Rivalitas Tiga Gawang: Subversifisme dalam Dekonstruksi Sepak Bola

Dalam sepak bola, penonton memerlukan drama agar jalannya pertandingan tidak terlampau mekanistis dan membosankan. Itulah mengapa, tak sedikit orang yang mengelu-elukan nama Filippo Inzaghi. Sebab di balik gaya permainannya yang cenderung tidak estetis, ia menghadirkan drama melalui “kebiasaan” melakukan aksi teatrikal di dalam kotak penalti.

Pertanyaannya kemudian: cukupkah drama menjadi medan magnetik untuk agar orang tetap menonton sepak bola?

Tidak juga. Sebab ada beberapa orang yang menganggap bahwa yang membosankan dari sepak bola ternyata adalah justru bentuk permainannya. Orang-orang semacam itu sudah tak lagi memerlukan drama atau teknologi sebagai bahan bakar penambah semangat menonton. Yang diperlukan adalah revolusi permainan, bukan cuma sekadar inovasi. Salah satu orang yang berpikiran demikian adalah Asger Jorn.

Jorn, yang lahir di Denmark pada 3 Maret 1914, adalah salah seorang pendiri gerakan Situanist International (SI), sebuah gerakan yang mengelaborasikan antara tradisi berkesenian dengan kehendak politik radikal. Jorn sendiri merupakan salah satu seniman dari kelompok The International of Experimental Artist, sebuah grup avant-garde berisikan penulis, arsitek dan pelukis dari Belgia, Belanda dan Denmark yang terbentuk pada tahun 1949.

Dengan latar belakang seni eksperimental dengan pemahaman politik kuat, pada tahun 1962, Jorn kemudian menggagas sebuah ide radikal untuk mengubah konsep permainan sepak bola. Orang menyebutnya dengan istilah 3sided Football.

Sesuai dengan namanya, permainan 3sided Football melibatkan tidak hanya dua tim, tetapi tiga tim sekaligus. Dimainkan di atas lapangan berbentuk heksagon (segi enam), setiap tim diperbolehkan untuk berembuk terlebih dahulu untuk menentukan aturan pertandingan. Dengan kata lain, tak ada wasit ataupun hakim garis ketika memainkan 3sided Football. Yang ada hanyalah kesepakatan, termasuk dalam hal-hal teknis. Prinsipnya adalah: kerja sama didahulukan, kompetisi dikurangi.

Paradigma Jorn berangkat dari tesis Marxisme menyoal perjuangan kelas. Bahwa sepak bola, menurut Jorn, tak ubahnya prinsip seperti “us versus them”, dengan “us” sebagai proletariat, dan “them” adalah para borjuis. Berdasarkan tesis tersebut, maka 3sided Football disebut Jorn dapat menjadi representasi perjuangan alternatif yang mendorong kesadaran bekerja sama dalam kompleksitas masyarakat.

Secara filosofis, 3sided Football memungkinkan sebuah pertandingan di mana tak ada tim yang didominasi oleh tim lainnya. Secara tak langsung, permainan ini adalah bentuk subversif atas dominasi kapital dan hegemoni korporasi yang lambat laun mulai menghancurkan sepak bola. Selain itu, dengan adanya tiga tim yang bertarung di atas lapangan, 3sided Football juga memutus rantai dominasi sebuah tim yang diperkuat beberapa orang individu terbaik, kepada tim lainnya.

Sayangnya, ide 3sided Football yang dicetuskan Jorn tersebut tak pernah berhasil direalisasikan hingga 30 tahun lamanya. Barulah, pada tahun 1990, seorang pegiat kolektif asal Italia bernama Luther Blissett mulai mewujudkan ide Jorn tersebut. Sejak saat itulah, 3sided Football secara perlahan mulai dikenal di Eropa.

Tahun 2010 lalu, ketika Britania Raya tengah melaksanakan pemilihan umum, salah seorang penulis Inggris bernama Sally O’Reilly menyelenggarakan kembali pertandingan 3sided Football. Adapun tiga tim yang bermain menamai klubnya masing-masing dengan nama partai yang juga tengah bertanding di pemilihan umum.

Lambat laun, sebuah kelompok intelektual di Inggris yang menamakan diri mereka Philosophy Football, secara perlahan mulai rutin menggelar pertandingan 3sided Football. Pada tahun 2011, misalnya, kelompok Philosopohy Football tersebut menggelar pertandingan 3sided Football di tiga kota di Eropa: Mei di Madrid, lalu November di Roma, dan berikutnya Desember di Bilbao antara tim yang merepresentasikan Athletic Bilbao dengan para imigran di sana. Pandit sepak bola terkemuka, Sid Lowe, juga turut bermain dalam pertandingan yang diselenggarakan di Bilbao.

Pada Mei 2013, bertempat di London, Philosophy Football kembali membuat turnamen, kali ini dengan skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak tim dari seluruh dunia. Tahun 2014 lalu juga menjadi tahun pembentukan International 3sided Football Federation untuk kali pertama.

Jika Anda tertarik untuk memainkannya, berikut tata cara permainan 3sided Football yang sejauh ini sering dipergunakan, sebagaimana dilansir dari laman Philosophy Football. Sebagai catatan, tata cara ini bersifat tidak wajib, melainkan hanya menjadi panduan standar yang dapat dinegosiasikan kembali berdasarkan kesepakatan antartim. Seperti yang telah dijelaskan sedikit di atas, 3sided Football lebih bertujuan untuk mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah dan solidaritas dalam memainkannya.

BACA JUGA:  Apakah Pemain Argentina Mudah Homesick?

1. Gol

Dalam permainan ini, gol bukan untuk dihitung, melainkan sebatas diakui. Tim yang mengakui kebobolan paling sedikit, merekalah pemenangnya. Dengan itu, semua tim bisa dengan bebas membobol gawang lawan-lawannya.

2. Lemparan ke dalam dan Tendangan Pojok

Di lapangan heksagon yang memiliki enam sisi, setiap tim menempati dua sisi: sisi belakang (backside) yang merupakan letak dari gawang sendiri dan sisi depan (frontside). Jika bola yang ditendang lawan keluar di antara sisi tim Anda, maka itu lemparan atau tendangan penjuru buat tim Anda. Jika sebaliknya, maka lemparan atau tendangan penjuru buat tim lawan, tergantung pada sisi mana tim mana Anda menendang bola keluar.

3. Wasit

Pada mulanya, 3sided Football memiliki prinsip permainan tanpa wasit. Alasannya adalah, “permainan ini dibentuk untuk mendekonstruksi mitos struktur bipolar sepak bola konvensional”. Meski demikian, jikapun pertandingan “diwajibkan” untuk memakai wasit, maka akan dipakai dua wasit agar mampu membuat keputusan-keputusan yang secara filosofis cerdas dan tepat.

4. Durasi pertandingan

Tak ada batasan waktu. Semua tim bebas bermain hingga bosan dan tak tentu arah. Idealnya, melihat pertandingan yang sudah-sudah, waktu 30 menit sudah cukup untuk memainkan 3sided Football.

5. Aturan lain

Tak ada offside, dan akan ada pergantian pemain secara bergiliran.

 

Satu hal yang membuat 3sided Football menjadi begitu menarik adalah, (anggota dari) tim yang kalah diperbolehkan bergabung dengan tim lain demi mengejar ketertinggalan dari tim yang menang. Dengan kata lain, dua tim bisa bergabung untuk melawan satu tim. Namun, setelah itu mereka dapat kembali ke tim masing-masing.

Pada satu sisi, aturan tersebut bisa jadi akan membingungkan, sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pewarta La Gazzetta dello Sport, Filippo Ricci. Namun, di sisi lain, aturan yang memperbolehkan pemain “pindah” ke tim lain tersebut justru dapat mendewasakan permainan itu sendiri.

Pada sebuah ulasan di The Guardian, Sid Lowe, yang sempat ikut serta dalam pertandingan 3sided Football di Bilbao, mengaku terkesan dengan peraturan tersebut. Ia mengatakan, “You can betray someone but they are not disappointed because they know it is part of the game and that the person who betrayed them could become their friend again. This makes this football very entertaining and strategic.”

Anda bisa saja menolak bahwa permainan ini bukanlah sepak bola. Sebab sepak bola selama ini adalah pertandingan yang hanya dilakoni oleh dua tim, dalam rentang waktu normal 90 menit, memiliki wasit dan hakim garis, serta menganggap gol bukan sekadar untuk “diakui”, tetapi juga simbol yang secara matematis memengaruhi hasil pertandingan.

Mark Dyson, salah seorang pelopor turnamen 3sided Football di London pada 2010 lalu, menyebut, “It’s a synthesis of football, basketball, chess and poker. There is an obvious increase in complexity but essentially it’s two-sided football with an element of bluff. It’s utterly unique and people who play it, love it.”

Hingga derajat tertentu, pernyataan Dyson memiliki peluang untuk menganggap bahwa 3sided Football adalah–menyitir istilah para Nietzschean–“martil filsafat” yang bertujuan untuk mendekonstruksi sepak bola. Ia memungkinkan manusia untuk meredefinisi sepak bola, meninjau ulang kompleksitas olah raga tersebut tidak hanya dari sisi teknis, tapi juga dari bahasa dan filosofi. Dengan kata lain, 3sided Football merupakan salah satu bentuk post-strukturalisme sepak bola.

Berdasar tinjauan historis, kajian post-strukturalisme ditandai dengan lahirnya pemikiran dekonstruksi. Nama-nama seperti George Bataille, Jacques Derrida, Gilles Deleuze, Emmanuel Levinas, hingga Michel Foucault, mulai berseliweran dalam horison filsafat barat dengan label “pemikir post-strukturalis” ketika dekonstruksi mulai ramai diperbincangkan.

Sejak kemunculannya hingga sekarang, dekonstruksi dapat diartikan sebagai metode baru dalam pembacaan sebuah teks. Akan tetapi, bagi kalangan positivis yang mayoritas merupakan ilmuwan, dekonstruksi lebih dianggap sebagai suatu perspektif keilmuan baru yang memiliki kecenderungan antimetode dan antiteori.

BACA JUGA:  Tak Ada Turnamen Pra-Musim di Indonesia

Para kaum positivis beranggapan, dekonstruksi cenderung relativis atau bahkan nihilistik terhadap diskursus, sehingga ia dikatakan sebagai intellectual gimmick, yang berarti “tipu musli­hat intelektual”, yang tidak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Dengan demikian, dekonstruksi dicap sebagai penantang arus filsafat analitik dan sains. Begitu seriusnya tudingan para kaum positivis tersebut, bahkan hingga membuat gelar doktor honoris causa yang diperoleh Derrida dari Universitas Cambridge sampai diprotes oleh 12 intelektual Amerika Serikat pada tahun 1992.

Menurut Derrida, pemaknaan merupakan suatu proses dengan cara membongkar dan menga­nalisis secara kritis hal yang dimaknai. Proses pemahaman makna tidak hanya karena ada proses oposisi atau diferensiasi (difference), tetapi karena ada proses “penundaan” hubungan antara penanda dan pertanda untuk menemukan makna yang baru. Proses penundaan hubungan inilah yang disebut Derrida sebagai proses dekonstruksi.

Dekonstruksi dipahami sebagai sebuah metode pembacaan untuk memahami sebuah teks secara lebih mandiri, tanpa didominasi pemikiran yang sudah tertanam dalam masyarakat. Dengan kata lain, dekonstruksi adalah strategi untuk mengurai teks: mulai dari struktur hingga medan pemaknaan demi mengungkap oposisi-oposisi hierarkis yang implisit dalam teks. Dengan demikian, dekonstruksi atau pembacaan dekonstruktif tidak menghancurkan makna sebuah teks, tetapi menghancurkan klaim bahwa satu bentuk pemaknaan terhadap teks lebih benar dari pada pemaknaan lain yang berbeda.

Sepak bola secara bahasa adalah teks yang pemaknaannya cenderung terpusat dan cenderung univokal. Sebagaimana yang sempat ditulis di atas, sepak bola adalah salah satu jenis olah raga di mana aturan dan teknis permainannya sudah tertancap dalam kepala setiap orang, hingga terkesan musykil untuk meredefinisi ulang maknanya. Lebih-lebih untuk menggugat permainannya.

Menu­rut Derrida, setiap satuan bahasa sejatinya selalu mengisyaratkan permainan bipolar di antara berbagai hal yang sebetulnya ambivalen dan terlalu kompleks untuk disederhanakan ke dalam satu bentuk penanda. Pembacaan dekonstruktif selalu diarahkan pada hubungan tertentu, antara apa yang dituntut dan apa yang tidak dituntut dari pola-pola bahasa yang digunakannya. Dengan demikian, pembacaan dekonstruktif menghasilkan makna yang polivokal (majemuk), yang sejatinya lebih tepat dinilai sebagai proses penafsiran dan bukan merupakan hasil yang sudah jadi. Dari sinilah tercipta peluang untuk membuka penafsiran yang lebih segar.

Melalui perspektif dekonstruksi tersebut, maka kemunculan 3sided Football dapat dijelaskan sebagai salah satu bentuk usaha untuk mengungkap ulang makna sepak bola tak hanya dari segi teknis, tetapi juga sebagai sebuah teks; sebagai sejumput bahasa.

Jika kita menilik pemaknaan Jorn dalam koridor dekonstruksi, 3sided Football adalah salah satu bentuk subversifisme yang tak hanya mengacu pada perlawanan terhadap hegemoni kapital, tetapi juga usaha pemberontakan atas kode-bahasa dalam kapitalisme. Inilah yang kerap kali luput dari para penganut paham Against Modern Football; bahwa prinsip kapitalisme tak hanya bergerak dalam azas materialisme, tetapi juga menggurita dalam bahasa yang justru lebih cepat merasuk ke dalam alam bawah sadar manusia.

Pun demikian, prinsip ini tidak berarti menganggap bahwa usaha para penganut paham Against Modern Football selama ini sia-sia. Sebagaimana prinsip dekonstruksi, ia hanyalah gerbang kemungkinan untuk membentuk sekaligus menelaah makna alternatif yang lain. Adalah sia-sia jika suatu makna dikatakan lebih tepat dibanding makna lain tanpa mencoba untuk mengurainya. Perdebatan tersebut tak ubahnya seperti pepesan kosong para alay yang kerap berseliweran di kolom komentar portal berita daring.

Pada akhirnya, 3sided Football bisa jadi akan terlupakan seiring dominasi sepak bola konvensional yang kian mengakar. Permainan ini, barangkali, baru akan diingat kembali ketika sepak bola telah dimainkan oleh para mutan, zombie, atau manusia bionik, dengan barisan suporter pemakan bangkai dan burung nazar elektrik yang berseliweran di atas langit nekropolis.

 

*) Tulisan ini sebelumnya sudah pernah dimuat di Fandomagz edisi ke-8. Ditayangkan kembali dengan perubahan seperlunya.

 

Komentar
Pemalas, penulis, pembangkang.