Tangan-Tangan Kemenangan dalam Sepak Bola

Sebagai anggota tubuh manusia paling kuat, kaki menyimpan banyak kelemahan. Salah satunya mengenai kontrol.

Tidak seperti tangan, kaki manusia lebih sulit dikontrol. Baik kontrol kekuatannya, maupun akurasinya. Di banyak cabang olahraga tangan seperti bulu tangkis atau voli, kekuatan tangan kadang jadi poin lebih penting daripada akurasi.

Bukan karena akurasi tidak penting, akurasi tetaplah penting dalam olahraga tangan, hanya saja tangan manusia sudah didesain untuk memiliki keunggulan di sana.

Hal yang berlaku sebaliknya di olahraga sepak bola. Olahraga yang banyak mengandalkan kaki.

Sepak bola adalah olahraga yang akrab dengan kesalahan, olahraga yang banyak mengumbar blunder-blunder bodoh atlet-atletnya, dan olahraga yang membuat dominan bagi siapa pun tim yang mampu mengontrol kaki lebih baik.

Maka, kembali ke premis awal saya tadi; karena di balik kekuatan besarnya, kaki juga menyimpan kelemahan. Dan siapa pun yang mampu meminimalisir kelemahan kakilah yang akan punya kesempatan memenangkan pertandingan.

Akan tetapi, jika dengan kontrol kaki yang baik saja tidak cukup untuk mengalahkan tim lawan, maka terkadang Anda memerlukan tangan-tangan yang bisa mengalahkan kekuatan kaki-kaki lawan.

Dan jika bicara mengenai tangan dalam sepak bola, maka Anda tidak bisa untuk tidak menyebut “gol tangan tuhan” Diego Maradona. Tangan yang membantu si gempal menaklukkan raksasa Peter Shilton. Tangan yang membantu Argentina mengalahkan Inggris di Piala Dunia 1986.

Sekalipun sebagai penjaga gawang Shilton punya keistimewaan menggunakan tangan, namun penggunaan tangan yang tak terduga dari Maradona jelas membuatnya tidak perlu berbuat banyak. Itu kan pelanggaran, jadi tak perlu dirisaukan. Begitu mungkin pikir Shilton.

Sayang, Shilton lupa, bahwa sebagai anggota tubuh yang paling mudah dikontrol, tangan juga punya potensi untuk “disembunyikan” secepat kilat. Disembunyikan di balik rambut kriwil Maradona, hingga membuat wasit sampai tidak melihat bahwa ada kepalan tangan yang “menyundul” bola dan membuat Argentina mencetak gol.

Tangan yang sama juga menyelamatkan Uruguay dari kekalahan di perempat final Piala Dunia 2010. Dalam kemelut yang begitu ruwet pada detik-detik akhir babak perpanjangan kedua, bola mendadak melayang menuju mulut gawang Uruguay.

Gawat, Muslera sudah mati langkah. Pun dengan Luis Suarez yang sekalipun melompat ke arah yang benar, ia tidak bisa menyundul bola yang datang begitu cepat. Dan dalam tempo sekian milidetik, Suarez menggunakan akurasi tangannya untuk menghalau bola masuk ke gawang.

Suarez dikartumerahkan, Ghana dapat penalti. Kita tahu cerita selanjutnya, Asamoah Gyan gagal mencetak gol dan kemudian Uruguay melaju ke semifinal setelah menang drama adu penalti.

Tangan kemenangan Italia

Sebagai olahraga kaki, sepak bola tidaklah benar-benar hanya mengandalkan kaki. Sebuah pertandingan juga bisa ditentukan oleh tangan-tangan penjaga gawang.

BACA JUGA:  Semoga Musim Depan Tak Seburuk Ini, Persiba Bantul

Penyelamatan-penyelamatan brilian tidak jarang malah lebih menentukan daripada sundulan atau tendangan yang berujung gol kemenangan. Lagi-lagi, tangan bisa saja menentukan hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola.

Selain penjaga gawang, tangan pemain lain juga bisa menentukan. Seperti yang pernah ditulis Darmanto Simaepa “Tangan-Tangan Para Bek”, tangan juga berfungsi untuk memprovokasi keputusan hakim garis untuk mengangkat bendera tanda penyerang lawan masuk jebakan offside.

Tangan bisa berfungsi untuk menarik kaos pemain lawan, membuatnya hilang momentum, dan jadi lebih mudah diantisipasi. Dan tangan juga bisa berfungsi untuk merancang serangan mematikan ke jantung pertahanan lawan.

Itulah yang terjadi dengan laga antara Italia melawan Swedia pada pertandingan kedua Grup E  Piala Eropa 2016 (17/6). Italia seperti kehilangan cara untuk menembus benteng pasukan Viking pada babak kedua.

Setelah pada babak pertama Italia dikurung oleh Zlatan Ibrahimovich dan kawan-kawan. Allenatore Antonio Conte membuat perubahan brilian untuk mengubah keadaan.

Memasukkan Simone Zaza yang lebih punya mobilitas dibandingkan Graziano Pelle, mengganti Danielle De Rossi yang kehilangan kontrol kaki-kaki tuanya, dan merebut lahan di area tengah yang sempat dikuasai pria-pria Skandinavia pada babak pertama. Lahan untuk menciptakan ruang build-up yang cukup bagi Italia pun akhirnya sukses direbut.

Babak kedua pun berlangsung dengan intensitas yang terbalik. Inisiatif mendadak segera berubah. Florenzi dan Giaccherini di sisi kiri silih berganti mampu mengimbangi tusukan-tusukan Antonio Candreva di sisi kanan.

Eder dan Zaza tidak canggung mencari ruang agar lebih mudah mendapatkan bola. Di sisi lain, Ibrahimovich kehabisan akal karena aksesnya pelan-pelan terputus.

Dengan dominasi demikian, seharusnya Italia bisa segera menyelesaikan pertandingan. Sayangnya, menit demi menit berlalu, tapi bayangan kemenangan malah semakin meredup pelan-pelan.

Bahkan bayangan itu tidak lebih terang kala sundulan Marco Parolo hampir saja membuat bangku cadangan Gli Azzuri bersorak. Mistar gawang seolah jadi “tangan ketiga” Andreas Issakson yang menyelamatkan gawang Swedia. Bayangan poin satu pun perlahan mulai terlihat jelas.

Harus diakui, daripada memuji dominasi Italia, pertahanan Swedia di babak kedua sejatinya lebih patut untuk diacungi jempol. Sebab jelas tidak mudah ketika Anda menumpuk pemain di belakang, namun lawan Anda adalah para pemain-pemain yang terbiasa berlaga di kompetisi seperti Serie A.

Keadaan ini sebenarnya tidak menguntungkan, sebab bagi Zaza dan Eder, ruang kotak penalti yang sempit dengan banyak pemain lawan sejatinya adalah habitat asli keduanya.

Mereka sudah ditempa bertahun-tahun dengan situasi demikian dengan ramainya bek-bek Serie A di kotak penalti. Dan dengan keadaan yang “terlihat” menguntungkan Italia itu pun, pertahanan Swedia malah semakin kokoh dari waktu ke waktu.

Sampai kemudian, pada menit-menit jelang injury time terjadi situasi yang tak terduga. Bola liar keluar lapangan.

BACA JUGA:  Sepakbola Asia dan Segala Keunikannya

Lemparan ke dalam untuk Italia. Giorgio Chillieni segera mengambil bola. Di dekatnya ada Conte sedang memberi instruksi kepada pemain. Entah antara berjudi atau yakin, Chillieni melihat ada celah yang menguntungkan di garis depan. Ia lemparkan sejauh mungkin bola ke arah Zaza yang berlari.

Asal Anda tahu saja, lemparan ke dalam sering jadi mimpi buruk tak terduga bagi para bek. Sebab, selain mudah dikontrol akurasi lemparannya—karena menggunakan tangan—lemparan ke dalam juga punya keuntungan lain; yakni terbebas dari perangkap offside. Ini jelas semakin menyulitkan.

Akibatnya tidak main-main, sebab antisipasi paling masuk akal yang tersisa adalah menjaga kerapatan (kompaksi) dengan mengurung pemain yang berpotensi mendapatkan bola. Artinya, tindakan ini adalah perjudian karena mengorbankan struktur garis pertahanan.

Inilah yang pernah dikeluhkan Arsene Wanger kala tidak punya ramuan khusus mengantisipasi Rory Delap, pemain sayap Stoke City yang dikenal karena kemampuan uniknya: lemparan ke dalam yang lebih akurat daripada umpan panjang David Beckham.

Wenger bahkan sampai mengusulkan ide konyol untuk mengubah aturan “lemparan ke dalam” jadi “tendangan ke dalam” cuma gara-gara ketakutan dengan kemampuan Delap. Absurd memang.

Inilah yang terjadi dengan struktur pertahanan Swedia tadi malam (17/6). Hanya karena sebuah lemparan ke dalam, pertahanan Swedia mendadak kacau-balau.

Para bek Swedia lupa bahwa sekalipun dikurung, pelempar (Chillieni) tetap akan mampu membidik sasaran dengan tepat. Karena ia menggunakan tangan, anggota tubuh manusia yang didesain paling mudah dikontrol.

Benar saja, sekalipun dikurung ketat, bola tetap bisa melaju tanpa halangan berarti ke kepala Zaza. Dengan sekali sentuh, pemain Juventus ini memberikan bola kepada Eder yang berdiri di belakangnya.

Melihat bahwa struktur pertahanan Swedia sedang kacau, Eder melakukan drible cepat sebelum semua pemain bertahan Swedia mampu menyusun kembali temboknya.

Pemain Internazionale ini pun berlari diagonal mendekati gawang. Arah lari yang menyulitkan lawan. Sampai kemudian Eder menemukan celah dan waktu yang cukup untuk memberinya satu tarikan napas guna mengecangkan seluruh otot kakinya.

Di detik ketika seluruh otot kakinya sudah memperoleh kekuatan, Eder menedang kencang-kencang. Bola melesat masuk ke gawang Issakson yang kali ini tidak lagi dibantu oleh “tangan ketiga”-nya.

Gol kemenangan untuk Italia. Gol yang membuat Italia lolos dari babak grup. Gol yang lahir bukan dari skema dari kaki ke kaki, namun dari sebuah lemparan yang menghancurkan armada pertahanan pasukan Viking Swedia.

Lemparan yang menjadi saksi bahwa di sepak bola, Anda tidak harus selalu mengandalkan kaki untuk meraih kemenangan, namun bisa menggunakan tangan. Dan tangan itulah yang kemudian sukses memenangkan Italia.

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab