menyaksikan skuad Garuda.

Tak peduli bahwa saat menonton nanti kita akan berteriak keras akibat pemain lawan melakukan pelanggaran, mengomeli wasit yang dinilai berat sebelah, melontarkan sumpah serapah hingga bersorak-sorai saat tim mencetak gol. Semuanya tumpah dalam satu momen.

Keadaan seperti itu belum tentu muncul dari laga-laga di liga domestik maupun kejuaraan antarklub regional. Kecuali kala melibatkan tim-tim mapan atau memasuki babak-babak krusial. Namun kehebohannya tidak akan semasif kejuaraan sepakbola antarnegara.

Meski banyak sisi plusnya, kejuaraan sepakbola antarnegara juga punya sisi minusnya. Dengan jadwal pertandingan yang padat dan nyaris tayang setiap hari, kita sebagai penonton memang dimanjakan. Namun apakah itu betul-betul baik untuk kesehatan kita? Belum tentu.

Pasalnya, menyaksikan pertandingan sepakbola (terlebih berlangsung dini hari) secara maraton dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Tidur yang berkurang bisa mendistraksi aktivitas kita sehari-hari.

BACA JUGA:  Menunggu Sentuhan Magis Sarri di Lazio

Bagi mereka yang intens mengikuti seluruh pertandingan, barangkal mengantuk saat bekerja di kantor atau belajar di kampus/sekolah, jadi hal yang tak terelakkan lagi. Akibatnya? produktivitas ikut menurun.

Tak hanya kita, penonton, yang bisa terkena dampak negatif. Para pemain yang beraksi pun demikian. Energi mereka dikuras sampai titik penghabisan kala bertarung dalam kejuaraan sepakbola antarnegara. Padahal, tenaga mereka sudah terforsir selama satu musim penuh saat membela klub.

Akibatnya, risiko terkena cedera pun semakin tinggi karena kelelahan. Beberapa pemain yang membela tim nasional di Piala Eropa tumbang akibat cedera. Sementara gelandang andalan Denmark, Christian Eriksen, bahkan harus mendapat perawatan khusus karena mengalami henti jantung.

Walau kejuaraan sepakbola antarnegara menghadirkan keseruan tersendiri, asosiasi sepakbola induk (entah itu FIFA atau yang ada di bawah mereka seperti UEFA, AFC, OFC, CONCACAF, CAF, sampai CONMEBOL) mesti memikirkan lagi kondisi para pemain.

Dengan jadwal yang padat selama membela klub, memaksa mereka untuk terus menggeber kemampuannya dalam jadwal lebih padat lagi di kejuaraan sepakbola antarnegara dapat memicu berbagai kasus kesehatan yang tak diinginkan. Bagaimanapun juga, mereka tetaplah manusia yang butuh waktu untuk beristirahat.

Ajang-ajang yang tidak penting seperti UEFA Conference League atau UEFA Nations League, sepatutnya ditiadakan. Jangan melulu mengincar pendapatan dari sponsor dan lantas memperlakukan para pemain selayaknya budak yang bisa diperah terus tenaganya.

Federasi tiap negara juga dapat membantu mengurangi padatnya jadwal pertandingan dengan menghapus ajang yang dirasa tidak perlu. Misalnya saja Piala Liga di Inggris. Di Prancis, asosiasi sepakbola Negeri Anggur sudah resmi menghapus ajang Piala Liga per musim 2020/2021 kemarin.

Dengan jumlah pertandingan yang berkurang, para pemain mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih lama. Alhasil, kondisi fisik mereka takkan rentan oleh cedera.

Ada kalanya, mendahulukan sisi manusiawi lebih penting daripada berpikir tentang keuntungan dan uang. Lebih baik Piala Eropa diselenggarakan dengan 16 peserta saja ketimbang 24 negara. Dengan begitu, kompetisi tidak berlangsung lebih lama dan jumlah pertandingan yang ada tidak terlalu banyak.

Semoga saja ada perubahan yang terjadi sehingga para pemain tidak diperas lagi tenaganya. Tak masalah jika laga yang dapat disaksikan penonton berkurang, asal kualitasnya tetap kelas wahid. Hal itu sendiri berguna untuk menjaga magis dari kejuaraan sepakbola antarnegara.

Komentar
Harri Rahmad Fadil
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, penganut aliran britpop yang (belum) taat, pemalas, bungkuk dan suka sekali makan pisang.