PSS-PSIS: Dari Tribun Maguwoharjo

Kali pertama datang ke Stadion Maguwoharjo dan merasakan atmosfer tribun salah satu faksi suporter paling kreatif dan progresif di Indonesia, Brigata Curva Sud, bikin jantung saya berdegup kencang saking antusiasnya. Berdiri di tengah-tengah ribuan orang yang amat fanatik mendukung salah satu kesebelasan besar di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, PS Sleman, rasanya memang berbeda.

Meski hari itu PSS cuma melakoni laga persahabatan kontra tim asal Semarang, PSIS, tetapi atmosfer yang menyeruak dari Maguwoharjo sungguh luar biasa. Suara tabuhan drum yang diiringi nyanyian-nyanyian penyemangat menggema nyaris sepanjang laga. Menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion memanglah kenikmatan yang paripurna.

Stadion Maguwoharjo yang berumput indah itu serasa tidak pernah sepi pengunjung kala tim Super Elang Jawa berlaga. Siapapun lawan, tribun stadion tetap terisi penuh, lebih-lebih di sebelah utara dan selatan. Bendera-bendera besar berkibar dan menghiasi angkasa, tiada beda dengan Stadion San Siro di kota Milan.

Hari itu, 10 Juni 2017, adalah momen kala dua sahabat lama bertemu kala jeda kompetisi Liga 2 2017. Keduanya ingin saling jajal kekuatan serta kedalaman masing-masing skuad sebelum kembali mengarungi kompetisi. Sepanjang pengetahuan saya, PSS memang rutin melakukan laga uji coba dengan PSIS selama pramusim atau jeda kompetisi. Laga ini sendiri merupakan uji coba kedua Super Elang Jawa. Sebelumnya, mereka bertemu dengan Madiun Putra dan sukses membungkus kemenangan lewat kedudukan akhir 3-1.

Selama putaran pertama berlangsung, PSS bersaing di Grup 3. Begitu dekat dibuntuti PSCS dan PSGC yang sama-sama mengoleksi 12 poin. Lalu diikuti Persibas dan Persip peraih 10 poin. Sementara Persijap, Persibat, dan Persibangga saling sikut untuk menjauhi dasar klasemen.

BACA JUGA:  Menginginkan Filosofi Bermain ala Seto

Freddy Muli sebagai pelatih Waluyo dan kawan-kawan ingin membenahi kekurangan tim sehingga siap menyongsong putaran kedua. Terlebih, ia diberi target promosi ke Liga 1 oleh manajamen. Maka sang pelatih pun sangat serius menatap laga uji coba melawan Laskar Mahesa Jenar.

Memiliki identitas permainan yang jelas serta performa konsisten jadi tujuan utama sang pelatih karena hari-hari berikutnya di kompetisi pasti berjalan semakin berat. Apalagi saat itu mereka resmi ditinggalkan oleh Agung Prasetyo, Deni Rumba, Dicky Prayoga, dan Tri Handoko yang kontraknya tak diperpanjang. Freddy harus mencari komposisi terbaik guna melanjutkan usaha merengkuh satu tiket naik kasta.

Seru laga berjalan, sangat sengit bahkan. PSIS memakai kekuatan penuh dengan hadirnya pemain-pemain berkualitas macam Hari Nur Yulianto, Haudi Abdillah, dan M. Ridwan mengisi starting eleven. Subangkit, pelatih PSIS kala itu, merupakan sosok peramu strategi yang selevel dengan Freddy.

Sepengamatan saya, Rud Gullit Yunus jadi salah satu talenta berpenampilan lumayan di kubu PSIS. Ia mampu mengontrol lini tengah dan beradu teknik dengan Busari serta Mahadirga Lasut, motor di sektor tengah PSS. Sempat berakhir dengan skor imbang tanpa gol pada babak pertama, naiknya intensitas permainan pada babak kedua membuahkan gol bagi masing-masing tim.

Riski Novriansyah menjadi pencetak gol PSS di menit ke-60 dan membuat suporter dengan warna kebesaran hijau bersorak. Sementara gol tendangan bebas Taufik Hidayat bikin pendukung tim dengan warna khas biru berjingkrak-jingkrak. Kedudukan sama kuat 1-1 itu sendiri menjadi hasil akhir pertandingan. Satu-satunya noda dari laga ini adalah sempat munculnya kerusuhan yang terjadi di tribun.

Baik Freddy maupun Subangkit, sama-sama mendapat masukan berharga dari laga ini. Keduanya pun jadi mengerti apa yang kudu dibenahi di skuadnya guna tampil lebih baik pada putaran kedua. (Di pengujung musim, nasib berbeda dirasakan kedua belah pihak. PSIS berhasil promosi ke Liga 1 dengan status peringkat ketiga sedangkan PSS harus menerima nasib tertahan di Liga 2 gara-gara rontok pada fase 16 besar).

BACA JUGA:  Tarkam: Kultur Sepakbola Indonesia yang Penuh Warna

Selepas wasit meniup peluit panjang, pemain dari kedua kubu berkumpul di lingkaran tengah lapangan. Selang beberapa saat kemudian, terdengarlah nyanyian lagu Sampai Kau Bisa yang membahana dari tribun Stadion Maguwoharjo diiringi berbagai harapan dan cinta yang tak pernah putus.

Wajar bila atmosfer Stadion Maguwoharjo dinilai ekspesional tiap kali PSS bermain. Sebab segala cinta dan dukungan kepada Super Elang Jawa tertumpah di sana selama 90 menit bahkan lebih. Walau saat itu cuma laga uji coba, saya sendiri takkan pernah melupakannya.

Komentar
Mencintai sepak bola secara sederhana. Aktif menulis sejak bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk tahun 2013. Sempat bergabung dengan Gatra pada tahun 2019.