Satu Jiwa Persis, Tonggak Awal Anthem Klub Indonesia

Di pertandingan internasional, tentu kita akrab dengan national anthem atau lagu-lagu kebangsaan dari negara yang bertanding.

Menyanyikan lagu kebangsaan sebelum sepak mula dimulai telah menjadi aturan baku pertandingan internasional.

Akan tetapi, seiring waktu tak hanya di pertandingan internasional saja anthem dapat didengar.

Dinamika yang ada di kancah sepakbola lantas membawanya pada ranah pertandingan antarklub.

Contoh paling populer tentu saja anthem You’ll Never Walk Alone atau YNWA oleh fans Liverpool.

YNWA sebagai anthem, pada perkembangannya lebih dari sekadar lagu yang dinyanyikan sebelum sepak mula. Namun telah menjadi slogan, representasi, dan menjadi pemantik semangat penggawa The Reds yang beraksi di atas lapangan hijau.

Lewat YNWA pula, pemain Liverpool yang berlaga pada final Liga Champions 2004/2005 di kota Istanbul menjadi ‘kerasukan’.

Semangat nggetih-nya mampu menyamakan skor usai tertinggal tiga gol dari AC Milan sampai akhirnya menang di babak adu penalti guna mengondol trofi Si Kuping Besar ke Inggris.

Kejadian itu kemudian populer dengan sebutan Miracle of Istanbul. Sebuah peristiwa yang akan dipuja setiap masanya oleh suporter Liverpool dan YNWA menjadi salah satu alasan terjadinya keajaiban itu.

Tak beda jauh dengan Liverpool dan YNWA, di Indonesia ritus anthem juga kian populer. Satu yang menarik untuk dibahas adalah lagu Satu Jiwa sebagai anthem yang dinyanyikan Persis Fans (Pasoepati dan Surakartans).

Lagu ini biasanya dinyanyikan baik dinyanyikan sebelum atau sesudah Laskar Sambernyawa bertanding.

Cerita itu dimulai sekitar tahun 2013 kala Persis Fans pertama kali membawakan Satu Jiwa ke stadion.

Menariknya, Satu Jiwa merupakan lagu dari band celtic punk asal Solo, The Working Class Symphony. Band yang populer dengan sebutan TWCS itu mengaku bahwa lagu Satu Jiwa tidak diciptakan khusus sebagai anthem Persis.

Seperti penuturan Zoelham, vokalis TWCS sekaligus penulis Satu Jiwa di podcast Pagar Hijau Manahan. Awalnya ia menciptakan Satu Jiwa pada tahun 2010 sebagai lagu perekat persaudaraan di kalangan Sriwedari Bootbois, salah satu komunitas musik di Solo.

BACA JUGA:  Perwujudan Ambisi Riyad Mahrez

Lagu Satu Jiwa diciptakan oleh Zoelham sebelum ia membentuk band TWCS. Hingga dua tahun setelah dirilis TWCS, lagu ini lantas populer di panggung gigs dan akhirnya turut dibawakan Persis Fans ke stadion.

Itulah sejarah singkat lagu yang tak diciptakan secara khusus untuk Persis ini tetapi seiring waktu, ia justru sangat identik dengan Laskar Sambernyawa.

Cerita ini mengingatkan kita pada YNWA yang awalnya diciptakan di Amerika Serikat pada 1945.

Kemudian Gerry and the Pacemakers mengaransemen ulang YNWA di Inggris pada 1963. Karena kepopulerannya, YNWA akhirnya diadopsi Kopites sebagai anthem Liverpool hingga kini.

Sebagai lagu yang tak sengaja diciptakan khusus untuk sepakbola, keduanya, baik YNWA maupun Satu Jiwa, sama-sama menggunakan lirik yang universal.

Kedua lagu ini tidak memasukan unsur yang dekat dengan sepakbola tetapi punya makna yang dalam kala dikumandangkan suporter di tribun stadion.

Hingga kini, kedua anthem tersebut tetap menggunakan lirik asli tanpa digubah liriknya untuk memasukkan unsur yang dekat dengan sepakbola.

Soal Satu Jiwa, ada salah satu momen menarik yang membuatnya kian populer di kalangan lebih luas. Momen itu terjadi pada pertandingan bertajuk Tur Nusantara kala Tim Nasional Indonesia U-19 melawan tim Pra-PON Jawa Tengah di Stadion Manahan tahun 2014 silam.

Sebelum pertandingan, anthem Satu Jiwa diputar yang dibarengi dengan nyanyian oleh penonton yang mayoritas merupakan pendukung Persis.

Laga itu disiarkan di salah satu kanal televisi nasional. Indra Sjafri yang saat itu menjabat pelatih Timnas U-19 dibuat takjub oleh aksi tersebut.

Sesudahnya, sekitar tahun 2015-an, mulai bermunculan pula anthem-anthem dari tim lain di Indonesia.

Seperti PSIM dengan anthem Aku Yakin Dengan Kamu atau AYDK, dan PSS dengan Sampai Kau Bisa. Namun ada perbedaan yang cukup mencolok antara anthem-anthem baru tersebut dengan Satu Jiwa karena terdapat unsur sepakbola di dalam liriknya.

BACA JUGA:  Asa Tersisa di Pundak Saint-Maximin

Anthem kian populer setelah tim-tim besar di tanah air seperti Persija dan Persebaya juga memiliki ‘lagu kebangsaan’ yang masing-masing berjudul Persija Menyatukan Kita Semua dan Song For Pride. menciptakan lagu Persija Menyatukan Kita Semua dan Persebaya  “Song For Pride”.

Alhasil, pada saat ini anthem menjadi hal wajar dan bahkan wajib bagi klub-klub dengan basis suporter militan.

Dari runtutan waktu di atas, tak berlebihan jika saya menyebut Satu Jiwa yang dibawakan Persis Fans merupakan tonggak awal kemunculan anthem di Indonesia dan turut menginspirasi kelompok suporter lain untuk menciptakan hal serupa.

Walau sebetulnya, sebelum kemunculan Satu Jiwa di Solo, beberapa suporter sudah memiliki beberapa lagu yang juga dimaknai hampir sama dengan anthem seperti Satu Jiwa dari Persija dan Salam Satu Jiwa dari Arema.

Namun kedua lagu tersebut memiliki struktur yang lebih ringkas kala dibawakan di stadion dan kadang juga umum disebut sebagai chant saja kendati dalam beberapa kesempatan dinyanyikan pada akhir laga selayaknya anthem.

Hal tersebut jelas berbeda dengan Satu Jiwa dari Persis yang memiliki struktrur lagu yang lebih kompleks dan dibawakan mulai dari intro, verse, hingga bagian chorus.

Pada perkembangannya, pola lagu seperti Satu Jiwa dari Persis menjadi pakem lagu yang sering dibawakan suporter di awal maupun pengujung laga sebagai ritus yang kita sebut sebagai anthem.

Ritus ini pula yang membuat saya bersabar untuk tak segera meninggalkan stadion selepas laga dan tak pernah gagal membuat saya merinding sambil menahan air mata.

Sungguh, saya rindu untuk menyanyikannya lagi dari tribun stadion. Semoga pandemi cepat berlalu.

Komentar