PSIR Rembang: Sebuah Memorabilia

Publik sepakbola nasional mungkin lebih familiar dengan PSIS, Persijap, dan Persis jika merujuk klub sepak bola yang berasal dari Jawa Tengah.

Namun, selain ketiga klub tersebut, Jawa Tengah juga memiliki satu klub yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja, jika menilik sejarah dalam belantika sepak bola nasional. Klub tersebut adalah PSIR.

Klub yang bermarkas di Stadion Krida, Rembang tersebut merupakan salah satu dari lima klub asal Jawa Tengah yang pernah merasakan kerasnya kompetisi kasta tertinggi nasional. Tepatnya pada kompetisi Ligina I musim 1994/1995 dan IPL musim 2013.

Selain itu, PSIR juga beberapa kali berhasil mencatatkan prestasi manis pada gelaran kompetisi resmi PSSI. Pada kompetisi Divisi Utama Perserikatan musim 1993/1994 PSIR berhasil lolos hingga babak 8 besar.

Kemudian, Laskar Dampo Awang meraih juara Divisi II nasional pada musim 1989/1990 dan musim 2006/2007, juara Divisi III nasional musim 2005/2006, dan promosi ke IPL setelah menempati peringkat 2 di grup 2 kompetisi Divisi Utama LPIS musim 2011/2012.

Prestasi-prestasi tersebut membuat PSIR setidaknya layak menyandang gelar sebagai salah satu klub besar di Jawa Tengah bersanding dengan PSIS, Persijap, dan Persis. Meskipun secara popularitas nasional, Laskar Dampo Awang masih inferior dibanding tiga klub tersebut.

Sebuah Memorabilia

Melihat kembali kiprah PSIR dalam belantika sepak bola nasional isyarat meletupkan goresan memorabilia. Kisah manis dan getir. Gelar juara dan degradasi. Prestasi dan kontroversi. Hingga eksistensi dan undur diri kuyup mewarnai perjalanan 50 tahun perjalanan tim itu.

Sejak berdiri pada tahun 1970, begitu banyak memorabilia yang melekat dalam ingatan masyarakat Rembang dan pecinta PSIR akan sebuah entitas dan identitas kebanggaan berjuluk Laskar Dampo Awang.

Kisah manis PSIR berawal pada musim 1989/1990 ketika berhasil menggondol gelar juara divisi II nasional perserikatan sekaligus menggondol tiket promosi untuk mentas di divisi I perserikatan musim 1990/1991.

Setelah 3 Musim PSIR Rembang mentas di Divisi I, akhirnya pada musim 1993/1994 PSIR bisa tampil pada kompetisi divisi utama. Pada saat itu, Divisi Utama sendiri merupakan kompetisi kasta tertinggi era perserikatan.

Pada kompetisi musim inilah, prestasi terbesar sepanjang berdirinya klub berhasil diukir. Kala itu, PSIR berada di grup timur bersama Persebaya, PSM, PSIS, Persegres, PSIM, Persema, dan Persiba Balikpapan.

BACA JUGA:  Terkikisnya Persiba di Tanah Sendiri

PSIR kala itu bermaterikan gabungan pemain lokal dan pemain luar daerah seperti Hadi Surento, Mulyono, Damani, Ratriadi Sapteko, Hariyanto, Yance Ruma, Fritz Rudolf Padwa, Bambang Handoyo, Kuncoro, Joko Supriyono, Tulastono Suparmin, alm Tri Karsono, Komarudin, dan Joko Darwanto.

Laskar Dampo Awang mampu finis diperingkat 4 grup timur setelah pada pertandingan terakhir mampu menahan imbang tuan rumah Juku Eja di stadion Mattoanging dengan skor 1-1.

Hasil itu cukup untuk memantapkan posisi Laskar Dampo Awang di peringkat 4 grub timur sekaligus memastikan tiket ke babak 8 besar yang akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Setelah memastikan tempat di Senayan, para pemuda dan pecinta PSIR pun menggelar pawai untuk merayakan keberhasilan Laskar Dampo Awang di kancah sepakbola nasional tersebut.

Pada babak 8 besar sendiri, PSIR bergabung dengan Persib, PSM, dan Persiraja. Sayangnya, Laskar Dampo Awang gagal melaju ke babak semifinal setelah hanya meraih 1 kemenangan melawan Persiraja dan 2 laga sisanya menelan kekalahan

Meskipun gagal melaju ke babak semifinal, prestasi Laskar Dampo Awang mampu lolos ke babak 8 besar di kompetisi kasta tertinggi merupakan pencapaian yang luar biasa.

Apalagi ada beberapa cerita pilu yang mengiringi PSIR saat mentas di Senayan. Salah satunya adalah kisah mereka yang terpaksa tidak bisa latihan dan menjajal rumput Gelora Bung Karno lantaran tidak mampu membayar uang sewa.

Setelah prestasi nan mengagumkan itu, musim berikutnya, 1994/1995, Perserikatan dan Galatama digabung menjadi satu dalam wadah kompetisi yang sama. Pada kompetisi Ligina I itu, PSIR kembali berada di grup timur bersama klub-klub besar, seperti Persebaya, PSM, Barito Putera, dan Persipura.

Karena faktor keterbatasan dana, pada waktu itu Laskar Dampo Awang tidak mampu merekrut pemain asing dan masih mengandalkan komposisi pemain pada musim 1993/1994. Sementara itu, para klub eks galatama dan eks perserikatan yang lain mayoritas menggunakan jasa pemain asing.

BACA JUGA:  Menyoal Penghentian Ligue 1 2019/2020

Ketimpangan komposisi dan materi pemain inilah yang menjadi faktor kuat mengapa PSIR pada akhirnya harus terjerembab di posisi kedua terbawah grup timur dan degradasi ke kompetisi Divisi I.

Setelah itu, Laskar Dampo Awang sering absen mengikuti kompetisi. Dalam rentang waktu 1995 hingga 2001, PSIR hanya berkiprah satu musim saja di Divisi I musim kompetisi 1996/1997.

Lalu, pada musim 2001/2002, PSIR kembali ikut kompetisi, yakni kompetisi Divisi II A Jawa Tengah. Kemudian, pada tahun 2005, PSIR berhasil menjadi juara Divisi III Nasional. Semusim berikutnya, mereka berhasil menjadi juara Divisi II Nasional dan promosi ke Divisi I.

Pada musim 2007 itulah PSIR membukukan catatan tiga kali berturut-turut promosi setelah mampu lolos ke Divisi Utama yang saat itu merupakan kasta kedua. Sayangnya, keberhasilan itu dibayangi kontroversi.

Pasalnya, setiap PSIR berlaga di kandang nyaris selalu mendapat hadiah penalti dari wasit bahkan Stadion Krida sempat dijuluki stadion penalti oleh media saat itu. Setelah perkara itu, Laskar Dampo Awang eksis di kasta kedua hingga 2012.

Pada musim 2011/2012, PSIR akhirnya mampu promosi ke kasta tertinggi sepakbola nasional, yak ni IPL ketika terjadi dualism kompetisi. Saat itu, Laskar Dampo Awang menjadi runner-up grup II, mengangkangi klub-klub prominen macam PSIS, Persis, PSS, dan Persik.

Semusim PSIR berkompetisi di IPL bertarung dengan klub legendaris macam PSM Makassar dan Persebaya 1927. Kemudian kembali ke kasta kedua pada tahun 2014 hingga sampailah ketika kisah getir kembali menerpa.

Musim kompetisi Liga 2 musim 2018, PSIR harus terdegradasi ke Liga 3 yang merupakan kasta terbawah dalam hierarki kompetisi sepakbola Indonesia. Namun, pada musim 2019 lalu, PSIR justru absen dari kompetisi tersebut.

Laskar Dampo Awang kembali bergeliat pada musim 2020. Sayangnya, pandemic Corona menerpa seluruh dunia sehingga kompetisi menjadi tidak jelas.

Pada akhirnya, kisah di atas mungkin belum merekam secara utuh perjalanan PSIR dalam rimba belantika sepakbola nasional. Namun, tentu sudah cukup untuk menjadi memorabilia bagi siapa saja yang mencintai dan merindukan klub kebanggaan wong Rembang, PSIR Rembang.

Komentar
Penggemar PSM asal Rembang, Jawa Tengah. Mahasiswa Magister Hukum UNISSULA dan calon mahasiswa doktoral Universitas Leiden. Dapat disapa di akun @PradiktaAndiAlv